Ke Batu Opo Siouw Kurur Sagerat Bersua Opa Ticoalu yang Berumur 117 Tahun

  • Whatsapp
Papan nama ini berada teat di bawah lokasi Batu Opo Siouw Kurur Sagerat/Foto: manadonews.Fik

Liputan Khusus: Fian Kaunang

BITUNG, MANADONEWS – Hari Sabtu (10/3) sore akhir minggu lalu, saya bergabung dengan beberapa pegiat budaya Minahasa yang berusia muda untuk pergi ke lokasi batu ‘Opo Siouw Kurur’ di Sagerat Kota Bitung.

Bacaan Lainnya

Menempuh jarak sekitar  38 KM dari arah Manado, menggunakan satu buah mobil, kami pun bergerak menuju lokasi yang dimaksud.

Dalam kondisi normal sebetulnya perjalanan hanya butuh waktu kurang lebih 1 jam. Namun dikarenakan belum satupun di antara kami yang berjumlah 5 orang itu pernah menginjakkan kaki di lokasi, upaya pencarian membutuhkan waktu hampir 1 jam.

Setelah sekian orang yang ditanyai namun dengan jawaban ‘tidak tahu,’ kami akhirnya mendapat titik terang. Seorang bapak yang usianya bisa ditaksir di atas 60 tahun mengarahkan kami untuk bertanya ke lelaki tua yang tinggal di kebun, yang jalan masuknya ternyata telah dua kali kami lewati.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 17.45 Wita, kami akhirnya menghentikan kendaraan di depan sebuah tempat tinggal yang sesuai informasi si bapak yang tadi, terletak paling ujung.

Baca Juga:  Walikota Kotamobagu Resmi Launching Aplikasi 'SiBaper' Gagasan BPKAD

Di depan halaman rumah ada dua orang (mungkin ayah dan anak) sedang beraktifitas. Setelah menyapa, pertanyaan serupa kami layangkan.

Spontan si anak berkata, “Mo tanya pa opa jo dulu”‘(mau tanya ke opa dulu).

Kami pun tersadar kalau memang kami diarahkan bertanya ke lelaki tua. Hanya saja kami tidak melihat sosok yang dimaksud saat tiba di situ.

Saat si anak berkata demikian, kami pun melihat ada sosok lelaki tua renta yang turun dari kebun menuju rumah, sambil memikul kayu bakar.

Dalam hati saya berpikir, apakah kebetulan atau bagaimana, yang pasti usai si anak berkata demikian, lelaki tua itu kami lihat telah berjalan menuju rumah.

Tanpa buang waktu, tiga orang dari kami langsung menemui si opa, sementara saya dan seorang lagi tetap bersama salah satu anggota keluarga yang sedang beraktifitas itu(memproses arang tempurung).

Si opa lalu bergabung dengan kami di tepi jalan. Yang mengejutkan kami semua saat si opa menyebut usianya sudah 117 tahun.

“Saya lahir tanggal 5 Oktober tahun 1901,” kata si opa dengan sangat jelas.

Masih dalam keterkejutan(atau lebih tepat rasa takjub) saya menanyakan nama beliau.

“Nama saya Ambrosius Ticoalu. Saya berasal dari Langowan,” ungkapnya.

Keterkejutan lain saat ia mengatakan sudah mengetahui maksud kedatangan kami.

Baca Juga:  Mewoh Pimpin Rapat Persiapan Paskah Pemuda ASEAN di Minahasa

Secara manusiawi saya harus mengatakan betapa hebat dan luar biasanya si opa Ticoalu ini. Telah berusia 117 tahun namun masih kuat beraktifitas, mata dan telinga pun masih normal, dan tentu saja, pengetahuannya akan kedatangan kami.

Dijelaskan opa Ticoalu Batu Opo Siouw Kurur di Sagerat adalah tempat persinggahan/peristirahatan Opo Siouw Kurur.

Lanjutnya, semua batu tempat persinggahan/istirahat berukuran besar karena Opo Siouw Kurur dikenal bertubuh sangat tinggi dan besar. Siouw (Sembilan), Kurur(buku-buku/lutut). Dalam tradisi budaya Minahasa Opo Siouw Kurur dikenal dengan sebutan Opo Raksasa.

Setelah berbincang kurang lebih 15 menit, opa Ticoalu mengarahkan kami untuk masuk lewat jalan utama(Manado – Bitung).

“Dari sini juga boleh tapi lebih jauh, Jalau dari depan dekat karena kendaraan bisa masuk sampai ke dalam hingga di bawah lokasi batu yang jaraknya tinggal sekutar 50 meter,” terangnya.

Usai berjabatan tangan disertai uxcapan terima kasih, kami pun bergegas mengingat waktu telah malam.

Meski telah diberitahu, lagi – lagi kami mengalami kesulitan mencari jalan masuk. Seharusnya jalan yang satu, kami masuk lewat jalan yang di sebelahnya.

Akhirnya dengan berjalan kaki, kami menempuh perjalanan sekitar 1KM melewati perkebunan.

Kami pun tiba di lokasi batu Opo Siouw Kurur yang berada di ketinggian. Sudah pasti tidak akan salah lagi karena di depan lokasi telah terpajang papan nama dari Pemerintah Kota Bitung. Dan entah kenapa, semua kelelahan sirna dalam sekejab.

Baca Juga:  Koordinator Upsus Sulut: Petani Bolmong Raya Harus Segera Tanam Padi
Kami berkesempatan foto bersama Opa Ambrosius Ticoalu/Foto: manadonews/Fik

Hal pertama yang kami lihat setelah tiba, sebuah batu yang sangat besar. Hal kedua, sebuah pohon besar yang akarnya menjalar di atas batu. Sepintas terlihat pohon itu tumbuh di atas batu. Di sekeliling batu dipenuhi pepohonan yang juga berukuran besar.

Saya lalu menyaksikan ritual yang dilakukan teman – teman pegiat budaya itu.

Ritual tak memakan waktu lama. Setelah itu kami bergegas kembali.

Jika melihat jauh perjalanan dan rintangan, padahal saat berada di lokasi hanya butuh waktu yang relatif singkat, saya sempat berpikir ini hanya buang waktu dan energi.

Namun melihat  wajah  teman – teman yang penuh kegembiraan dan rasa puas, saya harus mengatakan sungguh luhur nilai – nilai budaya yang diwariskan para leluhur Minahasa kepada turrunanya antar generasi.

Keluhuran yang membuat setiap generasi Toar Lumimuut dengan sikap dan semangat sabar, tidak boleh putus asa, selalu mengingat, menghormati dan mengimplementasikan nilai – nilai luhur itu dalam hidup dan kehidupan.

Sungguh, ini sebuah perjalanan yang sangat berkesan bagi saya.

Pos terkait