Apa itu Herpes Simpleks pada Anak?

  • Whatsapp

dr. Nurdjannah Jane Niode, SpKK, FINSDV, FAADV

Bagian/KSM Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, FK Unsrat/RSUP Prof. dr. R. D. Kandou, Manado

Bacaan Lainnya

 

ANAK merupakan buah hati tercinta yang selalu ingin kita jaga kesehatannya. Untuk itu, alangkah baiknya bila kita mengenal berbagai penyakit yang dapat mengenai mereka, salah satunya adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus yaitu herpes simpleks.

Apakah herpes simpleks itu?

Herpes simpleks (HS) adalah penyakit infeksi karena virus herpesviridae yaitu Herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1) dan tipe 2 (HSV-2) yang dapat menyerang kulit maupun saraf. Kejadian infeksi HSV-1 meningkat dengan bertambahnya umur, kebanyakan terjadi pada bayi dan anak-anak, penularan terutama melalui kontak dengan saliva yang terinfeksi. Infeksi HSV-2 umumnya terjadi melalui hubungan seksual, sehingga lebih jarang dijumpai pada anak, akan tetapi dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya pada saat kehamilan, intra-partum, dan pasca-partum.

Terdapat dua bentuk infeksi herpes simpleks yaitu infeksi primer dan infeksi rekurens. Infeksi primer dialami oleh individu yang belum memiliki antibodi dalam sirkulasi, terjadi akibat kontak langsung dengan lesi atau sekret yang terinfeksi. Setelah masa inkubasi yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu, dapat terjadi beberapa tipe infeksi yaitu infeksi subklinis yang ditandai dengan pembentukan antibodi tanpa disertai manifestasi klinis, erupsi kulit lokalisata atau generalisata, maupun infeksi sistemik dengan keterlibatan sistim saraf pusat atau infeksi diseminata. Infeksi HS rekurens terjadi pada individu yang telah terinfeksi sebelumnya baik secara klinis maupun subklinis. Infeksi ini ditandai dengan episode berulang dari lesi mukokutan pada daerah yang sama maupun berbeda.

Bagaimana epidemiologi herpes simpleks?

Sekitar 1/3 anak terinfeksi HSV-1 pada umur 5 tahun dan kebanyakan tidak menunjukkan gejala atau mengalami gejala ringan. Infeksi jarang terjadi pada usia kurang dari 6 bulan oleh karena berkaitan dengan transfer pasif antibodi maternal. Secara global, prevalensi infeksi HSV-1 meningkat sesuai umur, terdapat 40% kasus pada umur 15 tahun dan 60-90% kasus pada usia dewasa. Di Amerika Serikat, prevalensi infeksi HSV-1 meningkat sejalan dengan pertambahan umur, terdapat 26,3% kasus pada anak 6-7 tahun dan 36,1% kasus pada anak 12-13 tahun, serta 90% pada usia di atas 70 tahun.

Infeksi HSV-1 terutama terjadi di daerah ekstragenital sedangkan infeksi HSV-2 pada daerah anogenital. Meskipun demikian, pada beberapa penelitian ditemukan bahwa infeksi HSV-2 juga banyak terdapat di daerah ekstragenital dan sebaliknya infeksi HSV-1 pada anogenital. Infeksi HSV-2 terutama terjadi melalui hubungan seksual, sehingga jarang ditemukan pada anak. Infeksi HSV dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya selama kehamilan. Sekitar 70% infeksi neonatal disebabkan oleh HSV-2 dan 30% oleh HSV-1. Insidensi infeksi intrauterin adalah 1 dari 100.000 kelahiran. Lebih kurang 85% bayi terinfeksi dari ibunya saat intra-partum, 10% saat pasca-partum, dan 5% saat intrauterin.

Bagaimana gambaran klinis herpes simpleks?

Baca Juga:  Eman Jabat ketua Panitia Peluncuran alkitab Bahasa Toumbulu

Gambaran klinis HS bergantung pada lokasi infeksi dan dipengaruhi oleh kekebalan tubuh pejamu.   

  1. Herpes ginggivostomatitis primer

Infeksi ini merupakan manifestasi klinis infeksi HSV primer pada anak yang paling sering ditemukan, biasanya berkaitan dengan HSV-1. Mulanya, terdapat malaise dan demam, kemudian timbul vesikel multipel pada palatum durum dan palatum mole, gusi, bibir, mukosa bukalis, lidah, dasar mulut dan faring. Dapat timbul lesi di perioral yang kemudian meluas sampai ke mulut. Vesikel akan berkembang menjadi ulkus dengan dasar eksudat kekuningan dan membentuk halo eritematosa. Beberapa lesi dapat berkonfluens. Dapat terjadi limfademopati servikal dan halitosis. Anak yang lebih kecil dapat mengalami hipersalivasi. Bibir dan gusi bengkak kemerahan serta mudah berdarah apabila tersentuh. Anak menjadi rewel, tidak mau makan dan minum karena nyeri. Pada anak yang lebih besar, dapat terjadi tonsilitis atau faringitis posterior dengan lesi ulserasi pada faring, tonsil, dan mukosa bukalis. Terdapat demam yang berlangsung selama 2-7 hari, kemudian mereda. Lesi oral dapat menetap dalam 2-3 minggu.

  1. Herpes ginggivostomatitis rekurens

Infeksi rekurens lebih sering terjadi di bibir, dikenal dengan istilah cold sores. Lokasi yang khas pada vermillion border bibir. Lesi lebih ringan dan terlokalisasi, serta penyembuhannya lebih cepat. Gejala prodromal lokal seperti iritasi, kesemutan, nyeri, mati rasa dan rasa terbakar terjadi kurang dari 6 jam sebelum lesi muncul. Timbul eritema diikuti papul dan vesikel. Vesikel pecah dalam waktu 2-3 hari, meninggalkan ulkus yang kemudian mengering membentuk krusta. Penyembuhan biasanya terjadi dalam 6-10 hari. Gejala konstitusi seperti demam jarang terjadi, namun pada lesi HSV rekurens, banyak dilaporkan perubahan emosi pada anak-anak. Beberapa faktor yang berperan terhadap terjadinya reaktivasi adalah sinar ultraviolet, trauma lokal, angin, infeksi bersamaan, prosedur pembedahan/tindakan lokal, stres dan menstruasi.

  1. Herpetic whitlows

Herpetic whitlows cenderung terjadi pada anak kecil dengan infeksi HSV primer gingivostomatitis akibat autoinokulasi dari jari/mengisap jempol. Autoinokulasi dapat terjadi pada anak yang lebih besar karena kebiasaan menggigit kuku. Pada remaja, lesi yang timbul kemungkinan berkaitan dengan infeksi genital primer. Lokasi yang paling sering terkena adalah jari. Anak dengan infeksi primer dari inokulasi eksogen biasanya menunjukkan gejala yang berat, disertai demam dan diikuti gejala konstitusi. Terdapat nyeri akut, kemerahan, dan bengkak. Daerah yang terinfeksi awalnya eritema dan bengkak kemudian timbul vesikel, berkembang menjadi pustul dan akhirnya pecah. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening epitroklear dan aksila disertai nyeri. Resolusi spontan dapat terjadi dalam 18-20 hari. Rekurensi biasanya tidak parah, terjadi pada sekitar 20% kasus dengan lama sakit yang lebih singkat dibandingkan infeksi primer, biasanya selama 7-10 hari. Terdapat gejala prodromal berupa perih, nyeri tekan, gatal, rasa terbakar yang biasanya berlangsung dari beberapa jam sampai 3 hari.

  1. Herpes genital

Infeksi HSV genital dapat terjadi pada remaja yang telah melakukan hubungan seksual. Penyebab tersering adalah HSV-2, meskipun dapat pula disebabkan oleh HSV-1.  Pada anak kecil, infeksi HSV genital terjadi karena autoinokulasi dari herpetik digital, ginggivostomatitis, orang tua dengan herpetik digital rekuren, kontak fisik non-seksual ataupun kekerasan seksual. Pada anak kecil, sangat diperlukan pemeriksaan yang cermat untuk mencari sumber penularan serta kemungkinan adanya kekerasan seksual pada anak.

Baca Juga:  Diterima Walikota Lumentut, MNC Group Sematkan Label 'Kota Paling Toleran' untuk Kota Manado

Masa inkubasi berlangsung selama 2-7 hari. Mulanya tampak satu atau lebih papul eritema kecil yang gatal kemudian berkembang dengan sangat cepat menjadi vesikel. Setelah 3-5 hari, vesikel pecah menjadi ulkus dangkal berkrusta yang nyeri. Gejala lain dapat muncul seperti nyeri, gatal, demam, disuria, duh vagina atau uretra, malaise, sakit kepala, mialgia, parestesi, herpetik whitlow, dan meningitis meskipun lebih jarang. Perlangsungan penyakit biasanya berlangsung selama 2-3 minggu. Komplikasi yang terjadi berupa infeksi bakteri dan retensi urin.

Rekurensi lebih sering terjadi pada infeksi HSV-2 dibandingkan HSV-1. Gejala lebih ringan, perlangsungan penyakit lebih singkat, dan biasanya tanpa disertai manifestasi sistemik. Komplikasi jangka panjang infeksi HSV genital rekuren yaitu dapat terjadi transmisi HSV pada neonatus dan risiko terinfeksi HIV. Infeksi genital dapat pula menimbukan dampak psikologi bagi penderitanya

  1. Infeksi herpes simpleks virus diseminata

Meskipun sangat jarang, tetapi pernah dilaporkan infeksi HSV diseminata pada anak-anak. Faktor predisposisi meliputi malnutrisi protein kronis, infeksi seperti campak, pertusis dan Haemophilus influenzae, keadaan imunokompromais, dan neonatus. Gangguan kulit seperti penyakit Darier, iktiosis vulgaris, kulit terbakar, eritroderma kongenital iktiosiform, inkontinensia pigmenti dan pemfigus foliaseus dapat juga menjadi faktor predisposisi. Infeksi diseminata dapat mengenai hati, paru, adrenal, pankreas, usus, ginjal, sumsum tulang dan susunan saraf pusat yang biasanya berkaitan dengan lesi kulit yang luas.

  1. Keadaan imunokompromais

Anak-anak dengan defisiensi imunitas primer terutama imunitas selular, keganasan, sedang menjalani terapi sitotoksik, leukemia atau AIDS sangat rentan terhadap HSV. Infeksi HSV biasanya terjadi karena reaktivasi virus. Spektrum penyakit mulai dari lesi yang bersifat lokal, berlangsung singkat sampai lesi destruktif.  Lesi biasanya muncul di daerah yang terinfeksi HSV seperti membran mukosa mulut, area genital, dan daerah kulit.

  1. Eksema herpetikum

Eksema herpetikum dikenal juga sebagai erupsi Kaposi varicelliformis. Ditandai dengan infeksi HSV pada kulit yang mengalami gangguan fungsi sawar kulit seperti dermatitis atopik, pemfigus, penyakit Darier, trauma luka bakar. Lesi cenderung berkonfluen, terdapat erosi, dan kadang-kadang bersifat diseminata.

  1. Herpes neonatal

Infeksi pada neonatus dapat terjadi saat terpajan dengan virus di masa intrauterin, intra-partum dan pasca-partus. Infeksi HSV intrauterin terjadi akibat transmisi tranplasenta saat kehamilan atau secara asendens pada keadaan ruptur membran amnion. Infeksi intra-partum timbul akibat kontak dengan sekret genital ibu yang terinfeksi. Infeksi pasca-partum terjadi akibat pajanan dengan seseorang yang menderita herpes labialis rekurens, transmisi nosokomial, atau lesi pada payudara.

Baca Juga:  WHO; Untuk Berantas Wabah Zika Dibutuhkan US$122 juta

Berbagai manifestasi klinis herpes pada neonatus:

  • Herpes kongenital

Trias kelainan kulit (lesi kulit vesikular, siktariks, kutis aplasia, dan hiperpigmentasi atau hipopigmentasi), kelainan neurologi (mikrosefali, kalsifikasi intrakranial, hidraensefali), kelainan mata (korioretinitis, mikroftalmia, atrofi optik).

  • Infeksi lokal pada kulit, mata, dan mulut:

Kelainan muncul pada usia 10 atau 11 hari. Lesi ditemukan di tempat kontak, berupa vesikel yang diskret, dapat juga timbul vesikel berkelompok, biasanya muncul pertama kali di bagian badan yang berkontak langsung dengan virus pada waktu lahir

  • Ensefalitis

Infeksi susunan saraf pusat (SSP) saja atau kombinasi dengan penyakit diseminata yang bermanifestasi ensefalitis, limapuluh % kasus tidak disertai infeksi kulit, 50% kasus yang tidak diobati akan meninggal pada usia 1 tahun. Meskipun jarang, bila bayi dapat bertahan hidup, akan mengalami gejala sisa neurologi

  • Infeksi diseminata

Prognosis paling buruk, dapat terjadi sepsis, gagal napas, kegagalan fungsi hepar, dan koagulopati intravaskular diseminata. Lesi kulit vesikular merupakan lesi patognomonik, tetapi 40% kasus tidak disertai lesi vesikular

Bagaimana cara menegakkan diagnosis herpes simpleks?

Prinsip utama untuk menegakkan diagnosis infeksi HSV-1 adalah mengenali gejala klinis lesi herpes yang tipikal di dalam atau sekitar rongga mulut. Sebaliknya diagnosis awal untuk HSV-2 lebih sulit karena tanda klinis yang khas, ulkus di daerah genital mungkin tidak tampak. Pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk membantu menegakkan diagnosis infeksi herpes seperti biakan virus, pemeriksaan serologis, polymerase chain reaction (PCR), pemeriksaan Tzanck (sensitivitas rendah, tidak digunakan untuk mendiagnosis infeksi neonatal), direct fluorescent antibody (DFA) testing, pungsi lumbal (penting pada neonatus dengan dugaan keterlibatan SSP), tes fungsi hati,  magnetic resonance imaging (MRI), computed tomography (CT) scan, dan electroencephalography

Bagaimana penatalaksanaan herpes simpleks?

Pengobatan terhadap infeksi HSV tidak dapat mengeliminasi virusnya. Tujuan pengobatan adalah mempercepat penyembuhan klinis, mengurangi keparahan, mencegah komplikasi, dan mengurangi rekurensi. Terapi yang diberikan mencakup terapi suportif dan pemberian antivirus. Terapi suportif berupa analgetik, pemeliharaan higiene lokal, dan antibiotik yang berguna untuk mencegah infeksi sekunder. Asupan cairan yang adekuat dan diet makanan lunak diperlukan pada lesi HSV di rongga mulut untuk menghindari kemungkinan terjadi dehidrasi. Terapi antivirus asiklovir diberikan pada infeksi berat, infeksi diseminata, keadaan imunokompromais, dan infeksi neonatus. Pada keadaan HS ginggivostomatitis berat yang mengalami dehidrasi,  neonatus dengan HS diseminata atau keterlibatan SSP, HS berat, ensefalitis, imunokompromais, perlu dilakukan rawat inap.

Bagaimana pencegahan terhadap herpes simpleks?

Hindari kontak dengan lesi herpes dari individu yang terinfeksi. Untuk mencegah infeksi neonatus, oleh karena sebagian besar terjadi saat intra-partum, maka perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi ibu, deteksi infeksi ibu saat menjelang persalinan serta tentukan cara persalinan yang tepat.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *