Atas Ijin Raja Tompoliu, Rumah Ibadah Katolik Roma Berdiri 1646 Hingga Bataha Santiago Dibaptis

  • Whatsapp
Makam Raja Tompoliu

TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID – Raja Tompoliu adalah Raja Kedua Kerajaan Maobungang (Manganitu) yang memerintah sejak Tahun 1645 hingga Tahun 1670. Raja Tompoliu adalah anak pertama dari pendiri Kerajaan Maobungang yakni Raja Liungtolosang dengan Sanggiang Ahungsehiwu.

Mula-mula Ibu Kota Kerajaan ada di Kauhis, namun setelah Raja Tompoliu naik tahta Tahun 1645, maka ia memindahkan Ibu Kota ke tepi Pantai yang bernama “Silahe” (Kampung Pinebentengang) dikarenakan Istri dari Raja Tompoliu yakni Sangiang Lawewe adalah merupakan wanita asal Belase – Lahumbia (Kamp Pinebentengang).

Bacaan Lainnya

Kepada manadonews.co.id, Yunus Sinadia (dalam Silsilah Turunan Ke-13) bercerita, setelah menjadi Raja, pada Tahun 1646 (Catatan sejarah dan cerita tutur) Raja Tompoliu mengijinkan Bangsa Portugis untuk mendirikan rumah ibadah Roma Katolik “Paderi” (Padihe nama lokal) di wilayah Kerajaan Maobungang yang mula-mula didirikan disebuah Tanjung yang bernama “Tonggeng Liang”.

“Pada Tahun itu juga sebagai rasa hormat dan sebagai tanda persahabatan Portugis dan Maobungang oleh Pastor “Paderi” anak dari Raja Tompoliu yakni Putra Bataha dibaptis dan diberi nama “Don Jugov Santiago,” ujarnya.

Baca Juga:  Aleg Desak Kejaksaan Selidiki Dugaan Kecurangan ULP Bolmong

Selain itu Raja Tompoliu diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah katolik di Philipina.

“Namun karena sudah tua, Raja memberikan anaknya “Putra Bataha Santiago” untuk ikut pendidikan di Manila Philipina selama 4 Tahun,” katanya.

Lanjut Yunus pada Tahun 1670 setelah kekalahan Bangsa Portugis melawan VOC maka Portugis meninggalkan Pulau Sangihe dan mundur ke Philipina.

Dan ditahun itu juga Raja Tompoliu meninggal karena tua dan digantikan oleh anaknya yakni Raja Bataha Santiago.

Raja Tompoliu sendiri dimakamkan di Tatahikang (Kampung Pinebentengang) dengan makam batu karena keluarga menolak makam gaya Eropa sehingga selain sebagai Raja, Raja Tompoliu juga sepantasnya menjadi Pelita dalam Kegelapan Iman.

“Catatan sejarah dari Jogugu Sirita yang ditulis dengan Bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Almarhum Bapak Guru Ernest Sinadia Tahun 1936 yang kemudian sebagian dikutip oleh Bapak Daniel Manatar dalam Buku Sasahara terbitan Tahun 1985,” tutup Yunus Sinadia yang hingga saat ini rutin dalam membersihkan Makam Raja Tompoliu.

Pos terkait