Pemerhati Lingkungan Bolmong Minta Pengusaha Galian C Disungai Poigar Diproses Hukum

  • Whatsapp

Pemerhati Lingkungan Bolmong, Abdul Azis Daeng Malinta

BOLMONG,MANADONEWS,-.Berdasarkan UU No 4 Tahun 2009 dan PP No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara termasuk memuat tentang Tata Cara Pemberian Izin Usaha Pertambangan Batuan.

Bacaan Lainnya

Usaha pertambangan di kelompokkan dalam 5 golongan, yakni :
1. Mineral radioaktif antara lain: radium, thorium, uranium.
2. Mineral logam antara lain: emas, tembaga.
3. Mineral bukan logam antara lain: intan, bentonit.
4. Batuan antara lain: andesit, tanah liat, tanah urug, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, pasir urug
5. Batubara antara lain: batuan aspal, batubara, gambut.

Aktivitas galian C disungai Poigar.

 

Berdasarkan UU diatas, berarti aktivitas penambangan galian C yang ada di sungai Poigar Desa Mondatong Kecamatan Poigar Kabupaten Bolmong masuk kategori no 5, yaitu Pertambangan Batuan.

Olehnya oknum pengusaha tersebut wajib memiliki izin yang meliputi, Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dan Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Baca Juga:  Gubernur Minta Warga Sulut Tidak Tersulut Isu Demo Jakarta

Sedangkan untuk ketentuan pidana  pelanggaran UU No 4 Tahun 2009, yaitu :

a)  Setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

b)  Setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

c)  Setiap orang yang mengeluarkan IUP yang bertentangan dengan Undang-Undang ini dan menyalahgunakan kewenangannya diberi sanksi pidana paling lama 2 tahun penjara dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Kendaraan truk mondar-mandir mengangkat material pasir.

 

Namun sangat disayangkan, dari pengakuan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bolmong, Abdul Latif bahwa aktivitas ini tak memiliki ijin.

“Itu memang tidak ada ijin dan masih ilegal. Jika ada maka bisa dikenakan sanksi berupa pencabutan ijin,” ujar Latif saat dihubungi via telepon seluler, Sabtu (5/1/2019).

Baca Juga:  Komitmen Pemprov Sulut Selamatkan Danau Tondano, 100 dari 300 Hektar Eceng Gondok sudah Diangkat

Atas hal inilah, Abdul Azis Daeng Malinta selaku Pemerhati Lingkungan Bolmong meminta agar pengusaha galian c tersebut diproses hukum sesuai UU yang berlaku.

“Kan sudah jelas Kepala DLH Bolmong mengatakan bahwa usaha ini tak memiliki ijin. Di Undang-undang diatas terkait sanksinya disebut bahwa setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp.10 Miliar,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, jika ada ijin pasti usaha galian C ini akan berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kalau begini, namanya pencurian hasil alam. Harusnya diselidiki dalangnya dan selanjutnya diproses hukum agar ada efek jera bagi yang lain,” pungkas Asis yang dikenal sangat vokal.

Sebelumnya, dari hasil investigasi dilapangan oleh Tim Media ManadoNews, aktivitas ini sudah dilakukan sejak lama, yang pada waktu lalu dilakukan penggalian di sungai yang berada di belakang Desa Mondatong.

Namun, sekarang sudah menggali dekat dengan jembatan yang jaraknya hanya sekitar 20-an meter.

Penggalian ini pula dilakukan dengan menggunakan alat berat berupa eksavator dan diangkut dengan beberapa kendaraan Dum Truck yang  mondar-mandir mengangkat material pasir.

Baca Juga:  Dinas Ketahanan Pangan Gelar Pasar Murah di Lolak

Dengan adanya aktivitas ini nantinya bisa berdampak pada kondisi jembatan yang merupakan penghubung jalan trans Sulawesi serta pada beberapa desa yang dilewati air sungai jika terjadi banjir kiriman.  Desa-desa tersebut bukan hanya di Kabupaten Bolmong, namun juga yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan.
(stvn)

Pos terkait