Khotbah Minggu: Rasul Paulus Ajarkan Bertolong-tolongan, ternyata sama dengan Gotong Royong atau Mapaluse

Tombulu, Manadonews.co.id – Kitab Korintus adalah surat terpanjang yang ditulis oleh Rasul Paulus.

Korintus salah satu kota di Yunani merupakan kota perdagangan punya banyak latar belakang kehidupan sosial.

Demikian pengantar di awal khotbah Guru Agama (GA) Fenny Mamuaja, S.PAK, ketika memimpin ibadah Minggu, 28 Juni 2020, jemaat GMIM Alfa-Omega Rumengkor, yang disiarkan langsung melalui live streaming Facebook dari gedung gereja.

Pembacaan alkitab, 1 Korintus 16: 1-9, dengan judul ‘Bantuan untuk Jemaat di Yerusalem’ dan ‘Rencana Paulus’.

“Ketika itu terjadi perpecahan dan penganiayaan yang dialami oleh orang-orang Yahudi dari pemerintah Romawi. Ajaran Yesus Kristus melalui Paulus dipertentangkan,” jelas GA Fenny Mamuaja.

Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Korintus bahwa persembahan sangat penting untuk menunjang pelayanan.

Paulus memberikan saran praktis soal penatalayanan.

Pertama, persembahan jemaat diberikan pada hari pertama di minggu berjalan.

“Nah, inilah yang dilakukan semua umat Kristiani di seluruh dunia seperti ibadah hari Minggu yang dilakukan sekarang,” tutur GA Mamuaja.

Selanjutnya, persembahan yang diberikan pada setiap peribadatan akan jadi berkat bagi orang lain. Persembahan sesuai kemampuan masing-masing disertai ketulusan.

Baca Juga:  DPRD Mitra Turlap di 15 Desa, Camat Walukow: Aman Tidak ada Masalah

“Untuk keteraturan Paulus menuntun supaya jemaat mempersiapkan lebih dahulu pemberian sebelum dia datang. Persembahan adalah wujud hidup bertolong-tolongan menanggung beban,” tandas GA Fenny Mamuaja.

Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa kepercayaan kepada Yesus Kristus wajib disertai tindakan-tindakan nyata membantu orang lain.

Bertolong-tolongan yang diajarkan Rasul Paulus juga diadopsi oleh pendiri bangsa Indonesia ketika meletakkan dasar negara ideologi Pancasila.

“Bertolong-tolongan sama dengan gotong-royong atau mapaluse yang menjadi filosofi hidup orang Minahasa. Mapaluse pada pembukaan lahan baru, mapaluse ketika panen dan mapaluse dalam setiap aktivitas kehidupan,” terang GA Mamuaja.

Begitu pula yang dilakukan jemaat gereja yakni bergotong-royong di tengah pandemi Covid-19.

“Saling membantu di tengah kesulitan hidup. Yang berkelebihan memberi bagi yang berkekurangan karena berkat harus dibagikan kepada sesama sesuai ajaran Kristus,” tukas GA Mamuaja.

GA Fenny Mamuaja menambahkan, di tengah wabah Covid-19, pemerintah Indonesia sebagai wakil Allah telah melakukan banyak tindakan nyata melalui pemberian berbagai bantuan kepada masyarakat yang terdampak.

Baca Juga:  Inovasi Dinas Pertanian Mitra Sajikan 17 Program Prioritas

“Kita jangan melakukan tindakan-tindakan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Tidak melakukan tindakan merugikan orang lain untuk kepentingan pribadi dan kelompok dengan provokasi dan tindakan jahat lainnya. Sebaliknya bantulah pemerintah untuk keluar dari kesulitan,” kata GA Mamuaja.

Terakhir, kembali diingatkan agar jemaat Tuhan memberi yang terbaik dalam setiap bentuk pelayanan untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Seperti jemaat Korintus yang diingatkan Paulus memberi persembahan dalam kehidupan keteraturan.

“Pemberian persembahan yang tulus merupakan bentuk ketaatan kepada Tuhan. Tuhan pasti memberkati umatNya,” pungkas GA Fenny Mamuaja.

(YerryPalohoon)