PM Inggris Ajak Warganya Menolak Keluar Dari Uni Eropa

  • Whatsapp
Perdana Menteri Inggris David Cameron. Foto: eu-academy.eu
Perdana Menteri Inggris David Cameron. Foto: eu-academy.eu
Perdana Menteri Inggris David Cameron. Foto: eu-academy.eu

LONDON, MANADONEWS Perdana Menteri Inggris David Cameron, kemarin (22 Juni 2016) berkeliling Inggris untuk mengingatkan penduduknya agar menolak keluar dari Uni Eropa. Rencana untuk keluar dari blok 28 negara Eropa itu dikenal sebagai Referendum Brexit _diambil dari kata Britain-Exit, sebuah referendum bersejarah yang akan digelar hari ini, Kamis, 23 Juni 2016.

Pada kampanye terakhir yang digelar Rabu malam, perdana menteri asal Partai Konservatif itu dengan berapi-api meminta masyarakat menolak “kebohongan” dari kampanye Brexit. Ia memohon kepada para pemilih untuk “menempatkan ekonomi menjadi yang utama”.

Bacaan Lainnya

Seperti dikutip Tempo dari media asal Inggris, The Guardian, dalam kampanye yang diadakan di Birmingham tersebut, hadir pula dua mantan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown dan Sir John Major; pemimpin Partai Liberal Demokrat, Tim Farron; serta anggota parlemen dari Partai Hijau Inggris, Caroline Lucas. Mereka tergabung dalam koalisi antarpartai yang menolak Brexit.

Baca Juga:  Hari Ini Dua Pasien Covid-19 Asal Kotamobagu Dinyatakan Sembuh

Di sisi lain, kemarin mantan Wali Kota London, Boris Johnson, berkeliling Inggris untuk mengkampanyekan Brexit. “Keputusan penting di negeri ini dibuat oleh pejabat yang tidak diketahui oleh orang,” ujar Johnson dalam kampanyenya di Ashby.

Politisi Konservatif menambahkan, “Jika kita memilih untuk pergi, kita dapat mengontrol kembali demokrasi dan kebijakan imigrasi kita.”

Menurut lansiran The Guardian, jajak pendapat terakhir yang dilakukan konsultan riset asal London, Comres, menunjukkan 48 persen warga memilih tetap di Uni Eropa, 42 persen memilih untuk keluar dari Uni Eropa, sedangkan 11 persen lainnya masih ragu-ragu.

Berdasarkan jajak pendapat ini, Inggris diperkirakan akan tetap bertahan di Uni Eropa.

[Tempo | The Guardian]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *