Berita TerbaruBerita UtamaDaerahMinahasa

Toga di Atas Bara Cap Tikus: Kemenangan Erald Melawan Arogansi Kekuasaan

×

Toga di Atas Bara Cap Tikus: Kemenangan Erald Melawan Arogansi Kekuasaan

Sebarkan artikel ini

Kakas, MN – Empat tahun silam, nama Erald Kilala dan Desa Kayuwatu di Kakas, Minahasa, sempat memicu gelombang amarah netizen.

Kala itu, hak Erald untuk melanjutkan pendidikan nyaris terenggut oleh arogansi seorang Hukum Tua (Kepala Desa) yang enggan menerbitkan surat keterangan bagi keluarganya sebagai Penerima Manfaat bantuan pemerintah.

MANTOS

Alasannya klise namun menyakitkan: orang tua Erald, Rommy Jendry Kilala, dianggap terlalu vokal mengkritisi penggunaan dana desa.

Arogansi kekuasaan itu akhirnya tumbang setelah ribuan netizen bersuara dan memaksa Bupati Minahasa turun tangan memerintahkan Camat Kakas melakukan sidak. Dengan rasa malu yang tak tertahankan, sang Hukum Tua terpaksa menyerah dan memberikan hak administrasi tersebut. Surat sakti itu menjadi kunci pembuka gerbang kampus bagi Erald, sebuah langkah awal untuk membuktikan bahwa keberanian bersuara tidak boleh dibayar dengan pemutusan masa depan.

Kini, waktu telah menjawab perjuangan itu. Erald Kilala resmi menyandang gelar Sarjana, sebuah pencapaian yang membuat dada sang ayah bergemuruh bangga.

Rommy, yang dikenal sebagai petani sekaligus aktivis anti-korupsi di bawah bendera GMPK Minahasa, melihat keberhasilan putranya bukan sekadar lulus kuliah, melainkan simbol kemenangan rakyat kecil atas kesewenang-wenangan pemimpin desa yang “makan puji”.

Di balik toga yang dikenakan Erald, ada aroma asap pohon aren dan tetesan “Cap Tikus” yang menjadi saksi bisu. Rommy tak malu mengakui profesinya sebagai penyuling minuman tradisional tersebut.

Baginya, setiap tetes hasil sulingan adalah kejujuran yang membiayai uang kos dan kebutuhan harian Erald di perantauan.

Erald pun secara terbuka mengucap syukur kepada Tuhan dan secara unik berterima kasih kepada para penikmat Cap Tikus racikan ayahnya yang telah membantu biaya studinya.

Keberhasilan ini juga menjadi panggung bagi Rommy untuk kembali melempar tantangan terbuka. Jika tuduhan korupsi yang ia suarakan selama ini dianggap fitnah, ia menantang pihak desa untuk melaporkan organisasinya atas pencemaran nama baik.

Baginya, pemimpin desa seharusnya melayani, bukan menjadi raja kecil yang anti-kritik. “Berani kwa!” tegasnya, menyerukan agar masyarakat tidak takut memutus rantai keserakahan yang seringkali bersembunyi di balik jabatan.

Pesan moral dari Desa Kayuwatu ini sangat jelas: kekuasaan memiliki batas, namun semangat pendidikan tidak. Rommy berharap ke depan tidak ada lagi anak-anak di Minahasa yang disandera hak administrasinya hanya karena orang tua mereka kritis.

Ia mengingatkan para calon pemimpin desa masa depan agar tidak menjadi penerus estafet kerakusan, karena ia berjanji akan tetap menjadi garda terdepan yang melaporkan setiap penyimpangan.

Kisah Erald Kilala adalah pengingat bahwa kejujuran seorang penyuling Cap Tikus jauh lebih mulia daripada kehormatan semu seorang pejabat yang korup.

Toga yang diraih Erald kini bukan sekadar kain hitam, melainkan panji keberanian yang berkibar di atas puing-puing arogansi. Sebuah pesan kuat bagi seluruh warga desa di Minahasa: jangan takut bersuara, karena kebenaran, meski disuling dalam bara yang panas, akan tetap murni pada akhirnya.(red)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop
Berita Terbaru

SITARO, MANADONEWS.CO.ID — Sebagai bentuk kepedulian terhadap wilayah binaan yang terdampak bencana banjir bandang, Babinsa Koramil 1301-02/Siau Serka Nofri B. Lambaran bersama pemerintah kelurahan dan masyarakat melaksanakan kegiatan kerja bakti…