Grasberg, Permata Terbesar dalam Mahkota Freeport

  • Whatsapp
Citra satelit kawah raksasa pertambangan Grasberg milik PT Freeport Indonesia. Sumber: Google Earth
Citra satelit kawah raksasa pertambangan Grasberg milik PT Freeport Indonesia. Sumber: Google Earth
Citra satelit kawah raksasa pertambangan Grasberg milik PT Freeport Indonesia. Sumber: Google Earth

TIMIKA, MANADONEWS – Papua diprediksi memiliki banyak cadangan kekayaan bahan galian berharga, temuan cadangan emas di sana telah menyilaukan masyarakat dunia. Tambang emas terbesar di dunia Grasberg, memiliki cadangan 29,8 juta troy ons bijih emas. Selain menyimpan emas, Grasberg terkenal dengan cadangan tembaga paling banyak ketiga di dunia.

“Grasberg merupakan penemuan permata paling besar dan berkilau dalam mahkota Freeport,” tulis komisaris PT Freeport Indonesia, George A Mealey, dalam buku Grasberg yang diterbitkan tahun 1996.

Bacaan Lainnya

Grasberg tidak hanya memukau sebagai ‘mahkota’ Freeport. Bertengger diatas ketinggian sekitar 4 ribu meter di atas permukaan laut, gunung bijih Grasberg ibarat kawah raksasa. Setelah dikeruk sejak 1988, gunung itu menganga dengan lubang besar berdiameter sekitar 4 kilometer dan kedalaman satu kilometer.

Hingga kini hanya Freeport yang menambang di Papua, pulau di Indonesia dengan kekayaan sumber daya mineral melimpah. Sebelum mengeksploitasi Grasberg, Freeport menambang emas dan tembaga di Erstberg sejak 1972. Penemuan dua kawasan ‘harta karun’ ini berkat jasa penjelajahan Jean Jacques Dozy pada 1936. Grasberg yang sudah dikelola Freeport selama puluhan tahun pun menjelma menjadi tambang emas terbesar di dunia.

Baca Juga:  SKPD Lingkup Keasistenan 1 Sulut Diharapkan Capai Target Anggaran 2018

Awal mula nama Grasberg

Adalah geolog muda kebangsaan Belanda, Jean Jacques Dozy, pada 1936 bersama rombongan kecil mengembara Papua atas prakarsa dan biaya sendiri. Tujuan utama Dozy adalah mendaki gletser Cartensz yang ditemukan Jan Cartenszoon pada 1623 saat menjelajah Papua.

Dozy penasaran dengan temuan Cartensz mengenai puncak gunung yang tertutup salju di Papua. Laporan Cartensz ini sempat menjadi bahan olok-olok karena dinilai mustahil ada gletser di kawasan khatulistiwa.

Ketika sedang menjelajah Cartensz ini, Dozy terpukau melihat pegunungan tanpa pepohonan atau tundra yang kemudian dia namakan Grasberg yang artinya Gunung Rumput.

Tak jauh dari Gunung Rumput, Dozy juga membuat sketsa batuan hitam kokoh berbentuh aneh, menonjol di kaki pegunungan setinggi 3.500 meter. Batuan hitam itu dia namakan Erstberg yang artinya Gunung Bijih.

Dalam penjelajahannya itu, Dozy juga mengambil batuan yang kemudian dikirim ke laboratorium. Hasil analisis serta penjelasan batuan diterbitkan dalam Jurnal Geologi Leiden tahun 1939. Pecahnya perang dunia membuat laporan itu tak mendapatkan perhatian.

Baca Juga:  TKI Divonis Mati di Malaysia, Pemerintah RI Lakukan Banding

Tambang Bawah Tanah

Setelah dikeruk hampir 30 tahun, cadangan emas dan tembaga di penambangan terbuka (open pit) Grasberg akan habis pada 2017. Freeport pun terus melanjutkan eksploitasi dengan menambang bawah tanah.

Ada tiga tambang bawah tanah yang akan menjadi masa depan Freeport, yakni Deep Ore Zone (DOZ), Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ).

Sejak 2010 tambang bawah tanah DOZ mulai beroperasi. Produksinya berupa bijih yang mengandung tembaga, emas, dan peraknya mencapai 60 ribu ton bijih per hari dengan puncaknya pernah mencapai 80 ribu ton bijih per hari.

Adapun Big Gossan yang saat ini produksinya sangat selektif dan tidak banyak. Sejak September 2015, tambang DMLZ dibuka. Setiap harinya, Freeport‎ mengolah sekitar 220 ribu -240 ribu ton ore atau bijih.

Freeport berniat memperpanjang kontrak kerja dengan pemerintah dan hingga kini belum ada kepastian apakah pemerintah memberikan perpanjang kontrak atau tidak.
CNN Indonesia

Pos terkait