Reformasi 1998 Berawal dari Peristiwa Kudatuli 1996, Ini Testimoni Pelaku Sejarah Korban Penyerbuan Kantor DPP PDI 24 Tahun Silam

Manado – Reformasi 1998 didapatkan melalui perjuangan seluruh elemen masyarakat melawan rezim represif Orde Baru dipimpin Soeharto.

Perjalanan reformasi Indonesia tak lepas dari peristiwa 27 Juli 1996 yang dikenal dengan “Kudatuli”.

Kudatuli adalah peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro nomor 58 Jakarta oleh sekelompok orang pendukung Kongres PDI Medan yang didukung aparat.

Penyerbuan berakibat banyak korban bertujuan menguasai kantor DPP PDI yang dikuasai kader dan simpatisan PDI pro Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum PDI defacto yang diakui kader dan simpatisan PDI seluruh Indonesia.

Sonny Supit, kader PDI asal Minahasa, merupakan salah-satu saksi hidup peristiwa Kudatuli menyampaikan testimoni, menceritakan kepada wartawan Manadonews.co.id di rumah kopi K.8 Sario, Kota Manado, Senin (27/7/2020) malam.

Diceritakan Sonny Supit, usaha menduduki kantor DPP oleh pendukung Suryadi didukung aparat sejak Jumat, 26 Juli 1996 malam, namun baru terlaksana Sabtu, 27 Juli 1996 pagi.

“Sekitar 400 orang dalam kantor DPP, tiba-tiba hampir jam 6 pagi datang sekelompok orang turun dari beberapa truk. Awalnya kami kira teman, ketika akan menyapa tiba-tiba ada lemparan batu,” jelas Sonny Supit.

Seketika, lanjut Sonny, suasana jadi mencekam terjadi saling lempar batu mengakibatkan banyak orang jadi korban, luka parah, bahkan diduga ada yang meninggal dunia.

Baca Juga:  Benteng Trisakti PDI Pro Mega Penggagal Kongres Palu Anjangsana ke Panti Asuhan

“Saling lempar selama kurang lebih dua jam hingga jam 8 pagi. Kita sepakat negosiasi namun gagal. Akhirnya, saling serang kembali berlanjut hingga jam 9,” tukas Sonny Supit yang mengaku kena dua lemparan batu dan salah satu lemparan mematahkan tulang lengan dia.

Karena tak mampu meladeni jumlah massa penyerang jauh lebih banyak akhirnya massa pro Megawati mundur ke bagian belakang kantor.

Banyak massa pro Mega yang tidak mundur jadi korban penganiayaan orang-orang berseragam loreng dan terlatih diduga kuat adalah aparat.

“Nah, setelah mereka berhasil masuk dan menguasai gedung, bersamaan juga masuk aparat berseragam putih hitam sepertinya reserse dan brimob Polda. Kami diamankan ke Polda,” tukas Sonny ketika kejadian baru berusia 24 tahun.

Selanjutnya, diutarakan Sonny Supit, dia bersama 124 orang lainnya diproses selama 3 Minggu di Polda Metro Jaya. Mereka diancam dengan Undang-Undang Subversif atau makar.

“Beruntung kami hanya divonis 4 bulan 10 hari,” tutur Sonny sambil menyebutkan beberapa orang Sulut yang ikut dipenjara yakni almarhum Jefry Lengkong, Wempie Lengkong, Jemmy Maukar, ayah dan anak Herman Tulis dan Michael Tulis, Jimmy Karur, Noldy Manengkey dan beberapa orang lainnya.

Baca Juga:  Gagasan Inovatif Sang Kadis, Setiap Kamis Minggu Pertama ASN Disbud Kenakan Pakaian Adat

Ditambahkan Sonny Supit, rezim Soeharto ketik itu sengaja menutupi proses penangkapan hingga persidangan para pejuang demokrasi termasuk para kader PDI pro Mega sehingga oleh keluarga di daerah mereka dianggap sudah meninggal dunia.

“Karena pasca penyerbuan kantor DPP PDI selama berbulan-bulan keluarga tidak menerima kabar tentang kami. Bahkan, keluarga saya sudah melaksanakan ibadah tiga malam karena mengira saya sudah meninggal dunia,” kenang Sonny.

Akhirnya di kesempatan peringatan ke 24 tahun peristiwa Kudatuli, Sonny Supit berpesan kepada seluruh kader PDI Perjuangan tetap menjaga keutuhan NKRI, mempertahankan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Kader PDI Perjuangan jangan cengeng. Bersama kita berjuang untuk kejayaan Indonesia terutama memenangkan PDI Perjuangan pada kontestasi Pilkada serentak 9 Desember 2020,” pungkas Sonny Supit.

Sebelumnya diberitakan, reformasi 1998 tak lepas dari peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) yakni penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta.

Memperingati peristiwa Kudatuli, sejumlah tokoh dan pelaku sejarah berkumpul memberikan pesan moral kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia.

“Pesan moral bahwa ada yang terlewatkan dalam sejarah bangsa yang seharusnya jadi tonggak sejarah reformasi politik di Indonesia yakni Sabtu kelabu 27 Juli 1996,” jelas Ferry Sangian kepada wartawan Manadonews.co.id di rumah kopi K.8 Sario, Senin (27/7/2020) sore.

Baca Juga:  Tidak Main-main! Puluhan Tim Relawan Bergerak Menangkan Olly-Steven dan Maurits-Hengky di Kota Bitung

Ferry Sangian atas nama pelaku sejarah peristiwa Kudatuli, mendesak kepada Presiden Joko Widodo menetapkan 27 Juli Hari Reformasi Indonesia.

“Setelah peristiwa Kudatuli terjadi akumulasi gerakan rakyat melakukan perlawanan terhadap rezim Orde Baru,” tandas Sangian sambil menambahkan peringatan Kudatuli tahun ini mengambil tema ‘Jiwa-jiwa yang Membisu’.

Senada dikatakan Olden Kansil.

“Kudatuli itu membela PDI dan Ketua Umum Defacto, Megawati Soekarno Putri. Kudatuli bukan eksklusif PDI tapi milik rakyat jadi sejarah perlawanan terhadap Orde Baru,” tukas Kansil.

Hal sama dikatakan Jimmy Tindi, tokoh sekaligus salah-satu pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD).

“Perlu diingat, tanpa Kudatuli tak ada reformasi 98,” tukas Ketua PRD Sulut ini pada pertemuan yang dihadiri Benny Londah, Harold Lumempouw, Jopie Komaling dan sejumlah pelaku sejarah lainnya.

Diketahui, memperingati peristiwa Kudatuli ke 24 tahun 2020 ini, para pelaku sejarah Kudatuli bersama kader PDI Perjuangan akan lakukan pemasangan lilin di eks Kantor DPD PDI di Jalan Martadinata nomor 8, Kota Manado.

(YerryPalohoon)


.

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
3128 votes

This will close in 10 seconds