Sekilas Info: Nyeri Dada

marshel luntungan
Oleh : dr.Marshell Luntungan, SpJP FIHA Bagian/KSM Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, FK Unsrat / RSUP Prof.Dr.R.D.Kandou Manado

Nyeri Dada merupakan salah satu keluhan yang paling sering di alami oleh pasien ketika berobat ke dokter. Nyeri dada sangat di identikan dengan serangan jantung, namun pada kenyataannya tidak semua keluhan nyeri dada merupakan gejala dari serangan jantung. Adapun penyebab lain nyeri dada tersebut bisa akibat dari nyeri otot dan tulang dada, nyeri paska herpes zoster “munta ular”,  infeksi paru-paru, penyakit reflux asam lambung, batu empedu dan ansietas. Oleh karena itu dalam mendiagnosa apakah seseorang dengan keluhan nyeri dada merupakan gejala dari sebuah serangan jantung merupakan sebuah tantangan bagi seorang dokter.

Bagaimana ciri khas dari nyeri dada akibat serangan jantung?  Gejala khas nyeri dada pada penyakit jantung dapat berupa nyeri dada kiri seperi di tusuk, remas, berat, tertekan, tertindih, tercekik dan sering disertai dengan sesak napas, keringat dingin, mual dan gelisah, menjalar sepanjang lengan kiri sampai di jari kelingking, rahang bawah atau gigi dan tembus ke belakang dada. Lamanya nyeri bisa bervariatif dari 5 sampai 30 menit bahkan bisa terus menerus, dapat di picu oleh emosi, stress, kelelahan dan bisa juga pada saat istirahat, nyeri dada tersebut bisa berkurang dengan istirahat dan/atau pemberian obat nitrat.

Apakah informasi dari pasien sudah cukup dalam mendiagnosis sebuah serangan jantung? Informasi yang diberikan oleh pasien mengenai suatu gejala penyakit sebenarnya sudah cukup kuat bagi seorang dokter dalam mendiagnosis sebuah serangan jantung, namun pada beberapa kasus seperti pada penderita diebetes dan lansia, kadang-kadang pasien tidak memberikan keluhan nyeri dada kiri yang khas melainkan hanya berupa rasa tidak nyaman di dada, sehingga untuk lebih memastikan di perlukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG), enzim-enzim jantung,treadmill stress tes, USG jantung atau ekokardiografi, CT-scan dan kateterisasi jantung.

Baca Juga:  Apa Itu Gagal Jantung?

Mengapa bisa terjadi serangan jantung? Serangan jantung di sebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK), yaitu suatu keadaan dimana terjadinya penyumbatan subtotal atau total dari kolesterol dan atau bekuan darah pada 1 atau lebih pembuluh darah jantung sehingga otot-otot jantung mengalami kekurangan suplai darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi yang sangat penting bagi otot jantung, pada saat inilah tubuh memberikan sinyal berupa nyeri dada. Sehingga apabila sumbatan tersebut tidak segera di tangani maka otot-otot jantung tersebut akan mati dan jantung akan mengalami kegagalan dalam menjalankan fungsinya yaitu memompa darah keseluruh tubuh.

Siapa saja yang berisiko akan terjadinya penyakit jantung koroner? Pria dan wanita mempunyai resiko yang sama akan terjadinya penyakit jantung koroner, namun pada kaum wanita sebelum menopause masih relatif lebih aman karena adanya “perlindungan” hormonal. Gaya hidup masyarakat modern di yakini berperan penting akan meningkatnya risiko seseorang terkena PJK, seperti merokok, kurangnya aktifitas fisik dan pola makan yang tinggi garam, gula dan lemak yang juga berpengaruh terhadap tingginya angka hipertensi, obesitas dan diabetes. Hal-hal ini menyebabkan risiko terkena serangan jantung, dapat mencapai 2-4 kali lipat di bandingkan yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Namun perlu diingat bahwa penyakit jantung tidak secara langsung disebabkan oleh satu faktor saja melainkan terjadi karena interaksi berbagai faktor. Sering sekali pasien mempertanyakan dirinya yang telah berhenti merokok dan rajin berolahraga tetapi terkena serangan jantung sementara temannya yang masih merokok malah sehat-sehat saja. Ada faktor lain yang berperan di sini, contohnya metabolisme lemak dan kolesterol tiap-tiap orang berbeda, demikian pula kecenderungan genetis pembuluh darah seseorang untuk mengalami penyempitan juga berbeda. Sehingga saat ini kita lihat penyakit jantung terjadi pada usia yang semakin muda. Jika katakanlah 10 tahun yang lalu usia rata-rata pasien dengan serangan jantung adalah 65 tahun maka saat ini usia rata-rata tersebut adalah 50an tahun. Bahkan ada pasien serangan jantung dengan sumbatan total pada pembuluh darah koronernya yang berusia 20an tahun. Seseorang yang dengan riwayat keluarga kandung (artinya ibu, bapak, kakak dan adik. Bukan sepupu, oom, tante ataupun ipar, misalnya) ada yang mengalami penyakit jantung di usia kurang dari 55 untuk laki-laki dan 65 tahun untuk perempuan maka risiko untuk terkena penyakit jantung juga sedikit lebih tinggi, tapi tidak berarti bahwa anak pasti mendapatkan warisan penyakit tersebut dari orang tuanya

Baca Juga:  BREAKING NEWS: SMK Negeri 6 Manado Terbakar

Bagaimana data penderita penyakit jantung koroner di Indonesia pada umumnya dan Sulawesi Utara pada khususnya? Bedasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013 prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883.447 orang, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/gejala sebesar 1,5% atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang. Provinsi Sulawesi Utara sendiri berdasarkan diagnosis dokter estimasi jumlah penderita PJK sebanyak 11.892 orang (0,7%), sedangkan berdasarkan diagnosis/ gelaja, estimasi PJK sebanyak 28.880 (1,7%).

Apa sajakah pertolongan pertama yang dapat dilakukan saat serangan jantung? Bagi masyarakat awam tidak banyak yang bisa dilakukan pada saat serangan jantung kecuali CARI PERTOLONGAN SECEPATNYA. Panggil ambulans atau secepatnya ke RS terdekat. Bila orang yang mengalami serangan jantung memang sudah diketahui mempunyai sakit jantung dan membawa obat jantung, kita bisa berikan Aspirin (Aspilet, Aptor, Ascardia dll), Clopidogrel (Plavix, CPG dll) dan obat jenis Nitrat (ISDN, ISMN, Isosorbid, Cedocard, Cardismo, Farsorbid, Nitral dll), sambil mencari pertolongan. Apabila orang  tersebut pingsan, maka harus dilakukan resusitasi jantung paru (pijat jantung), yang membutuhkan pelatihan khusus yang sayangnya jarang dilakukan oleh orang awam. Bila tersedia Automated External Defibrillator (AED) yang sdh mulai tersedia di tempat umum, perlu dimanfaatkan saat resusitasi. Tahap selanjutnya apabila serangan jantung tersebut tidak bisa diatasi dengan pemberian obat-obatan maka akan dilakukan tindakan pemasangan cincin “ring” di dalam pembuluh darah jantung (Percutaneus Coronary Angioplasty (PTCA)) dengan tujuan agar sumbatan bekuan darah dapat di keluarkan dan atau di hancurkan sehingga aliran darah kembali lancar.

Baca Juga:  GSVL "Loncat" Ke Nasdem, DPP "Take Over" Demokrat Sulut

Bagaimana pencegahan akan terjadinya serangan jantung? Pola hidup sehat dan  mengontrol faktor-faktor risiko adalah kunci dari pencegahan terjadinya serangan jantung. Pola hidup sehat yaitu berhenti merokok, rajin berolah-raga, makan makanan sehat (rendah garam, lemak dan gula, tinggi serat) dan menghindari stress. Apabila seseorang menderita penyakit tekanan darah tinggi, diabetes,dan kolesterol diwajibkan menjaga dengan obat-obatan agar bisa berada dalam batas normal yaitu tekanan darah ≤140/90 mmhg, gula darah puasa ≤ 126 mg/dL, kolesterol total ≤ 200 mg/dL, LDL < 160 mg/dL.

SEHAT

Seimbang gizi Enyahkan rokok Hindari stress Awasi tekanan darah Teratur berolah raga