WHO; Untuk Berantas Wabah Zika Dibutuhkan US$122 juta

Direktur Jenderal WHO Margaret Chan. Foto: REUTERS
Direktur Jenderal WHO Margaret Chan. Foto: REUTERS

JAKARTA, MANADONEWS World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa untuk mengatasi komplikasi akibat virus Zika yang mewabah di Benua Amerika, dibutuhkan dana hingga US$122 juta atau setara Rp1,6 Triliun. Pernyataan tersebut diumumkan oleh WHO pada Jum’at (17/6).

“Setidaknya dibutuhkan dana sebesar US$122 juta untuk mengimplementasikan semua rencana penanggulangan masalah Zika agar bisa sepenuhnya teratasi pada Desember 2017 nanti,” kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan seperti dilansir CNN Indonesia.

“Dunia membutuhkan mekanisme pembiayaan koheren untuk mengatasi Zika,” kata Chan, yang menambahkan, saat ini pendonor biaya kasus darurat kesehatan global tersebut sudah meningkat menjadi 60 negara dari 23 negara, pada Februari 2016.

WHO merupakan salah satu badan yang didirikan oleh PBB pada 7 April 1948, dan bermarkas di Jenewa, Swiss. Sesuai dengan namanya organisasi kesehatan dunia ini bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional. Salah satunya, dalam penanganan kasus Zika, WHO bekerjasama dengan Pan American Health Organization (PAHO).

WHO juga menyebutkan bahwa dibutuhkan perhatian khusus pada wanita dan remaja yang sudah memasuki usia mengandung, agar terhindar dari bahaya Zika. Virus yang disebabkan infeksi nyamuk Aedes aegypti di Benua Amerika tersebut dikaitkan dengan cacat lahir, sejak kasus mikrosefalus merebak di Brasil, yang paling parah terkena epidemi Zika.

Baca Juga:  Konsolidasi Partai Kecamatan Mandolang, Taroreh: Kembangkan Semangat Gotong Royong

Cacat lahir tersebut ditandai dengan kepala bayi yang berukuran lebih kecil dari normal dan bisa menyebabkan gangguan perkembangan anak. Pemerintah Brasil mengonfirmasi terdapat lebih dari 1400 kasus mikrosefalus pada bayi yang ibunya positif terinfeksi Zika saat hamil.

Kamis (16/6), Badan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melaporkan terdapat tiga bayi yang lahir dengan cacat fisik, dan berkaitan dengan infeksi Zika. Selain itu, terdapat juga tiga kasus keguguran akibat Zika.

Margaret Chan mengatakan pihaknya mempelajari Zika secara mendetail, mulai dari cara penyebaran, konsekuensi infeksi dan bagaimana cara mengontrol epidemi tersebut. WHO bahkan telah mengumumkan Zika merupakan kasus darurat kesehatan global pada Februari lalu.

“Respons yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan tindakan terintegrasi, khususnya yang mendukung wanita dan remaja usia mengandung agar terhindar dari bahaya Zika,” tutur Chan, dalam pernyataan resmi.

Selain itu, Chan juga menyebutkan bahwa epidemi Zika membutuhkan usaha kolaboratif dari pemerintah di seluruh dunia. Hal tersebut termasuk kampanye global akan bahaya Zika dan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor virus. Selain itu, peningkatan imunitas masyarakat di daerah rawan epidemi Zika, ketersediaan dan akses vaksin, kesiapan tenaga medis dan fasilitas uji laboratorium juga merupakan hal penting.

Baca Juga:  Wagub: Jangan Bosan Promosikan Pariwisata Sulut

[CNN Indonesia]

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
3307 votes

This will close in 10 seconds