Ist
MANADONEWS, KOTAMOBAGU— Anjloknya harga kopra membuat petani Kelapa malas memanen hasil kepala di kebun merka. Pasalnya, biaya pengeluaran untuk mengelolah kelapa tidak sesuai dengan hasil panen.
Hal tersebut dikatakan langsung Lila Bambuena, petani kopra di Keluarhan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara.“Kelapa saya tidak akan diolah menjadi kopra, karena harganya sangat rendah,” kata Lila, Jumat (30/11/2018).
Lanjutnya, harga saat ini membuat kami petani dilema. “Coba mikir, Harga panjat kelapa Rp5 ribu perpohon, belum mengupas kulit dan lainnya hingga jadi kopra. Namun, harga kopra hanya Rp.2,700- kan tidak sesuai dengan pekerjaan. Terkesan sama dengan kerja bakti,”ungkapnya.
Tambahnya, selama dirinya menjadi petani kopra harga yang paling rendah ada di tahun ini. “Awalnya Rp 9 Ribu per Kg, turun Rp 6 ribu, turun lagi 3 ribu, sekarang tinggal Rp 2 ribu. Tentu ini tidak sebanding dengan hasil pengeluaran untuk pengelolaan kopra kami,” terangnya.
Lila berharap, dengan adanya kondisi harga kopra saat ini, kiranya Pemkot Kotamobagu dan Provinsi Sulawesi Utara, dapat mencarikan solusi. “Kondisi ini harus cepat ditangani, mengingat kami punya beban untuk membiayai Istri, anak dan cucu serta biaya sekolah dan lainnya. Semoga pemerintah cepat mengambil langkah agar masalah ini tidak terlalu lama kasihan kami, karena sumber penghasilan utama kami adalah kopra,”harapnya.
(MLS)












