TOMBULU, Manadonews.co.id – Udara sejuk khas perbukitan menyelimuti Desa Rumengkor di Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, pada Minggu pagi, 11 Januari 2026.
Di tengah embun yang perlahan terangkat, lonceng Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Alfa-Omega memanggil jemaat untuk datang bersyukur.
Bukan sekadar rutinitas, ibadah hari itu menjadi momentum refleksi mendalam di lembaran kesebelas tahun yang baru.
Antara Harapan dan Realitas
Ibadah yang dibagi dalam dua sesi—pukul 06.00 dan 09.00 WITA—ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan.
Di atas mimbar, Pdt. Stephanie Kalalo, M.Th., mengajak jemaat untuk berhenti sejenak dan menengok ke dalam batin.
”Kita bersyukur, hingga hari kesebelas di tahun 2026 ini, kita masih dalam dekapan berkat Tuhan,” ujar Pdt. Stephanie mengawali khotbahnya.

Namun, di balik rasa syukur itu, ia menyelipkan sebuah pengingat tajam. Di awal tahun, setiap orang biasanya memahat rencana dan harapan besar.
Sayangnya, dalam perlombaan mencapai tujuan hidup, tak sedikit orang percaya yang justru memilih “jalan pintas” atau jalan yang salah.
Belajar dari Teguran Nabi Yesaya
Merujuk pada pembacaan Alkitab Yesaya 2: 1-5 yang bertajuk “Gunung Sion, Pusat Perdamaian Bangsa-Bangsa”, Pdt. Stephanie membedah kembali sejarah kelam umat Israel di masa lampau.
Ia mengingatkan bahwa Tuhan pernah murka bukan karena umat-Nya berhenti beribadah, melainkan karena ibadah tersebut telah menjadi rutinitas kosong.
”Mereka datang ke rumah Tuhan, memberikan persembahan, tapi di luar sana mereka menindas. Yang kaya semakin kaya, yang miskin kian terhimpit. Bahkan, mereka berpaling menyembah ilah lain,” jelasnya lugas.
Melalui nabi Yesaya, Tuhan memberikan teguran keras sekaligus undangan untuk kembali.
Pesan ini ditarik ke masa kini dengan tema sentral: “Berjalanlah dalam Terang Tuhan.”
Sebuah ajakan bagi jemaat di Rumengkor agar jangan sampai salah memilih arah demi mengejar ambisi duniawi.
Harmoni dalam Persekutuan
Nuansa ibadah semakin kental dengan persekutuan yang hidup. Alunan puji-pujian mengangkasa, dibawakan dengan penuh penghayatan oleh jemaat Kolom 3, Unsur Pelayanan Kategorial (UPK) BIPRA, serta kesaksian pujian dari Rukun Keluarga Warouw dan Mamuaja.
Pdt. Stephanie menekankan bahwa menjaga persekutuan ibadah adalah kunci agar manusia tidak kehilangan kompas moral.
“Jangan pernah menjauhi persekutuan. Di sinilah kita akan senantiasa dituntun oleh Tuhan agar tetap berada di jalan yang benar,” pesannya sebelum menutup khotbah.
Menatap Masa Depan
Bagi jemaat GMIM Alfa-Omega Rumengkor, ibadah Minggu pagi itu bukan sekadar memenuhi kewajiban agama. Ia adalah “pengisian bahan bakar” spiritual untuk menghadapi sisa tahun 2026.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif, pesan dari bukit Rumengkor ini jelas: setinggi apa pun gunung harapan yang ingin didaki, pastikan kaki tetap melangkah dalam terang-Nya.
(JerryPalohoon)












