Ini Penjelasan Dirut RSUD Datoe Binangkang Terkait Pasien Yang Disuruh Pulang

nampak kondisi markus yang masih sangat lemah

 

 

BOLMONG,MANADONEWS,-.Pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datoe Binangkang yang terletak di Lolak 2, Kacamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) mendapat keluhan dari pasien dan keluarga pasien. Demikian dialami pasien bernama Markus Makaminang (63), warga Dusun Ompu, Desa Lalow, Kecamatan Lolak.

Ditemui diruang rawat inap pada kamis (16/11) pagi, nampak Markus terbaring lemah dengan bantuan tabung oksigen.

” Kemarin (rabu 15 november), saya disuruh pulang oleh dokter. Menurut dokter, dirinya kasihan karena biaya yang harus yang harus dibayar sudah sangat banyak, yakni sekitar Rp 770 ribu. Padahal saya masih merasa sesak sekali didada jika oksigen dilepas. Selain itu saya merasa sakit dipunggung, serta leher seperti digaruk-garuk “kata Markus meski kelihatan sangat lemah.

Memang Markus merupakan pasien umum dan belum memiliki BPJS. Namun, dirinya diantar oleh Sangadi (Kepala Desa) sejak pada hari senin lalu untuk mendapat perawatan rumah sakit.

” Saya sudah 4 hari menginap di rumah sakit dan belum mau pulang karena masih sangat lemah. Kenapa pihak rumah sakit sudah menyuruh pulang. Padahal Sangadi sementara mengurus BPJS saya “ujar Markus dengan nada kecewa.

Baca Juga:  Kajati Sulut Resmikan Tempat Ibadah Persekutuan Oikumene "Imanuel"

Markus menambahkan, dirinya disuruh pulang sebelum dokter datang pada hari kamis ini.

” Dokter beralasan tagihan saya banyak. Padahal biaya obat-obat yang lain sudah dibayar. Saya urus KIS, tapi nanti keluar tahun depan. Sementara BPJS sedang diurus pak Sangadi “ucapnya.

dirut rsud datoe binangkang, sahara albugis saat melihat hasil rontgen markus

 

Sementara itu, Adi Makaminang (28 tahun) yang merupakan anak dari Markus mempertanyakan terkait disodorkannya kertas untuk ditandatangani pihak keluarga dari rumah sakit.

” Menurut ponakan saya. Dirinya disodorkan kertas dari pihak rumah sakit untuk ditandatangani. Padahal ponakan saya masih berusia 15 tahun dan tidak sekolah, serta tidak tahu membaca. Tapi perawat bilang, tidak apa-apa, tanda tangan saja. Kami tak tahu jelas itu surat apa, seharusnya mereka menunggu saya “ujar Adi.

Dirinya berharap, ayahnya bisa mendapatkan perawatan yang layak sebelum disuruh pulang.

” Saat ini kami keluarga menunggu kabar selanjutnya dari Sangadi. Karena ayah saya masih sangat lemah dan membutuhkan perawatan. Memang kami tidak mampu bayar biaya rumah sakit kalau tagihannya banyak. Namun, tolong jangan cabut oksigen ayah saya, apalagi suruh pulang “harapnya.

Baca Juga:  Minahasa Terima Penghargaan Kabupaten Layak Anak

Adi juga berujar akan berusaha maksimal membayar tagihan agar ayahnya bisa sembuh.

” Kami akan berusaha membayar, walaupun entah caranya bagaimana. Yang penting ayah saya dirawat dulu “harapnya.

Menanggapi laporan tersebut, Direktur Utama (Dirut) RSUD Datoe Binangkang, Sahara Albugis langsung merespon dengan berkunjung ke kamar Markus untuk melihat rekam medis, serta hasil rotgen.

Dirinya memberikan pernyataan yang sangat kontras dengan pasien. Bahwa pada hari rabu lalu Markus sudah membaik dan sudah diperbolehkan pulang, sedangkan dari pengakuan Markus, sejak ia masuk, dirinya masih sangat lemah dan tidak merasa kuat jika selang oksigen dilepas.

” Hasil pemeriksaan hari rabu kondisi pasien sudah membaik dan boleh pulang. Kami pun merekomendasikan untuk lanjut berobat di puskesmas. Karena pasien ini harus berobat selama 6 bulan untuk penyakit paru-parunya “kata Sahara.

Dijelaskan Sahara, pada hari kamis kondisi Markus kembali memburuk dan pihaknya pun menahan untuk mendapat perawatan kembali.

” Saat ini pasien masih kami tahan untuk dirawat. Jika sudah baikan baru diperbolehkan keluar dan lanjut berobat dipuskesmas terdekat ” ungkapnya.

Baca Juga:  KONI Bolmong Segera Gelar Porkab

Sementara itu, Ketua LSM Laskar Merah Putih (LMP) Indra Wongkar sangat menyayangkan atas tindakan dari pihak RSUD Datoe Binangkang tersebut.

” Ini sangat disayangkan, karena pasien ini membutuhkan perawatan. Jadi, utamakan dulu tindakan apa yang akan dilakukan. Jangan pikir berapa biayanya “kata Wongkar.

Dirinya menambahkan, setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.

” Saya harap tindakan seperti ini jangan sampai terulang kembali kepada pasien yang lain. Karena sektor kesehatan salah satu program prioritas pemerintah Presiden Joko Widodo melalui Nawacita “tutupnya.

Diketahui, Markus berasal dari keluarga yang tidak mampu, dan mengalami kebutaan sejak tahun 1997 akibat sakit. Sedangkan untuk memberi kabar kepada saudaranya yang dari jauh tidak bisa. Karena ia dan anaknya tidak memiliki telepon seluler.
( stvn )