Mega Proyek Infrastruktur Jadi “TRIGGER” Pertumbuhan Ekonomi Sulut 2019

MANADO, MANADONEWS-  Berdasarkan data BPS pertumbuhan ekonomi kumulatif Sulut hingga triwulan III-2018 sebesar 6 01%. Menurut BPS pertumbuhan tersebut banyak didorong oleh proyek pemerintah, baik pusat dan daerah yg dipacu pada triwulan III.

Pengamat Ekonomi di Sulut Agus Tony Poputra kepada Manadonews.co.id via pesan berbasis data mengatakan bahwa, kontribusi sektor konstruksi yang berasal dari belanja pemerintah berlanjut ke triwulan IV-2018.

” Diperkirakan keseluruhan pertumbuhan ekonomi Sulut tahun 2018 berkisar 6,02-6,20% dengan mempertimbangkan peningkatan ekonomi pada saat Natal dan tahun baru serta penyelesaian proyek pemerintah.”ujar Tony sapaan akrab mantan Ekonom kepala regional atau regional chief economist (RCE) Bank BNI Manado itu.

Tony mengatakan bahwa Dengan memperhatikan PE sulut 2018 yang sangat banyak didorong oleh pembangunan infrastruktur terutama jalan diantaranya jalan ring road dan jalan Tol maka pertumbuhan tersebut dapat dikatakan cukup berkualitas karena infrastruktur menjadi pendorong PE di masa mendatang.”Aktivitas mega proyek infrastruktur masih menjadi Trigger pertumbuhan ekonomi Sulut pada tahun 2019 ini.”ujarnya.

Baca Juga:  Pjs Wali Kota Kotamobagu Menghadiri Rakornas Persiapan Pilkada Serentak

Namun kata dosen Fakultas Ekonomi Unsrat sejak tahun 1992 itu menjelaskan bahwa Pertumbuhan ekonomi di masa mendatang masih tergantung pada kesungguhan pemerintah dan masyarakat memanfaatkan infrastruktur terbangun utk kegiatan ekonomi. Apabila pembangunan bendungan Kuwil mulai direalisasikan tahun 2019, maka diperkirakan PE Sulut 2019 masih didominasi oleh mega proyek pemerintah. “Tantangan bagi dunia usaha Sulut ke depan adalah bagaimana memanfaatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan asing ke sulut menjadi sumber pendapatan riil masyarakat sulut.”ungkap alumni Unversitas Airlangga angkatan 89 itu menambahkan selama wisatawan asing masih banyak membelanjakan barang dan jasa yg bukan berasal dari produksi Sulut sehingga nilai tambah riil lebih banyak dirasakan pihak di luar Sulut.(nando)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *