BINA ROHANI KRISTEN- Tema: Mari Budayakan “Bacarita Bae”(Pembacaan: Kisah Para Rasul 17:1-9)

=Oleh Pdt. YOUBEL NELWAN, M.Th=

Salam sejahtera bagi kita semua!
Bersyukur kepada Tuhan Yesus Kepala Gereja dan pemilik pelayanan Gereja Masehi Injili di Minahasa yang terus memelihara kehidupan kita sampai saat ini.

Berdasarkan tema Mingguan dalam perenungan warga GMIM adalah Demokrasi bukan demonstrasi. Sebelumnya kita harus memahami dulu tentang Negara dan Gereja bukanlah bertolak belakang tetapi justru sebagai mitra.

Bagaikan sebuah mata uang yang memiliki dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Demikianlah negara dan Gereja harus bersinergi menciptakan suasana yang damai, adik dan makmur. Seperti dalam pembacaan GMIM pada tanggal 9-15 Agustus dimana Nehemia sebagai Bupati dan Ezra sebagai Nabi berkolaborasi dalam membangun tembok Yerusalem.

Akan salah kita jika memandang negara dan Gereja adalah sesuatu yang berbeda antara langit dan bumi, apalagi menciptakan Negara dalam Gereja.

Berdasarkan tema demokrasi bukan demonstrasi sebenarnya menunjuk kepada demontrasi yang memprovokasi sehingga menciptakan kegaduhan yang mengakibatkan anarkis atau kekerasan.

Memang sistem pemerintahan kita menganut sistem demokrasi yang artinya pemerintahan dari rakyat. Dan demokrasi tidak terlepas dari demonstrasi sebagai wujud menyampaikan pendapat atau aspirasi dari rakyat kepada pemerintah.

Baca Juga:  LMP Persiapkan 10 Ribu Massa Untuk Demo Pemkab Bolmong

Ini tidaklah salah sejauh demonstrasi dilakukan dengan beretika.
Saudaraku… Mother Theresia pernah berkata “jika kita menghakimi atau menilai orang-orang, maka kita tidak punya waktu untuk mencintai dan mengasihi mereka”.

Inilah yang menggambar suasana hati umat Yahudi di Tesalonika ketika kehadiran Paulus dan Silas dalam pemberitaan Injil di Tesalonika selama 3 hari sabat berturut-turut justru membuat hati umat Yahudi penuh dengan kebencian dan Iri hati.

Ajaran Paulus dan Silas hendak menyampaikan tentang Yesuslah Mesias itu yang selama ini dinanti-nantikan oleh umat Yahudi. Yesuslah Mesias yang menderita, mati, bangkit dan naik kesorga.

Sehingga pelayanan Paulus dan Silas ada yang menerimanya tetapi ada juga yang tidak. Yang menerima bertobat dan menjadi percaya sedangkan yang tidak terima justru memilih untuk memprovokasi umat.

Yang bertobatan ada beberapa orang Yahudi dan Yunani termasuk perempuan-perempuan terkemuka.

Padahal kalau kita perhatikan model pengajaran Paulus dan Silas memiliki sifat terbuka artinya ada ruang berkomunikasi untuk berdiskusi dan tanya jawab tetapi itu tidak dimanfaatkan oleh sebagian umat Yahudi tetapi justru lebih memilih untuk memprovokasi umat supaya tercipta keributan.

Jika kita perhatikan ayat 6 mereka berteriak katanya “orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia telah datang juga kemari”. Siapa pengacau yang dimaksudkan itu? Jelas menurut mereka adalah Paulus dan Silas.

Baca Juga:  Cegah Covid19, Shalat Ied di Lapangan Kotamobagu dan MABM serta Takbir Keliling Ditiadakan

Padahal pelayanan mereka tidaklah membawa kekacauan seperti yang dimaksudkan mereka. Justru merekalah yang penuh kebencian dan iri hati yang menciptakan suasana yang tidak kondisif.

Apalagi jika kita lihat di ayat 5 mereka juga memprovokasi beberapa penjahat dari antara petualang-petualang dipasar katakanlah preman pasar untuk mengadakan keributan dan mengacau Tesalonika.

Mereka juga hendak menangkap Paulus dan Silas untuk dihadapkan pada pembesar-pembesar kota. Tetapi niat jahat itu diketahui oleh Yason. Siapa Yason itu? Dia adalah salah satu umat Yahudi yang percaya kepada Yesus sehingga Yason mengamankan Paulus dan Silas dirumahnya dan sebagai gantinya Yasonlah dan kawan-kawan yang ditangkap dan diseret ke hadapan Pejabat-pejabat kota/ pembesar-pembesar kota.

Saudara-saudaraku… bagian pembacaan saat ini hendak mengajarkan kepada kita untuk selalu mencintai damai bukan keributan. Gereja merupakan bagian dari bangsa Indonesia harus menunjukan identitas Kekristenan kita.

Kita juga memiliki hak dan kuasa untuk menyalurkan aspirasi secara demokratis yang santun dan beretika bukan menghasut sehingga ujung-ujungnya anarkis.

Sebagai warga Gereja tidak lepas dari berbagai pergumulan baik pribadi maupun keluarga kita. Jika kita perhatikan situasi pandemi covid 19 ini dengan anjuran untuk berada dirumah, menjahui kerumunan dan jaga jarak.

Baca Juga:  Pemkot Targetkan Nilai A LKIP, Pejabat Daerah Tandatangani Mou

Kadangkala menjadi bosan dan memicuh konflik. Menurut data dari Komnas perempuan justru Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) meningkat dimasa pandemi covid-19 dikarenakan masalah ekonomi dan stres akibat meningkatnya pekerjaan rumah tangga.

Maka marilah berangkat dari pembacaan saat ini kita diajak untuk bagaimana menyelesaikan masalah dengan budaya “bacerita bae” baik keluarga dan sesama kita.

Jangan pernah memutuskan sebuah masalah dalam keadaan marah atau emosi yang tidak stabil tetapi dengan hati yang tenang dan damai.

Dan yang penting juga jauhi perasaan iri hati dan rasa benci seperti merasa senang jika orang lain susah atau susah melihat orang lain senang tetapi sebaliknya sebagai orang percaya kita harus senang melihat orang lain bahagia dan bahagia melihat orang lain senang.

Dan yang paling penting beritakankah kabar Injil Yesus Kristus yang menderita, mati, bangkit dan naik kesorga ke sesama kita meskipun banyak hambatan dan tantangan. TUHAN YESUS BERKATI ! Amin.(***)

Pilgub 9 Desember 2020


Siapakah Gubernur Pilihan Anda?
5571 votes

This will close in 10 seconds