Kapal Narkoba Disergap di Bitung

Seorang petugas Polairud Polda Sulut dari atas kapal patroli KP Tarsius membidik senjata ke arah kapal penyelundup narkoba di selat Lembeh, hari Rabu (10 Apr 2017). Foto.Jeff w
Seorang petugas Polairud Polda Sulut dari atas kapal patroli KP Tarsius membidik senjata ke arah kapal penyelundup narkoba di selat Lembeh, hari Rabu (10 Apr 2017). Foto.Jeff w

 

BITUNG, MANADONEWS – Sebuah kapal yang diduga membawa puluhan kilogram narkoba dari luar negeri disergap tim gabungan Bakamla dan Polairud Polda Sulut, saat sedang memasuki perairan Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut), Rabu sore (10/-5-2017).

Operasi penyergapan kapal ini dilakukan setelah tim Badan Keamanan Laut (Bakamla) dan Polisi Perairan dan udara (Polairud) mendapat informasi dari tim penanganan transnational crime, akan adanya penyelundupan narkotika dalam jumlah besar melalui sebuah kapal laut.

Tim pencegahan kejahatan transnasional Indonesia,  langsung mengumpulkan pasukan khusus termasuk beberapa kapal patroli cepat untuk memburu kapal tersebut.

Setelah mengintai beberapa jam, petugas akhirnya berhasil mengidentifikasi kapal penyelundup narkoba itu, bernama Inka Mina 720 dengan bobot sekitar 30 GT dan sedang memasuki perairan Kota Bitung.

Di tengah selat Lembeh, Kapal Patroli Bakamla KN Gajah Laut 4804 coba menghentikan kapal berwarna biru tersebut dengan peringatan dan sirene, namun kapal tersebut malah menambah kecepatan untuk coba melarikan diri ke arah timur.

Akhirnya diputuskan untuk dilakukan pengejaran. Kapal patroli cepat Polairud memburu untuk menghalangi pelarian kapal penyelundup, sambil pasukan Bakamla bersenjata lengkap diterjunkan ke laut dengan kapal cepat.

Baca Juga:  Tekan Angka Kriminal, Gubernur Olly Ajak Polda Sulut Razia Warung Penjual Miras

Di tengah pengejaran ini, sejumlah pelaku sempat membuang bungkusan besar narkoba berwarna oranye dari atas kapal ke tengah laut untuk menghilangkan jejak. Namun barang tersebut masih mengapung.

Setelah dilakukan penembakan,  kapal tersebut mulai melambat dan pasukan Bakamla langsung naik dan membekuk semua ABK yang diduga menyelundupkan narkoba. Di bawah todongan senjata, satu persatu ABK diciduk dan dibawa ke kapal patroli Polisi Perairan yang ikut mengejar.

Drama pengejaran sekitar 20 menit ini akhirnya membawa hasil. Tim Bakamla dan Polairud menyita puluhan kilo narkoba jenis sabu-sabu yang akan diedarkan di Sulawesi Utara. Seangkan kapal dan ABK penyelundup narkoba digiring ke markas Polairud untuk penyidikan lebih lanjut.

Direktur Latihan Bakamla RI, Laksamana Pertama  TNI Muspin Santoso menilai simulasi penyergapan kapal penyelundup narkoba ini memuaskan dan mendapat apresiasi dari para peserta 8th Maritime Security Desktop Exercise (MSDE), yang ikut menyaksikan dari atas kapal KN. Gajah Laut.

“Pada intinya para peserta dari negara-negara yang tergabung dalam kegiatan MSDE ini merasa puas dengan adanya latihan ini, karena kita memang mengembangkan pada topik yang menjadi bahasan dalam MSDE. Topik kali ini adalah masalah narkoba, karena mereka tahu narkoba adalah musuh semua negara musuh,  semua bangsa dan tidak bisa hanya ditanggulangi sendiri tetapi harus secara bersama-sama”, kata Laksma Santoso.

Baca Juga:  PILKADA SULUT: Pilwako Tomohon, PDIP Siapkan Figur Potensial, Ada Nama Gabriella Eman

Peserta MSDE yang sedang mengikuti kegiatan Coast Guard yang dipandu Indonesia dan Australia di Manado ini,  berasal dari 16 negara.   Mereka dari Australia, Bangladesh, Brunai Darusallam, Kamboja, Jepang, Laos, Malaysia, Maldives, Myanmar, Papua Nugini, Filipina, Singapura, Srilanka, Timor Leste, Thailand  dan Taiwan.

Laksma Santoso menilai latihan bersama Keamanan dan Keselamatan Laut tentang penanganan dan pencegahan transnational crime khususnya narkoba di wilayah tengah ini sangat penting,  karena  peredaran narkoba 80 persen melalui laut.

Latihan sengaja dilakukan di perairan Sulawesi Utara karena secara geografis lokasinya berada di tengah dua Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yaitu ALKI 2 dan 3,  yang rawan penyelundupan narkoba karena ramai dengan lalulintas kapal,  baik dalam negeri maupun dari luar negeri. “ALKI ini pun adalah konsekwensi diberlakukannya UNCLOS 1982. Ini memberikan ruang gerak kapal-kapal asing dalam hal lintas damai di perairan ini”, jelasnya. (Jeff)

Pos terkait