Jangan Anggap Remeh! Waspada Jika Alami Nyeri di Kepala

Manado – Sebagian besar orang sudah pernah mengalami sakit kepala, diawali  rasa seperti ditusuk-tusuk, diiris, ditekan, berdenyut, berat, tegang, perih, dan mau pecah. Ada juga rasa pusing berputar, kepala seperti ringan dan limbung.

dr. Arthur Mawuntu, SpS, dari
Instalasi Promosi Kesehatan RSUP Kandou,  saat mengelar penyuluhan di ruang tunggu Poliklinik Bedah Rawat Jalan Rabu, (10/6/2020), menjelaskan beberapa materi kesehatan, misalnya sakit kepala dan pusing, pasien kerap mengalami mual, muntah disertai demam atau kaku kuduk, sensitif pada cahaya maupun bunyi.

Dokter Ahli  Saraf ini menuturkan, nyeri kepala diklasifikasi dua bagian. Yaitu, primer dan sekunder.

“Nyeri kepala primer umumnya tidak mematikan serta tidak ada penyebab yang jelas. Dikategorikan dengan 3 model, yaitu tension, cluster dan migren. Nyeri kepala primer paling banyak ditemukan,” jelas dokter Arthur.

Ciri-cirinya, berlangsung selama 30 menit sampai seminggu, terasa ringan sampai berat dan hanya butuh pengobatan biasa. Tension ditandai seperti tertekan atau kencang, biasanya terjadi di kedua sisi kepala, rahang dan leher.

Baca Juga:  Mengenal Jenis - Jenis Nyeri Kepala

“Sering menjadi lebih berat di malam hari, acap kali dapat ditemukan nyeri tekan pada otot-otot di kulit, dan diperberat karena stres,” tandas dia.

Migren, biasanya mengenai salah satu sisi kepala saja. Nyerinya seperti berdenyut, bersifat sedang hingga berat dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Nyeri ini diperberat jika aktivitas naik-turun tangga atau aktivitas fisik lain serupa. Saat serangan, dapat ditemukan gejala penyerta berupa mual-muntah, dan menjadí lebih sensitif terhadap cahaya atau bunyi-bunyian. Serangan berlangsung 4-72 jam.

Cluster, siklus serangan nyeri yang datang tiap hari, terjadi beberapa kali sehari dan tiap serangan berdurasi singkat. Bisa bertahap hingga 1-4 bulan dan diselingi masa bebas serangan selama 6- 24 bulan.

Didapati keluhan seperti gelisah, berjalan mondar-mandir, bahkan ada pasien yang sampai membenturkan kepalanya ke dinding saat serangan. Nyeri kepala klaster bersifat sesisi, yaitu di sekitar mata, pelipis dan rahang atas.

“Ditandai juga rasa perih dan sangat berat, pasien sering terbangun dari tidur karena serangan,” kata dokter Arthur.

Baca Juga:  Dunia Sastra Berkabung, Yudhi MS Tutup Usia

Mata di sisi yang terkena sering berair, memerah dan bengkak, bahkan hidung tersumbat dan berair. Nyeri Kepala Sekunder disebabkan oleh kelainan atau penyakit tertentu di otak.

Pasien membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lanjutan jika terdapat tumor, infeksi, perdarahan otak, sumbatan aliran darah otak dan lainnya.

“Pada kondisi tersebut, segera hubungi dokter untuk pengobatan. Kemudian modifikasi gaya hidup dan hindari faktor pencetus nyeri kepala,” pungkas dokter Arthur. (Ben)