Aktivis Lingkungan Gelar Aksi Tolak Alih Fungsi Kawasan Konservasi Tangkoko

Aktivis pencinta alam turun ke jalan menolak rencana alih fungsi kawasan konservasi Tangkoko menjadi kawasan lindung, Bitung, Senin (23/5/2016). Foto: Ist|FB
Aktivis pencinta alam turun ke jalan menolak rencana alih fungsi kawasan konservasi Tangkoko menjadi kawasan lindung, Bitung, Senin (23/5/2016). Foto: Ist|FB
Aktivis pencinta alam turun ke jalan menolak rencana alih fungsi kawasan konservasi Tangkoko menjadi kawasan lindung, Bitung, Senin (23/5/2016). Foto: Ist|FB

BITUNG, MANADONEWS – Solidaritas aktivis pencinta alam turun ke jalan menolak rencana alih fungsi kawasan konservasi Tangkoko menjadi kawasan lindung. Sekitaran 20 orang aktivis tersebut menggelar aksi di kota Bitung bertepatan dengan sosialisasi rencana perubahan kawasan konservasi Tangkoko yang diadakan di kantor Walikota Bitung, Senin (23/5/2016).

Aksi penolakan yang digelar dari pukul 11 hingga pukul 1 siang waktu setempat, menurut peserta aksi merupakan solidaritas sesama pencinta alam untuk menolak rencana alih fungsi hutan konservasi menjadi kawasan lindung yang sama saja melegalisasi perusakan Cagar Alam.

Bacaan Lainnya

Salah satu perwakilan peserta aksi menyatakan, sosialisasi yang diadakan pihak pemerintah tersebut terkesan tertutup karena tidak melibatkan masyarakat disekitar kawasan konservasi.

“Jadi tadi siang aksi bertepatan dengan ada sosialisasi tertutup pemerintah kota Bitung, yang dihadiri perwakilan BKSDA, Hukum Tua, Camat, Macaca Nigra Project, PPST dan lain-lain. Namun tidak melibatkan masyarakat seputar kawasan konservasi. Jadi kami melakukan aksi spontan, sesama pencinta alam untuk menolak alih fungsi hutan konservasi menjadi kawasan lindung.” urai Cindy Samiadji, salah satu perwakilan pencinta alam.

Baca Juga:  Kondisi 14 Tenaga Medis RSUD Kotamobagu Baik-baik Saja

Salah satu poin penting yang ditolak para pecinta alam ini apabila pengalihan fungsi ini sampai terealisasi. Akan di bangun jalan patroli sebagai jalan penghubung antara Kasuari dan Batu Putih. Menurut mereka jalan patroli tersebut hanyalah kedok dari rencana pembangunan geothermal di kawasan tersebut, dan tentunya akan membawa dampak kerusakan lingkungan dalam prosesnya.

Sebelumnya, wacana pengembangan energi panas bumi (geothermal) di sejumlah kawasan konservasi mendapat pertentangan dari banyak kalangan. Wacana yang digagas oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemprov Sulawesi Utara terungkap dalam workshop bertema Future of Tangkoko, Rabu (16/12/2015), seperti diberitakan Mongabay.co.id tertanggal 15 Desember 2015 lalu.

“Menolak segala bentuk pembangunan dalam kawasan Cagar Alam Tangkoko adalah harga mati. Dan solidaritas untuk Cagar Alam Tangkoko selalu terbuka lebar. Kapan-kapan PA harus main dan melawan bersama. Untuk sedikit tempat indah yang tersisa. Salam Satu Bumi.” tegas Cindy Samiadji, aktivis lingkungan yang akrab disapa Iin.

Para aktivis yang menggelar aksi di siang bolong ini juga membagikan selebaran sambil berorasi menyuarakan penolakan mereka. Beberapa diantaranya juga membentangkan spanduk bertuliskan “Alih Fungsi Kawasan Konservasi Menjadi Kawasan Lindung Sama Dengan Legalisasi Perusakan Cagar Alam,” ditambah tagar #idepenjahatlingkungan.

Dalam aksinya, para aktivis PA membentangkan spanduk yang berisi penolakan mereka terhadap rencana alih fungsi kawasan konservasi. Foto: Ist/FB
Dalam aksinya, para aktivis PA membentangkan spanduk yang berisi penolakan mereka terhadap rencana alih fungsi kawasan konservasi. Foto: Ist/FB

[ManadoNews]

Baca Juga:  Ketua IWO Sulut: Media Massa Wajib Publikasikan Penyelamatan Hutan

Pos terkait