TALAUD, MANADONEWS –
Meniti karir sebagai pengusaha sukses, Welly Titah (WT) akhirnya maju pada Pilbub Kabupaten Kepulauan Talaud 2018 sebagai calon bupati. Keikutsertaannya dalam pesta demokrasi masyarakat ‘Bumi Porodisa’ tidak lain karena keterpanggilannya mengabdi untuk tanah kelahirannya dan atas tinggi aspirasi masyarakat yang meminta dirinya maju untuk membangun Talaud.
‘Poka’ sapaan akrab WT lahir di Lirung, Kecamatan Lirung Kabupaten Kepulauan Talaud 20 Juni 1966.
Guna mencari hidup, Poka meninggalkan tempat kelahirannya di usia 18 tahun. Opsi merantau menjadi pilihan bagi sosok yang dikenal pekerja keras itu. Malang-melintang di ‘tanah orang’, suka-duka pun dilalui.
Beruntung, saat itu dia didampingi seorang wanita yang saat ini menjadi pendamping hidupnya. Ya, dialah Henny Hongwidjoyo (Ci’Henny). Wanita hebat yang selalu mendukung serta terus bersamanya hingga saat ini menjadi seorang pengusaha sukses.
Meski tidak mulus, namun sepak terjang keduanya di dunia usaha tak perlu diragukan. Poka saat ini menjadi Direktur di dua perusahaaan besar miliknya.
Hasilnya, hampir semua kebutuhan hidup terpenuhi. Sebagai orang yang berkecukupan, apa saja yang diinginkan bisa terwujud. Bagi Poka, apa yang diterimanya merupakan berkat dari Tuhan. Kini, ‘si anak kandung’ porodisa bertekad mengabdikan diri untuk tanah kelahirannya Talaud. Dia pun memohon doa, restu dan dukungan masyarakat. “Sebagai orang Talaud ada keterpanggilan memajukan dan lebih mensejahterakan masyarakat Porodisa,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagai manusia apa yang diberikan Tuhan sudah sangat mencukupi. Dia pun bertekad berbakti untuk Talaud di sisa hidupnya.
“Bersama keluarga dianugerahui Tuhan Maha Kuasa berkat. Oleh karenanya tidak ada sedikit niat untuk menperkaya diri sendiri. Gaji saya sebagai bupati jika terpilih diberikan kepada rakyat. Niat saya maju di Pilkada semata-mata karena sebagai putra daerah saya merasa ada perintah dan amanah dari Tuhan untuk berbakti di tanah kelahiran saya,” katanya.
Bersama Heber Pasiak, lanjutnya, membangun Talaud harus dengan kejujuran, keikhlasan serta penuh kesederhanaan. “Untuk itu, harus ada komitmen dengan masyarakat yang membutuhkan pemimpin dengan tidak membeda-bedakan antara yang kecil dan besar, jauh dan dekat karena semua sama di mata Tuhan,” kata dia.
Dia menegaskan, sebagai pemimpin harus mengikuti apa kemauan rakyat. “Saya sampaikan ke Pak Heber, kita tidak boleh sombong. Karena kita dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,” tukasnya.
‘Gaco’ PDI Perjuangan, Golkar dan Hanura ini mengusung tagline jujur, sederhana dan berkomitmen. Calon Wakil Bupati Heber Pasiak pun mengamininya dengan program pro-rakyat. “Jujur, ketika sebagai pemimpin kita transparan dalam pengelolaan keuangan daerah. Transparan terhadap program-program yang akan dikerjakan,” tegasnya.
Sederhana, lanjutnya, tak perlu hidup mewah, tak perlu ada mobil dinas baru, tak perlu ada jetski dan lebih dekat dengan rakyat. Karena lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. “Sementara itu berkomitmen menjalankan program-program pro rakyat. Mulai dari pendidikan, perikanan, pertanian dan kesehatan. Memberikan pendidikan gratis untuk pendidikan dasar dengan Bosda (Biaya Operasional Sekolah Daerah) dan pemberian Kartu Talaud Pintar (KTP). Pembangunan kesehatan melalui perbaikan dan peningkatan fasilitas sarana, prasarana serta tenaga medis di RSUD serta Puskesmas. Selanjutnya Kartu Talaud Sehat (KTS) bagi masyarakat miskin dan yang belum mampu menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS), ambulance gratis jemput antar di Puskesmas dan RSUD. Mewujudkan tata kelola pemerintahan daerah dan desa yang bersih efektif, efisien dan demokrasi. Terpercaya dalam prinsip profesional dan kompetensi dalam pelayanan masyarakat serta patuh dan taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Percepatan dan pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, air bersih dan irigasi, mengatasi masalah BBM dengan membangun SPBU, serta mengatasi masalah listrik,” jelasnya.
Dia menambahkan, pihaknya juga komit memberdayakan dan memberi penguatan kepada pemerintah kecamatan serta kelurahan dan desa. “Selain pemberian dana duka, kami juga memiliki program yang akan dibuat Peraturan Daerah (Perda) tentang bantuan operasional lembaga agama dan adat. Ini sebagai wujud pemerintah hadir di tengah masyarakat. Karena selama ini, masalah-masalah di kampung yang terjadi, para tokoh agama dan adat inilah yang terdepan. Sebagai penghargaan kepada mereka yang sudah bekerja, maka kami akan memberikan bantuan operasional,” tandasnya.
(YOUNGKY)











