Apa dan Bagaimana Trombositosis Esensial Itu?

Linda RottyProf.dr. Linda Rotty, SpPD-KHOM, FINASIM

Koordinator Program Studi Pendidikan Spesialis-1 Ilmu Penyakit Dalam,

Bagian/KSM Ilmu Penyakit Dalam,

 Fakultas Kedokteran UNSRAT/RSUP Prof dr. RD Kandou Manado

Trombositosis esensial (TE) atau trombositosis primer adalah peningkatan jumlah trombosit (keeping-keping darah) yang merupakan salah satu dari kelainan mieloproliferatif berupa kelainan klonal dari stem sel hemapoietik multipotensial yang ada di sumsum tulang. Trombositosis esensial pertama kali dilaporkan oleh Guglielmo tahun 1920 dan selanjutnya Epstein dan Goedel pada tahun 1934 dengan sebutan trombositemia hemoragik dan Dameshek mengklasifikasikan trombositosis esensial ke  dalam penyakit mieloproliferatif pada tahun 1951.

Angka kejadian TE diperkirakan mencapai 1-2,5 per 100.000 penduduk dengan rasio perbandingan antara laki-laki dan perempuan yaitu 1:2. Dapat terjadi pada semua umur tapi  terbanyak ditemukan pada usia 50-60 tahun dan. Di Indonesia sampai saat ini belum ada data mengenai angka kejadian TE .

Sampai saat ini penyebab TE masih belum diketahui dengan pasti tetapi diduga adanya gangguan klonal yang berupa mutasi gen Janus Kinese 2 (JAK2) dan myeloproliferative leukemia gene (MPL).

Diagnosis TE ditegakkan dengan menggunakan kriteria WHO tahun 2008 dengan adanya trombositosis nonreaktif yang persisten dan tidak ditemukannya gejala-gejala keganasan mielodisplasia lainnya.

Penanganan trombositosis esensial meliputi penanganan non farmakologis seperti mengurangi faktor-faktor risiko antara lain hipertensi, penyakit jantung, diabetes, merokok, hiperkolesterol, obesitas dan pengobatan farmakologis yang bertujuan untuk mengurangi kejadian trombosis.

Apa Saja PENYEBAB TROMBOSITOSIS ESENSIAL ?

Penyebab dari TE masih belum diketahui dengan pasti. Salah satunya adalah mekanisme molekuler yang menyebabkan produksi berlebihan dari sel darah matur (tua) bersama-sama dengan penyakit mieloproliferatif lainnya seperti leukemia mielositik kronik, polisitemia vera dan mielofibrosis dengan adanya metaplasia mieloid dari lien. Penelitian lain menunjukkan pada sebagian kecil penderita ditemukan adanya kecenderungan yang terkait dengan keturunan, dimana keturunan yang spesifik mewarisi gen JAK2, selain itu diketahui juga mutasi MPL memiliki peran penting pada terjadinya TE.

Bagaimana EPIDEMIOLOGInya ?

 Kejadian TE adalah 1 : 2,5 dalam 100.000 populasi dan lebih banyak ditemukan pada wanita. Pada analisis sel darah wanita yang memiliki TE ditemukan heterozigot untuk isoenzim dari glukosa-6-fosfat dehydrogenase yang menunjukkan bahwa trombosit, eritrosit, dan netrofil mempunyai isoensim tipe tunggal ini.

Pada penelitian yang dilakukan di klinik Mayo ditemukan usia rata-rata penderita adalah 57 tahun dengan angka kejadian pada wanita sebanyak 66%. Penyakit ini jarang ditemukan pada anak-anak. Penelitian juga menunjukkan ada keterkaitan yang erat antara penyakit ini dan riwayat keluarga.

Baca Juga:  Ini Kata Bupati Yasti Terkait Tujuan Dibangunya UPTD Puskemas Pusian

Apa Saja GAMBARAN KLINIKnya ?

Sebagian besar kasus TE tidak bergejala dan ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin darah lengkap. Keadaan tanpa gejala dapat terjadi pada pasien dengan umur kurang dari 60 tahun yang memiliki trombosit diatas 1.500.000/uL. Karena gejaltidak ada gejala, sering penderita masuk rumah sakit sudah dengan perdarahan atau trombosis (terbentuknya bekuan trombosit pada pembuluh darah vena atau arteri yang menyebabkan penyumbatan sehingga aliran darah tidak lancar).

Empatpuluh persen penderita menunjukkan gejala vasomotor seperti gangguan penglihatan, sakit kepala, palpitasi (jantung berdebar), nyeri dada yang tidak khas, pusing, eritromelalgia, livedo reticularis, dan paraestesi pada akral.

Trombosis merupakan gejala tersering dan menyebabkan kematian terbesar pada kasus-kasus trombositosis esensial. Trombosis diduga disebabkan karena peningkatan massa trombosit disertai hiperagregabilitas trombosit., aktivasi hemostasis oleh lekosit polimorfonuklear . Umur lebih dari 60 tahun atau adanya riwayat penyumbatan pembuluh darah merupakan faktor predisposisi terbesar terjadinya trombosis. Fakor predisposisi lainnya yaitu berupa gangguan kardiovaskular, lekostasis (jumlah lekost yang tinggi), dan peningkatan fibrosis pada sumsum tulang.

 Gangguan pada sistem saraf pusat seperti stroke, transient ischemic attack dan gangguan pada sistem kardiovaskular antara lain infark miokard (serangan jantung mendadak), angina pektoris (nyeri dada) yang tidak stabil, serta penyumbatan arteri perifer merupakan gejala predominan akibat trombosis pada arteri. Eritromelalgia merupakan sindroma klinikopatologi akibat dari oklusi pada pembuluh darah kecil yang ditandai dengan eritematosa (kemerahan), nyeri hebat dan rasa terbakar pada tangan atau kaki yang terkena sebagai akibat dari interaksi abnormal dari trombosit dan endotel. Emboli paru dan trombosis vena dalam merupakan gejala tersering pada oklusi (penyumbatan) vena.

Perdarahan pada hidung, mukosa bukalis, dan gastrointestinal yang serius jarang terjadi dibandingkan  dengan terjadinya trombosis. Perdarahan dapat terjadi kira-kira 7 tahun setelah penderita mengalami trombositosis esensial, dan jarang mengancam nyawa. Perdarahan dapat muncul bersamaan dengan pembedahan. Penelitian kohort retrospektif menunjukan bahwa kadar trombosit lebih dari 1000 x 109/L sering menyebabkan perdarahan mukosa dan saluran cerna.  Perdarahan diduga disebabkan karena terganggunya fungsi trombosit (defek kualitatif ) atau pembekuan darah terhambat karena trombositosis.

Nyeri kepala merupakan manifestasi klinik tersering. Patofisiologi nyeri kepala pada trombositosis esensial masih belum jelas dan bisa terjadi kesalahan diagnosis dengan migran. Diplopia dan penglihatan kabur yang reversibel merupakan tanda tersering adanya oklusi pada arteri.

Baca Juga:  Pemkab Bolsel dan BSGo Tandatangani Kerjasama Pengelolaan Kas Umum 2020

Apa Saja GAMBARAN LABORATORIUM yang bisa ditemukan ?

Pada TE didapatkan peningkatan jumlah trombosit yang bervariasi dari sedikit di atas normal sampai beberapa juta/mm3. Pada beberapa penderita ditemukan anemia ringan dan leukositosis. Pada pemeriksaan Sumsum tulang ditemukan hiperplasia megakariosit, kadang-kadang disertai hiperplasia granulosit atau eritrosit, dan retikulin meningkat. Pada 40 % penderita ditemukan LAP ( leucocyte alkaline phosphatase ) yang meningkat, 25% penderita ditemukan LDH dan asam urat meningkat . Pseudohiperkalemi dapat terjadi akibat pelepasan kalium intraseluler dari trombosit dan lekosit selama proses pembekuan in vitro, Trombopoetin normal atau meningkat, Kadar interleukin-6 dan CRP rendah, Pada < 20% penderita ditemukan pemanjangan waktu perdarahan , Abnormalitas agregasi trombosit dapat terjadi akibat penurunan respon agregasi terhadap kolagen, ADP dan asam arakhidonat (didapatkan pada kurang dari 1/3 kasus), menghilangnya respon trombosit terhadap epinefrin atau hiperagregabilitas

Bagaimana Kehamilan dengan Trombositosis Esensial ?

            Kehamilan dengan TE sangatlah berisiko tinggi karena dapat memperberat terjadinya trombosis. Risiko perdarahan pada wanita hamil dengan TE cukup rendah, kecuali bila bersama dengan penyakit von willebran’s. Pada trimester pertama dapat mengalami keguguran dalam satu hingga tiga minggu kehamilan. Retardasi pertumbuhan intra uterin, kelahiran prematur dan kelainan plasenta murupakan manifestasi tersering pada kehamilan dengan TE.  Infark mikro pada plasenta dapat terjadi dikarenakan meningkatnya jumlah platelet dan aktivasi platelet, hal ini menjadi dasar patalogis yang terjadi pada janin. Tingkat kelahiran hidup pada bayi rendah mencapai 50-57%. Pada beberapa kasus, penurunan platelet secara spontan bisa dimulai pada trimester pertama kehamilan.

Apakah Bisa Terjadi TRANSFORMASI MIELOFIBROSIS ?

            Transformasi mielofribrosis (perubahan kearah mielofibrosis) dapat terjadi pada penderita TE. Evolusi ini dapat dideteksi awal dengan terjadinya pembesaran limpa dan pada hapusan darah menunjukan gambaran lekoeritroblastik serta pada biopsi sumsum tulang menunjukan adanya mielofibrosis atau kelainan yang spesifik dari pematangan megakariosit. Jika perkembangan ke arah leukemia mielositik kronik dapat di deteksi adanya kromosom philadelpia pada sumsum tulang dan di temukan BCR/ABL positif pada darah perifer.

Bagaimana DIAGNOSISnya ?

            Trombositosis esensial dikarakteristik dengan adanya trombositosis non-reaktif yang persisten. Diagnosis TE dapat ditegakkan dengan mengeluarkan penyebab peningkatan trombosit lainya.

Baca Juga:  Pilkada Minut 2020: Joune Ganda Tertinggi Hasil Polling

Kriteria diagnosis trombositosis esensial

        I.            Jumlah trombosit > 600.000/mm3
      II.            Hematokrit < 0,46 atau massa eritrosit normal (laki-laki <36 ml/kg, wanita <32 ml/kg)
   III.            Cadangan Fe sumsum tulang normal (dengan pewarnaan) atau serum ferritin normal atau MCV (mean corpuscular volume) normal
    IV.            Tidak didapatkan kromosom Philadelphia atau mutasi bcr/abl
      V.            Fibrosis kolagen pada sumsum tulang:

§  tidak ada atau

§  kurang < 1/3 area biopsy, tanpa disertai splenomegali yang menonjol dan reaksi lekoeritroblastik

    VI.            Tidak didapatkan kelainan morfologi atau sitogenetik sindroma mielodisplasia
 VII.            Tidak didapatkan penyebab trombositosis reaktif.

Sumber:Barbui T. What is the standard treatment in essenssial thrombocythemia. International journal of hematology. Supplement II 2002;76:311-1

Apa Saja DIAGNOSIS BANDING ?

Untuk mendiagnosis TE perlu menyingkirkan penyakit-penyakit dengan peningkatan trombosit lainnya.

Trombositosis esensial dapat didiagnosa banding dengan:

  1. Trombositosis reaktif

Trombositosis reaktif terjadi dikarenakan peningkatan level trombopoietin endogen, interleukin-6, dan sitokin lainnya, atau katekolamin yang dapat meningkat pada saat terjadi inflamasi, riwayat splenektomi, regenerasi sumsum tulang yang kronik, atau kondisi keganasan bahkan pada keadaan stress.

  1. Trombositosis familial

Merupakan kelainan dominan autosomal dimana dapat meningkatkan fungsi mutasi pada gen trombopoietin yang dapat menyebabkan produksi yang berlebihan dari trombopoietin dan ditandai dengan  peningkatan dari trombosit dan jumlah plasma.

  1. Trombositosis yang berhubungan dengan sindroma mielodisplasia

Pada hemogram, mielogram dan pemeriksaan sitogenetik didapati tanda yang khas untuk sindroma mielodisplasia. Beberapa penderita sindroma mielodisplasia dan anemia sideroblastik dapat juga terjadi mutasi pada JAK2.

Bagaimana PENATALAKSANAANnya ?

            Penatalaksanaan TE meliputi penanganan nonfarmakologis dan farmakologis yang bertujuan untuk mencegah komplikasi trombohemoragik serta terjadinya transformasi mielofibrosis.

Nonfarmakologis

            Penatalaksanaan nonfarmakologis pada TE difokuskan untuk mengurangi dan mengontrol faktor-faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, merokok, hiperkolesterol, penyakit kardiovaskular dan obesitas. Modifikasi gaya hidup merupakan tindakan pencegahan yang dapat membantu mengurangi risiko trombohemoragik.

Farmakologis

Tujuan penanganan farmakologis pada TE menurut WHO adalah menurunkan jumlah trombosit dibawah 400.000/ml dikarenakan angka harapan hidup hampir normal.

Pengobatan pada TE meliputi reduksi mekanis (pengurangan) dari jumlah trombosit dengan menggunakan plateletpheresis (pada fase akut), agen mielosupresi (alkylating agents, hydroxyurea, atau radiophosphorus), maturation modulators (interferon alfa atau anagrelide) dan agen anti agregasi trombosit.

“Semoga Bermanfaat”

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
1011 votes

This will close in 10 seconds