Tahuna, MANADONEWS.CO.ID — Pelabuhan Tua Tahuna sore ini berubah menjadi panggung besar yang memancarkan semangat budaya dan kebanggaan daerah. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe di bawah kepemimpinan Bupati Michael Thungari, S.E., M.M. dan Wakil Bupati Tendris Bulahari kembali menghadirkan Festival Seni Budaya Daerah Sangihe 2025, sebuah ajang yang tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga mempererat tali persaudaraan masyarakat Nusa Utara.
Rabu, 12 November 2025, menjadi hari yang dinanti banyak orang. Agenda festival kali ini menampilkan Lomba Masamper, salah satu warisan budaya Sangihe yang telah lama menjadi simbol kekuatan iman, persahabatan, dan kebersamaan masyarakat.
Suasana di sekitar Pelabuhan Tua Tahuna begitu hidup. Ratusan penonton dari berbagai kalangan anak muda, orang tua, hingga wisatawan tumpah ruah memadati area sepanjang jalan boulevard. Mereka datang bukan sekadar menonton, tapi turut larut dalam setiap lantunan nada dan syair penuh makna yang menggema dari panggung utama.
Babak pertama lomba menampilkan tiga grup yang menjadi kebanggaan daerah masing-masing:
- Putra Galangan Elisabeth Manado,
- Putra Oikumene Lesabe, dan
- Putra Giansa Batunderang.
Ketiganya tampil luar biasa, menampilkan harmoni vokal yang kuat dan penghayatan mendalam terhadap pesan-pesan sosial yang mereka sampaikan. Irama khas masamper berpadu dengan semangat penonton yang bersorak memberi dukungan, menjadikan malam itu terasa begitu hangat dan meriah.
Bupati Michael Thungari dalam sambutannya sebelumnya menegaskan, festival ini bukan sekadar ajang lomba, tetapi merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam melestarikan seni dan budaya lokal sebagai jati diri masyarakat Sangihe.
“Kita ingin agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya leluhur sebagai cerita masa lalu, tetapi juga menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui festival ini, kita bangun kesadaran bahwa budaya adalah kekuatan pemersatu kita,” ujar Thungari.
Masamper sendiri merupakan bentuk nyanyian tradisional khas masyarakat Sangihe yang diwariskan turun-temurun. Dalam setiap syairnya, terkandung nilai-nilai religius, moral, dan sosial yang menuntun masyarakat pada kehidupan yang harmonis.
Di tengah arus modernisasi dan gempuran budaya luar, masamper tetap bertahan sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Sangihe. Setiap penampilan bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga bentuk doa dan ungkapan sukacita bersama.
Festival Seni Budaya Daerah Sangihe 2025 menjadi bukti bahwa semangat pelestarian budaya masih kuat berakar di hati masyarakat. Dari atas panggung hingga ke tepi laut Pelabuhan Tua Tahuna, gema nyanyian masamper menjadi simbol kebersamaan yang melintasi generasi. (Riko)












