Wakili Gubernur, Rudy Mokoginta Buka Dialog Bersama Rencana Ratifikasi Konvensi Minamata Tentang Merkuri

  • Whatsapp
Rudy Mokoginta dan Bara Hasibuan/
Rudy Mokoginta dan Bara Hasibuan/

MANADO, MANADONEWS – Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey yang diwakili Asisten II Setdaprov Muhammad Rudy Mokoginta, membuka dialog publik bersama Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tim Komisi VII DPR RI yang diketuai Bara Hasibuan,  Institusi Pendukung Teknis AGC (Artisanal Gold Council) dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulut, Marly Gumalag, terkait ‘Ratifikasi Konvensi Minamata’ yang bertema Pengesahan Minamata Convention on Mercury, Senin (07/08/), di ruang CJ Rantung Kantor Gubernur

Dalam sambutan yang dibawakan Mokoginta, Gubernur mengatakan merkuri telah menjadi perhatian global sejak pencemaran oleh perusahaan Chisso Minamata Factory (CMF) yang membuang limbah metal mercuri ke teluk Minamata Jepang sekitar tahun 1956-1968 sehingga mengakibatkan permasalahan kesehatan pada penduduk di sekitar teluk minamata.

Bacaan Lainnya

“Terkait dengan itu maka pemerintah dan masyarakat Sulut yang juga memiliki potensi tambang dan kegiatan pertambangan, termasuk pertambangan emas rakyat, kita diajak untuk berdialog dan memberikan masukan yang konstruktif terhadap pematangan Ratifikasi Konvensi Minamata,” ujarnya.

Baca Juga:  Terbongkar Catatan Rahasia, Dinas Perikanan Bolmong Diduga Terlibat "Skandal Pungli"

“Oleh karena itu , saya berharap kiranya kegiatan ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan masukan yang bermanfaat demi keberhasilan Ratifikasi Konvensi Minamata, untuk meminimalisir potensj pencemaran lingkungan hidup dan gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh merkuri,” tutupnya.

Anggota Komisi VIi DPR RI Bara Hasibuan mengatakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih atas sambutan dari pemerintah provinsi untuk pelaksanaan kegiatan dimaksud.

“Ini bersifat dialog yang nantinya akan dibahas dan mencari solusi bagaimana baiknya dalam mengimbangi Mercury termasuk dampaknya Minamata pada kesehatan manusia terlebih untuk kulit,” terangnya.

 

Pemaparan dari perwakilan Kementerian LHK, Tuti Mintarsih mengatakan mengapa harus ada konvensi Minamata? Karena Mercury ini berbentuk sebuah partikel racun yang berpindah tempat melalui udara, juga banyak digunakan sehari-hari terutama lampu pijar, termometer (alat kesehatan), kosmetik (namun telah dilarang oleh badan POM,).

“Ada 3 Mercury di antaranya, elemental (biasa dalam kosmetik,), unorganik dan organik juga mempunyai larutan (biasa dalam tambang mas,red) dampak dalam kesehatan bisa bertahun-tahun dengan gangguan saraf bagi anak kecil,” kata Tuti semabri menambahkan emisi Mercury tertinggi itu di Indonesia terdapat pada pertambangan juga terjadi juga diberbagai badan dunia, yang melalui PBB juga telah melakukan suatu pemberitahuan untuk memperingatkan tentang dampak dari Mercury.

Baca Juga:  BKPP Bolmong Ikut Rapat Evaluasi SAKIP se-Sulut

Adapun dari pihak pemerintah Kanada akan memberi bantuan alat pengelola emas tanpa Mercury.

Kegiatan ini dihadiri Direktur Pengelolaan B3 KLHK Yun Inseni, Direktur Pemulihan Kerusakan Lahan Akses Terbuka KLHK Sulistyowati, Kepala Dinas ESDM B.A Tinungki, Pejabat dari Kabupaten /Kota, Akademisi dan para Mahasiswa beberapa perguruan tinggi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *