BITUNG, Manadonews.co.id – Meninggalnya seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang diduga terkait dengan aksi pelecehan oleh oknum dosen, memantik reaksi keras dari berbagai pihak.
Salah satunya datang dari jurnalis senior, Reymond “Kex” Mudami.
Melalui catatan mendalam di akun media sosialnya, tokoh yang akrab disapa Kex ini menyampaikan kegelisahan yang menyentuh nurani publik.
Ia menilai kematian ini bukan sekadar kabar duka biasa, melainkan tamparan keras bagi dunia pendidikan.
Kex menuliskan bahwa tragedi ini mengungkap sisi kelam di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan beradab.
Ia menyoroti fakta menyakitkan di mana korban lebih memilih mengakhiri hidup daripada mencari keadilan.
“Pada titik itu, kita patut bertanya dengan jujur dan getir—apa yang membuat seorang mahasiswa merasa kematian lebih mungkin daripada keadilan?” tulis Kex dalam unggahannya.
Menurutnya, kampus yang diagungkan sebagai benteng moral sering kali terjebak dalam relasi kuasa yang timpang antara dosen dan mahasiswa.
Dosen bukan sekadar pengajar, melainkan pemegang kendali atas masa depan akademik mahasiswa.
Ketimpangan inilah yang sering kali menjadi celah bagi kekerasan dan pelecehan untuk bersembunyi di balik hierarki dan bungkamnya ketakutan.
Ia juga memperingatkan bahwa kasus ini bisa jadi hanyalah “puncak gunung es”.
“Di bawahnya mungkin tersimpan banyak kisah serupa: pengalaman pahit yang dipendam, dilupakan, atau dipaksa untuk dilupakan karena rasa malu dan ancaman stigma,” lanjutnya.
Jurnalis senior ini melayangkan kritik tajam terhadap respons institusi yang terkadang lebih mengutamakan citra daripada nyawa.
Ia mempertanyakan apakah mekanisme pelaporan di kampus benar-benar berpihak pada korban atau justru lebih sibuk menjaga nama baik institusi.
“Ketika klarifikasi administratif lebih cepat muncul daripada empati, ketika citra lebih sigap dijaga daripada nyawa; maka sesungguhnya kemanusiaan sedang sekarat di jantung pendidikan,” tegas Kex.
Sebagai penutup catatannya, Reymond Mudami mendesak agar tragedi ini tidak hanya direspons dengan pernyataan normatif atau basa-basi birokratis.
Ia menuntut investigasi independen yang transparan, perlindungan menyeluruh bagi saksi dan korban lainnya.
Sanksi tegas bagi pelaku jika dugaan terbukti, pembenahan ekosistem kampus melalui sistem pelaporan yang ramah korban dan pendampingan psikologis yang nyata.
Ia mengingatkan bahwa jika kematian seorang mahasiswi belum cukup untuk mengguncang kesadaran kolektif, maka yang terkubur bukan hanya masa depan generasi muda, melainkan hakikat dari pendidikan itu sendiri. (VM)










