
Dalam kesempatan itu, Efendi membedah ada tiga tipikal orang sukses. Yakni di antaranya orang yang tidak sukses, orang yang sementara sukses dan orang yang sukses terus. Ia membahas apa yang membedakan ketiga tipe orang ini.
“Karakterlah jadi penentu kita jadi orang sementara sukses atau sukses terus. Itu sebab menjadi penting setiap kita untuk memiliki mental pemenang,” tegas Efendi.
Apalagi menurutnya era MEA sudah di depan mata. Mau tidak mau itu sudah jadi kenyataan. Dan tantangannya adalah serbuan tenaga kerja asing. Dampaknya kalau generasi muda tidak punya pikiran inovasi, maunya dininabobokan, malas, plus tidak punya skil, maka bersiaplah kita akan jadi penonton.
“Jangan salah punya prinsip. Jadi sarjana bukan sama dengan sukses. Buktinya data BPS kita angka pengangguran sarjana itu mencapai 7, 45 juta. Itu artinya tidak menjamin, karena sukses bukan tanggungjawab kampus. Tapi tanggung jawab masing-masing,” tandasnya.
Sehingga menurutnya ini adalah kesempatan terbaik untuk menciptakan lapangan kerja. Mulailah dengan bisnis-bisnis kecil dengan perencanaan yang jelas. Kuncinya mental kita yang harus mampu menerobos keterbatasan itu. Indonesia bukan soal apa-apa. Tapi mental masyarakatnya lemah, butuh disiplin.
Di sisi lain pemilik SE Manajement dengan visi menciptakan 1 juta pemuda enterpreneur itu membagi tips bagaimana memulai bisnis untuk menciptakan peluang-peluang meraih sukses. Yakni pertama adalah harus punya goal (tujuan) yang jelas. Kedua fokus perbaikin input (Stop sinetron dan pembodohan tak jelas. Tontonan adalah tuntunan), ketiga belajar dari yang terbaik, keempat bekerjasama dengan yang terbaik, kelima memiliki komitmen,keenam punya karakter yang tidak mudah menyerah atau persisten, ketujuh memiliki alasan sangat kuat. Yakni Pain and pleasure principle.
Sementara itu peserta begitu antusias mengikuti seminar enterpreneur itu. Ratusan peserta langsung memutuskan untuk ikut menjadi bagian dalam training bisnis bersama SE Manajement.
Seperti yang diungkapkan Ketua BEM Fispol Unsrat Naldo Dowogini. Ia mengaku begitu terpukau dan sangat dibukakkan pencerahan bagaimana menjadi anak muda yang mampu menciptakan peluang-peluang bisnis.
“Banyak saya ikut seminar jenis ini. Tapi baru kali ini dan hanya Syafii Efendi yang mampu mensugesti peserta bahwa ternyata kalau kita tidak siap maka era MEA ini kita bakal gigit jari,” ungkapnya.
(DArK)
Langsung ke konten












