Manado – Pemilu 2024 berpotensi lebih parah dibandingkan Pemilu 2019 lalu. Buruknya kualitas pemilu akibat kejahatan akan semakin sulit dicegah.
Hal itu disampaikan Dosen Kepemiluan FISIP Unsrat, Ferry Daud Liando, dalam seminar yang digelar Bawaslu RI di Hotel Luwansa Manado, Selasa (21/3/2023).
Liando yang membawakan materi “Tindak Lanjut Hasil IKP 2024” beralasan bahwa pemilu yang merupakan momentum politik peralihan kekuasaan, namun mulai digiring pada kepentingan bisnis, industri maupun doktrinisasi.
“Jadi, konflik yang terjadi selama ini bukan soal urusan politik. Tapi ada kepentingan lain. Banyak pemilik modal ikut berkepentingan soal pemilu,” jelas Ferry Liando.
Pemilik modal yang merasa kesulitan dengan kebijakan pemerintahan saat ini tentu tidak menghendaki status quo. Mereka ingin pergantian rezim.
“Bagi pemilik modal yang merasa diuntungkan dengan kebijakan pemerintah tentu berharap status quo dan menghendaki tidak terjadi perubahan rezim,” tukas Liando.
Pemilu akan terjadi perang antara kelompok konservatif dan progresif. Pemilu juga akan menjadi kepentingan industri.
Saat ini makin menonjol operasi ‘artificial intelegence’. Mesin atau robot mulai mengendalikan tabiat manusia.
“Banyak informasi hoax, adu domba dan penyebar kebencian ternyata ada yang dikendalikan oleh kecanggihan teknologi walaupun operatornya adalah manusia. Ada kepentingan ekonomi dibalik ini,” kata Liando.
Pemilu juga telah menjadi arena perang doktrin yang bernuansa SARA. Politisasi identitas berpotensi lebih marak terjadi.
“Polarisasi masyarakat saat Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pemilu 2019 yang awalnya mulai redup, kini mulai dihidupkan kembali,” jelas Liando.
Sebagian media televisi sudah mulai menayangkan perdebatan aktor-aktor yang terkesan senang mengadu domba publik.
“Bawaslu dan jajaran memiliki tugas yang amat berat pada pemilu kali ini. Bawaslu diberikan kewenangan untuk memastikan pemilu secara berkualitas melalui proses pemilu jujur dan adil,” pungkas Ferry Liando.
Pemateri lain adalah Jojo Rohi dari Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Pusat dan Fentje Bawengan Tenaga Ahli Bawslu RI.
Turut hadir Komisioner Bawaslu Sulut, Supriady Pangellu. (JerryPalohoon)












