Makna Kematian Yesus Kristus melalui Ibadah Jumat Agung Live Streaming

Ibadah live streaming di rumah masing-masing berlangsung khusuk


Tombulu, Manadonews.co.id – Ancaman wabah pandemi virus corona Covid 19 tak menyurutkan iman umat Kristiani di seluruh dunia melaksanakan ibadah Jumat Agung dirangkaikan dengan perjamuan Kudus makan roti dan minum anggur memperingati kematian Tuhan Yesus Kristus.

Demikian pula ratusan kepala keluarga jemaat GMIM Alfa Omega Rumengkor di Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, memperingati Jumat Agung di rumah masing-masing melalui ibadah live streaming dari gedung gereja yang dipimpin Ketua BPMJ, Pdt. Welly Pudihang, STh.

Pembacaan Alkitab, Matius 27: 45-56, dengan judul “Yesus Mati”.

Membacakan khotbah Ketua Sinode GMIM, Pdt. Dr. Hein Arina, MTh, Pendeta Pudihang menjelaskan perbedaan kematian secara umum yang dialami manusia dan kematian Yesus Kristus di kayu salib.

“Kematian manusia universal namun bicara kematian Tuhan Yesus tidak bisa dipisahkan dengan proses penebusan dan pengampunan bagi umat manusia,” terang Pendeta Pudihang.

Dikatakan Pendeta Pudihang, kematian Yesus Kristus di kayu salib memperlengkapi manusia hidup dalam kesucian dan kekudusan.

Secara universal kematian manusia di dunia menyudahi semua pekerjaan dan usaha, tapi kematian Yesus Kristus adalah suatu pekerjaan rohani dalam rangka penebusan dan pengampunan yang utuh atas dosa-dosa manusia.

Baca Juga:  Bersama Menkop RI, Kandouw Sebut Sarankan PT Baiknya Jangan Jadi ASN, Mending Wirausahawan

“Artinya, melalui kematian di kayu salib ada pembebasan, pelepasan dan penyelamatan dari dosa-dosa. Sangat penting di Jumat Agung di perjamuan kudus makan roti dan minum anggur bersama,” tutur Pendeta Pudihang.

Ditambahkan Pendeta Pudihang, kematian Yesus Kristus adalah proses penebusan yang utuh bagi manusia dan dunia.

“Perlu dihayati, umat percaya tidak hanya memahami pengampunan dan penebusan tapi bisa mempraktikan secara utuh bagi kehidupan bersama,” jelas Pendeta Pudihang.

Melaksanakan ibadah Jumat Agung di rumah melalui live streaming memberi kesan tersendiri bagi Beatrix Pontoh.

“Pertama dalam sejarah kehidupan manusia selama ribuan tahun, hari ini pertama kalinya umat Tuhan beribadah Jumat Agung di rumah melalui siaran langsung, namun tetap bersyukur,” ujar Beatrix Pontoh.

(YerryPalohoon)