Batu Bersimbol ‘Watu Pinantik’: Bagian Sejarah Katolik Sulawesi Utara yang Terabaikan

  • Whatsapp
Simbol di Watu Pinantik/Foto: Steven

MANADO, MANADONEWS – Di Desa Kali Kecamatan Pineleng terdapat situs yang dikenal dengan nama ‘Watu Pinantik.’ Merupakan bahasa Tombulu yang jika diartikan ke bahasa Indonesia ‘Batu yang ditulis.’

Sejarah ‘watu pinantik’ merupakan bagian dari asal mula pekabaran ajaran katolik di sulawesi utara oleh misionaris yang bernama Lorenzo Geralda dari Spanyol sekitaran tahun 1639-1645.kedatangan lorenzo geralda ke sulut bersama dengan tentara spanyol. Tugas misinya untuk pekabaran katolik di wilayah desa Kali dan Pineleng.

Bacaan Lainnya
Foto Watu Pinantik/ Steven

Banyak warga pribumi yang menentang misi tersebut karena warga masih menganut kepercayaan tradisi leluhur, sehingga pada tanggal 14/15 Agustus 1644 mereka menangkap dan membunuhnya di desa Kali.

Sebelum dibunuh oleh warga pribumi, Lorenzo sempat menulis simbol – simbol di beberapa batu yang sampai saat ini disebut ‘watu pinantik.

Watu Pinantik/Foto: Steven

Hal ini dibenarkan oleh Leon Loho, tokoh agama katolik di desa Kali.

Baca Juga:  TBNK Serahkan Bantuan Kepada 107 Penerima KUBE

“Namun keberadaan watu pinantik belum diketahui banyak orang,” ucap loho.

Lokasi watu Pinantik/Foto: Steven

Sangat disayangkan, lokasi ‘watu pinantik’ saat ini sudah tidak terawat akibat banyaknya dan akses jalan yang belum memadai serta ulah jahil oknum – oknum tidak bertanggung jawab dengan melakukan coretan – coretan tambahan.

Hukum tua desa Kali Hendrik Pungus menjelaskan untuk perawatan tidak rutin dilakukan.

Akses jalan menuju watu Pinantik/Foto: Steven

“Untuk perawatan hanya dilakukan oleh perangkat desa dan umat Katolik Santo Antonius Padua Kali,” tutup Pungus.

Lokasi batu berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Manado.

Steven Rapar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *