Talk Show Pancasila: Kemerdekaan Jangan Disalahgunakan



Yogyakarta, Manadonews.co.id – Pusat Studi Pancasila Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta menyelenggarakan Talk Show Pancasila dan Bela Negara, Sabtu (21/12/2019).

Acara dengan tema “Meneguhkan Jati Diri Bangsa dalam Melawan Radikalisme dan Intoleransi” dihadiri lebih dari 200 orang peserta yang berasal dari 30 wakil Perguruan Tinggi, 10 oragnisasi masyarakat, dan mahasiswa UPN Yogyakarta.

Dalam sambutannya Rektor UPN Yogyakarta Muhamad Irhas Effendi menyampaikan bahwa talk show ini sangat relevan menghadapi era digitalisasi dan jati diri bangsa.

“Dengan diskusi diharapkan akan didapatkan bagaimana cara untuk menghadapi era digitalisasi dan jati diri yang kuat,” jelasnya.



Selain itu, Effendi juga menjelaskan perlunya pelatihan bela negara agar nilai-nilai bela negara tertanam dalam setiap individu.

“Siapapun perlu adanya internalisasi nilai-nilai Pancasila. Termasuk yang mau bergabung di UPN, harus melalui test dan pelatihan bela negara tanpa terkecuali,” tegasnya.

Hal ini diharapkan adanya pegangan nilai-nilai Pancasila untuk bisa bertahan dari semua tantangan yang di hadapi.

Hal lain disampaikan oleh Guru Besar Universitas Gajah Mada Koentjoro menjelaskan kemerdekaan itu ada batasnya, yaitu hak kemerdekaan orang lain.

“Kita harus memahami arti kemerdekaan, semua orang itu merdeka tetapi ada batasnya yaitu hak kemerdekaan orang lain. Harus diterapkan terlebih dahulu cinta, rasa dan bangga,” tegas Koentjoro.

Selain itu, Koentjoro juga menjelaskan bahwa masih banyak hal yang menjadi musuh besar bangsa.

“TIdak percaya diri, kebodohan, kemalasan, intoleransi, radikalisme, KKN, dan masih banyak lagi. Hingga banyaknya bangsa Indonesia yang lebih bangga menggunakan produk dan bahasa asing dari pada asli Indonesia menjadi masalah bangsa saat ini,” jelasnya.

Koentjoro menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia.

“Bangga menjadi bangsa Indonesia dengan semua yang ada di dalamnya meliputi peradaban nusantara, budaya, bahasa, aneka hayati,dan kekayaan alamnya,” jelas Koentjoro.

Hal senada disampaikan oleh Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi (BPIP) Antonius Benny Susetyo. Benny menjelaskan bahwa tantangan bangsa saat ini adalah penggunaan teknologi tanpa adanya filtrasi dan edukasi.

“Era digitalisais menjadikan hilangnya kepakaran dan kedalaman. Semua orang dapat bersuara di media baru tanpa adanya dasar yang kuat. Seringkali hanya sensasi belaka,” jelas Benny.

Dirinya menegaskan bahwa dampak negatif dari era digital adalah isu SARA dan intoleransi sehingga munculnya diskusi-diskusi berisi kebencian dan permusuhan.

“Kesalahan dalam pemakaian teknologi saat ini adalah munculnya masalah-masalah intoleransi dan ruang publik yang berisi ujaran kebencian karena tidak bisa menerima kemajemukan,” jelasnya.

Romo menambahkan bawah masyarakat Indonesia juga harus ingat bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari dukungan negara-negara lain. Sehingga masyatakat pun harus bisa menerima segala perbedaan dan kemajuan zaman sekarang.

“Harus diingat bahwa kita harus menerima perbedaan dan perkembangan zaman. Karena bangsa Indonesian bisa merdeka tidak terlepas dari dukungan negara-negara lain,” tambahnya.

Sebagai penutup Benny menegaskan bahwa generasi millennial harus mencontoh Generasi 28 yang tak pernah mengeluhkan makna kemerdekaan, tetapi memperjuangkan kemerdekaan.

(***/YerryPalohoon)

Baca Juga:  HUT Kotamobagu ke- 9, Agus Suprijanta: Ke Depan Harus Lebih Baik!