Aduh, Balita Meninggal Gizi Buruk di Kota Sehat Bitung

Ita Angkomona, sedih meletakan karangan bunga di atas peti jenazah putrinya, Karunia, yang meninggal karena gizi buruk. (foto. Jeff)

 

BITUNG, Manado News – Kota Bitung, Sulawesi Utara, sudah berkali-kali mendapat penghargaan sebagai salahsatu Kota Sehat di Indonesia. Ironisnya tahun ini terdapat satu anak balita meninggal dunia karena kekurangan gizi alias gizi buruk.

Karunia Tobangen,  putri kedua keluarga Tobangen-Angkomona berusia 5 tahun 3 bulan warga kelurahan Kakenturan 2 Lingkungan 4, akhirnya meregang nyawa setelah 4 hari dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bitung, Manembo-nembo kecamatan Matuari. Berat badan anak ini hanya sekitar 6 kilogram, padahal untuk anak seusianya normalnya sekitar 12 hingga 14 kilogram.

Kondisi gadis cilik ini, menurut para tetangga,  memang sangat kurus hanya tulang terbungkus kulit. Namun beberapa pekan lalu terlihat masih bermain dengan teman-temannya. Tetapi tiba-tiba hari Kamis malam 29 Juni 2017 harus dilarikan ke rumahsakit. Sayangnya setelah mendapat perawatan medis, Karunia menghembuskan nafas terakhir pada Senin, 3 Juli 2017.

“Dia dirawat di rumahsakit kondisinya memang berat badannya tinggal 6,7 kilo di usia yang kelima. Memang ketika ditemui kondisinya bukan hanya karena asupan yang kurang. Tetapi ada penyakit penyerta lain. Belum sempat ada pemeriksaan lanjutan, tapi ada kemungkinan bisa juga ada penyakit penyerta seperti TB paru”, kata Kepala Puskesmas Bitung Barat, dokter Vivi Tumbel, di rumah duka, Selasa siang (4/7-2017).

Baca Juga:  Sambut Pengucapan Syukur Minahasa Pj Bupati Royke Mewoh Pimpin Langsung Operasi Pasar

Dalam ibadah duka, jenazah Karunia tampak sudah dibaringkan dalam peti di sebuah rumah sempit berdinding tripleks dan seng yang sudah berlobang. Ayah dan ibunya, Inyo Tobangen dan Ita Angkomona,  tampak sedih menatap jasad anaknya. Sesekali terdengar tangisan sedih ibunya dan keluarga dekat. Dua saudara kandungnya, Virgin dan Sergio yang lebih gemuk, ikut duduk mengitari peti adik dan kakaknya yang terbaring kaku dengan kondisi tubuh tampak sangat kurus.

Sejumlah masyarakat mengaku prihatin dengan meninggalnya Karunia Tobangen, yang menderita sakit karena kekurangan gizi. Mereka menilai sangat ironis kota Bitung yang sudah berkali-kali meraih predikat Kota Sehat, masih terdapat anak meninggal karena gizi buruk.

“Semestinya forum Kota Sehat juga harus datang.. kunjungan ke masyarakat. Kontrol turun langsung lihat oh ini kote sakit ini harus cepat tangani. Pemerintah setempat, juga RT, Pala harus proaktif. Apalagi lurah harus rutin kontrol masyarakat. Jangan nanti ada kejadian baru mo sibuk. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Rupa ini so meninggal, biar ley pemerintah mo beking bagimana, so nyanda”, sesal Evi Takumansang, warga Kakenturan 2.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bitung, Franky Soriton di tempat terpisah, Selasa sore, mengatakan masalah ini tanggungjawabnya tidak hanya pada pemerintah,  tetapi juga keluarga dan masyarakat. “Tiga pilar ini bertanggungjawab secara keseluruhan termasuk untuk masalah gizi anak. Saya menghimbau kepada masyarakat untuk pertama bagi keluarga-keluarga yang punya anak balita perhatikan kondisi gizinya. Kemudian masyarakat tolong berikan dukungan kepada keluarga-keluarga yang memiliki anak balita, supaya betul-betul pertumbuhan mereka bisa terpantau dengan baik. Pemerintah menyiapkan fasilitas. Mulai dari pembiayaan ditanggung oleh BPJS bagi yang tidak mampu, fasilitas pelayanan kesehatan, peralatan, tenaga, semua disiapkan oleh pemerintah. Kembali ke masyarakat itu sendiri. Kalau kita mau memanfaatkan, berarti kita mendapatkan dampak positifnya”, katanya.

Baca Juga:  Kodam XIII/Merdeka Gelar HUT Ke-60 di Tomohon

Soal ada keluhan masyarakat tentang kurangnya keterlibatan aktif Forum Kota Sehat dalam memantau kesehatan di masyarakat kota Bitung, Soriton terlihat enggan menyalahkan. Menurut dia, Forum Kota Sehat di Bitung memang ada,  tetapi punya keterbatasan. Dia menilai dalam mengawasi masalah kesehatan yang paling baik adalah peran masyarakat di sekitar itu sendiri. “Forum Kota Sehat itu organisasi. Tetapi yang paling dekat dengan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri”, ujarnya.

Kepala Lingkungan 4 Kakenturan II, Rifard Lohonauman mengungkapkan anak korban gizi buruk ini sebelumnya memang diadopsi oleh sepasang suami-istri di Bitung Timur ketika baru berusia sekitar 2 bulan, karena itu tidak terdaftar sebagai peserta BPJS,  sebab tidak masuk dalam Kartu Keluarga orangtua aslinya.

Karunia dikembalikan lagi ke orangtua aslinya di Kakenturan II ketika usianya sudah mendekati 5 tahun, karena ibu angkatnya meninggal, sedangkan ayahnya angkatnya harus bekerja di kapal. “Belum lama dia tinggal di sini. Melihat kondisi anak tersebut seperti kurang sehat, sehingga kami sarankan kepada orangtuanya untuk membawa ke Posyandu. Tapi pekan lalu tiba-tiba sakit dan terpaksa kami meminta tolong ambulans Dinkes bawa ke rumahsakit. Kami ikut membantu orangtuanya mengurus administrasi agar anak tersebut bisa dapat penanganan medis. Tapi ya baru berapa hari dirawat, kami  dapat kabar sudah meninggal,” papar Rifard.

Baca Juga:  SMP Negeri 1 Lolak  Matangkan Persiapan UNBK

Lurah Kakenturan 2, Alfred Totomutu ikut membenarkan anak tersebut sebenarnya lebih lama tinggal bersama orangtua angkatnya. Baru dua bulan terakhir ini, anak itu tinggal kembali bersama orangtua aslinya. Ia menduga karena kondisi keluarga yang miskin, serta ayah dan ibu dari kedua orangtuanya juga baru meninggal, sehingga anak tersebut kurang mendapat perhatian.

Jenazah Karunia, sehabis ibadah pelepasan yang dipimpin pendeta Frida Maindoka, MTh, langsung dibawa dengan ambulans untuk dikembumikan di pekuburan umum kelurahan Kakenturan I. (Jeff)