Pelopor Damai Anak Bangsa Berpulang
MANADO, MANADONEWS – Umat Katolik Keuskupan Manado kembali dirundung duka. Benny Tungka salah satu tokoh umat berpulang. Almarhum menghembuskan nafas terakhir, Minggu (25/3) pagi di kediamannya. Kepergian almarhum meninggalkan duka cita mendalam bagi keluarga maupun kerabat. Salah satunya Superior Jendral Legium Christy (LC) Keuskupan Manado, Lucky Aldrin Senduk. Dikatakan Senduk, ada kesan menarik antara dirinya bersama almarhum yang sulit untuk dilupakan. Menurutnya, almarhum memiliki peran perdamaian antar anak bangsa.
“Benny Tungka adalah sosok cinta dan peduli dengan kemanusiaan. Beberapa peran penting yang dilakukan,” ungkapnya.
Politisi PDI Perjuangan ini pun teringat ketika kejadiaan bom di Katedral Jakarta. Saat itu almarhum Benny mengumpulkan pimpinan LC termasuk dirinya untuk mengantisipasi jangan sampai masyarakat Sulawesi Utara terprovokasi dengan kejadian tersebut. Kala itu, almarhum langsung berinisiatif untuk melakukan tindakan nyata perwujudan persaudaraan sejati antar anak bangsa.
“Beliau minta seluruh anggota LC melakukan pengamanan saat sholat Ied di Manado karena kejadian BOM Malam Natal Katedral Jakarta tahun 2000 itu besoknya bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Sejak saat itu berbagai organisasi keagamaan maupun Ormas Adat yang ada di Sulawesi Utara melaksanakan pengamanan tempat tempat ibadah saat ada perayaan besar agama, kegiatan ini berlangsung hingga hari ini,” kata Senduk.
Baginya ini menunjukkan bahwa Benny Tungka sebagai pelopor dan penginisiatif kegiatan penjagaan tempat ibadah di Sulawesi Utara.
“Saat kerusuhan Poso bergejolak, Benny Tungka memfasilitasi dan berinisiatif mengumpulkan Uskup Manado Mgr Jos Suwatan-Pdt Nico Gara (Sekum Sinode GMIM saat itu)- Alm KH Arifin Assegaf untuk berdialog masalah kerusuhan Poso,” katanya
“Tidak hanya sampai disitu, tapi Benny Tungka berupaya memfasilitasi Pertemuan ke 3 tokoh Sulawesi Utara tersebut dengan pihak pemerintah dimana bersama H Raffiudin Djamir dan Lucky sendiri kemelakukan kunjungan ke Palu dan Poso serta Tentena disaat terjadi kerusuhan Poso bergejolak,” ujarnya.
Saat itu Menkopolkam SBY dan Menko Kesra Jusuf Kalla berkenan menerima rombongan Tokoh agama Sulawesi Utara untum berdialog mendamaikan Poso. Sehingga kunjungan Menkopolkam di Poso dan Tentena, para tokoh agama Sulut ikut diperkenalkan dan dijadikan contoh perdamaian dan persaudaraan.
“Perjanjian Perdamaian Malino yg digagas oleh Jusuf Kalla diikuti juga oleh Mgr Suwatan, Pdt Nico Gara dan Alm KH Arifin Assegaf didampingi oleh H Raffiudin Djamir. Peran seorang Benny Tungka sangatlah besar untuk hal ini,” katanya.
Ia menambahkan saat terjadi bencana banjir besar di Kota Manado pada sekitar Tahun 2000, Benny berinisiatif membantu korban banjir. Bukan hanya pemberian bantuan makanan dan peralatan rumah tangga tetapi almarhum bersama LC turun langsung membersihkan lumpur yang ada selama kurang lebih satu minggu,” tutur Senduk.
Di sisi lain, lanjut pria yang saat ini menjabat Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDIP Sulut, tahun 2000 adalah awal perjumpaan beberapa aktivis muda Katolik Keuskupan Manado dengan Benny Tungka. Perjumpaan itu difasilitasi oleh Pastor MarianusToiyo. Perjumpaan itu sekaligus memperjelas maksud dan keinginan Benny Tungka sebagai Umat yg 100% Indonesia dan 100% Katolik untuk membangun Sulawesi Utara. Pada saat itu, Benny Tungka memproklamirkan diri sebagai Kakak dari kami aktivis muda Katolik serta secara penuh mendukung pembentukan LC di Keuskupan Manado.
“Sejak saat itu segala aktivitas dan pergerakan LC dilakukan dari Kawasan Mega Mas. Banyak pengorbanan yang dilakukan almarhum oleh untuk membesarkan LC. Pengorbanan waktu, tenaga, keuangan dan pemikiran tanpa hentinya. Alamarhun tak henti-hentinya mengajari kami menjadi pelayan Tuhan, cinta akan sesama dan berpolitik dengan berlandaskan iman Kristiani serta menjadi pejuang tanpa pamrih. LC tanpa Benny Tungka mungkin tidak akan berkembang seperti saat ini,” tandas Ketua DPC PDIP Talaud itu.
(YOUNGKY)












