MELBOURNE, Manadonews.co.id – Wangi aroma daging panggang menyeruak di salah satu sudut kota Melbourne, Kamis (25/12/2025).
Di balik kepulan asap BBQ itu, terdengar tawa renyah dan riuh percakapan dalam dialek Manado yang kental.
Bagi puluhan anak muda asal Sulawesi Utara yang merantau di Negara Bagian Victoria, Australia, Natal tahun ini terasa berbeda.
Tak ada pohon Natal di ruang tamu rumah orang tua, tak ada bunyi petasan di lorong kampung, namun kehangatan tetap terasa meski mereka berada ribuan kilometer dari tanah Minahasa.
Mereka adalah para pemuda pemegang Working Holiday Visa (WHV).
Demi merayakan kelahiran Sang Juru Selamat, mereka rela menempuh perjalanan jauh.
Ada yang datang dari daerah pertanian, perkebunan, hingga peternakan yang jaraknya terpaut 80 km hingga 500 km dari pusat kota Melbourne.
Bagi mereka, kumpul bersama bukan sekadar makan-makan.
Ini adalah ajang “baku dapa” (bertemu) untuk melepas rindu yang membuncah akan keluarga di kampung halaman.
”Kami merayakan momentum Natal tahun ini dengan bersenda gurau dan bercerita kisah-kisah Natal. Ini cara kami memendam kerinduan karena tahun ini belum bisa pulang ke Manado,” ujar salah satu peserta di tengah suasana santai tersebut.
Kehadiran para perantau muda ini mendapat sambutan hangat dari warga senior Kawanua yang sudah menetap lama di Melbourne.
Lucky Lexy Kalonta, salah satu sosok senior yang dikenal peduli pada generasi muda Sulut di Australia, mengaku bangga melihat etos kerja anak-anak muda ini.
”Saat ini di Australia ada hampir 200 pemuda-pemudi asal Manado yang tersebar di seluruh negara bagian, dan semuanya sudah mendapat pekerjaan,” ungkap Lucky.
Kabar baik pun terus mengalir.
Menurut Lucky, pada awal bulan ini ada sekitar 27 anak muda asal Sulawesi Utara yang visanya telah disetujui.
“Mereka akan tiba di Melbourne mulai Januari 2026 melalui program WHV maupun student,” tambahnya.
Meski jauh dari orang tua, para pemuda ini mengaku tidak merasa sendirian.
Adanya komunitas warga Kawanua yang solid membuat tantangan di tanah rantau terasa lebih ringan.
”Benua ini masih luas dan peluangnya besar.
Pemerintah Australia membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin bekerja di sini,” jelas Lucky yang diamini oleh Jessika Pakasi, pemudi asal Touliang Oki, Tondano, yang turut menikmati suasana Natal di Melbourne tersebut.
Natal di Melbourne mungkin tak sedingin musim dingin di belahan bumi utara, namun bagi para pemuda Kawanua ini, kebersamaan di hari raya sudah cukup untuk menghangatkan hati mereka sebelum kembali memeras keringat di perkebunan dan peternakan Australia esok hari.
(Hence Karamoy)












