Ferry Liando Beberkan Penyebab Petahana dan Keluarga Petahana Tumbang di Sulut

Manado – Petahana tumbang tak bisa digeneralisasi, sebab ada perbedaan fenomena kekalahan di masing-masing daerah.

Demikian diungkapkan Ferry Daud Liando dari Konsorsium Pendidikan Tata Kelola Pemilu, kepada wartawan Manadonews.co.id di Manado, Sabtu (12/12/2020), mengomentari kekalahan banyak petahana dan kerabat (keluarga dekat) petahana di Pilkada.

“Namun secara garis besar harus diakui tumbangnya sejumlah petahana kepala daerah disebabkan PDI Perjuangan adalah satu-satunya parpol yang paling solid di Sulut saat ini,” jelas Ferry Liando.

Struktur kelembagaan PDI Perjuangan, menurut Liando, sangat kuat dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, cabang, hingga ranting dan anak ranting.

Itulah sebabnya hampir semua calon yang diusung PDI Perjuangan menonjol di daerahnya.

“Di satu sisi calon-calon yang diusung PDI Perjuangan adalah figur-figur yang mengakar dan memiliki nama besar di masyarakat,” tukas dia.

Faktor lainnya, tambah Ferry Liando, para pejabat yang ditempatkan di daerah yang ditugaskan untuk mengisi kekosongan sementara itu berbaikan menjalankan visi dengan baik.

“Walaupun kelihatannya para pejabat sementara ini berposisi netral namun kebijakan untuk memaksa ASN di daerah yang dipimpin itu wajib netral sesungguhnya memberikan keuntungan kepada calon-calon yang diusung PDI Perjuangan,” katanya.

Baca Juga:  Dinas Pendidikan Juarai Lomba Senam Kreasi Khas Minahasa 2018

Dosen Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi ini, satu per satu menguraikan kekalahan para kerabat (keluarga dekat) kepala daerah di sejumlah kabupaten dan kota.

Menurutnya, di Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara dan Bolmong Timur, calon yang merupakan kerabat kepala daerah setempat kalah karena bupati tersebut terkonsentrasi pada pemenangan dirinya di Pilkada Sulut.

“Banyak ASN yang justru tidak memberikan dukungan karena kurang dikontrol dan berpindah pilihan,” jelas Liando.

Sementara di Kota Tomohon, ungkap Liando, kerabat walikota tumbang karena memang calon yang diajukan Partai Golkar kalah ‘start’ sosialisiasi ke publik.

Golkar sebagai partai pengusung tidak solid memobilisasi dukungan.

“Tokoh Golkar seperti Syerly Sompotan justru mendukung pasangan calon yang diusung PDI Perjuangan,” tutur Ferry Liando.

Di Kota Bitung, kata Liando, petahana tumbang karena ia bekerja sendiri. Nasdem sebagai partai pengusung tidak banyak terlibat dalam penggalangan suara.

“Apalagi, banyak elit Partai Nasdem terkonsentrasi mendukung kader Nasdem lain yang berkompetisi di tingkat provinsi,” tandasnya.

Sementara di Kota Manado, ujar Ferry Liando, kerabat walikota kalah karena terpecahnya konsentrasi ASN dan aparat kelurahan dalam memberikan dukungan antara pasangan Paulina Runtuwene-Harley Mangindaan (Paham) dan Mor Bastiaan-Hanny Joost Pajouw (Mor-HJP).

Baca Juga:  Paskibraka Sulut 2019 Dapat Motivasi Dari Wagub Kandouw

Ketika dukungan aparat terbagi merata maka paslon PDI Perjuangan, Andrei Angouw-Richard Sualang mendapat suara lebih.

“Jika saja hanya salah satu dari keduanya yang tampil, kondisi bisa jadi lain. Sebab, bisa jadi ASN dan aparat akan terkonsentrasi dukungan kepada satu paslon,” pungkas Ferry Liando.

(JerryPalohoon)