TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID – Suasana iman terasa kental di Gereja Pusat Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna saat Perayaan Ekaristi Jumat (20/02/2026) dipimpin Pastor Paroki RD. Jacob Adilang. Misa tersebut menjadi peneguhan rohani setelah sebelumnya para Pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), Dewan Pastoral Stasi, dan Wilayah Rohani mengikuti Sosialisasi Aksi Puasa Pembangunan (APP) oleh Keuskupan Manado di Aula SMP Katolik Tahuna.
Para peserta sosialisasi tampak antusias dan bersemangat mengikuti seluruh materi yang disampaikan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pemateri di wilayah dan stasi masing-masing, guna menggerakkan umat dalam semangat pertobatan dan kepedulian sosial selama masa Prapaskah.
Dalam homilinya, Pastor Jacob menekankan bahwa APP bukan sekadar program rutin tahunan, melainkan kesempatan konkret untuk memperbarui diri dan membangun solidaritas.

“Masa Prapaskah bukan hanya tentang abu di dahi atau pantang dan puasa secara lahiriah. Yang paling penting adalah perubahan hati dan pikiran,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa sering kali manusia mampu menahan lapar, tetapi sulit menahan prasangka, kecurigaan, dan keinginan untuk menghakimi sesama. Karena itu, puasa sejati adalah puasa yang menyentuh batin.
Pastor Jacob membagikan refleksi sederhana namun menyentuh: hidup manusia ibarat sebuah video yang perlu diputar ulang. Dalam masa Prapaskah, umat diajak meninjau kembali sikap, kata-kata, dan pikiran yang mungkin melukai sesama.
“Yang paling sulit bukan berpuasa dari makanan, tetapi berpuasa dari pikiran yang negatif dan hati yang keras,” ungkapnya.
Menurutnya, kesadaran akan kelemahan bukanlah alasan untuk putus asa, melainkan pintu masuk menuju rahmat Allah. Justru ketika seseorang berani mengakui keterbatasannya, di situlah Tuhan bekerja memulihkan.
Homili tersebut juga menggarisbawahi bahwa APP memiliki dimensi sosial. Pertobatan tidak berhenti pada relasi pribadi dengan Tuhan, tetapi harus nyata dalam kepedulian terhadap sesama terutama mereka yang kecil, lemah, dan membutuhkan.
Dengan semangat itulah para peserta sosialisasi diutus kembali ke wilayah dan stasi masing-masing. Mereka bukan sekadar penyampai materi, tetapi saksi hidup yang lebih dahulu mengalami pertobatan.
Kegiatan sosialisasi yang berlangsung sebelumnya di Aula SMP Katolik Tahuna menunjukkan kesiapan pastoral yang matang. Diskusi berjalan hidup, peserta aktif bertanya, dan semangat pelayanan tampak nyata.
Harapannya, gaung APP tidak berhenti di ruang aula, tetapi menjalar hingga ke lingkungan, keluarga, dan komunitas basis.
Perayaan Ekaristi sore itu pun menjadi momentum pengutusan rohani: dari pembinaan menuju pelayanan, dari refleksi menuju aksi, dari puasa lahiriah menuju pembaruan hati.
Masa Prapaskah kini bukan sekadar kalender liturgi, melainkan kesempatan emas untuk benar-benar “memutar ulang” kehidupan agar setiap umat semakin serupa dengan Kristus dalam kasih dan pengorbanan. (Riko)












