TAHUNA, MANADONEWS.CO.ID — Umat Katolik di Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna mengawali Pekan Suci dengan penuh iman melalui perayaan Minggu Palma, Minggu (29/03/2026).
Perayaan diawali dengan perarakan umat dari Pelabuhan Tua Tahuna menuju Gereja Pusat Paroki. Dengan membawah daun palma, umat berjalan bersama dalam suasana khidmat, mengenangkan peristiwa Yesus memasuki Yerusalem yang disambut dengan sorak “Hosana”.
Langkah-langkah umat dalam perarakan itu menjadi simbol perjalanan iman mengikuti Kristus, bukan hanya dalam kemuliaan, tetapi juga dalam jalan salib.
Dalam homilinya, Pastor Paroki RD. Jacob Adilang,Pr menyoroti realitas kehidupan saat ini, di mana banyak orang lebih mudah percaya pada informasi dari media sosial dibandingkan pada suara Tuhan.
“Kita sering hanyut dalam cerita yang tidak jelas kebenarannya. Akhirnya kita mencurigai orang lain dan kehilangan damai,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa sikap tersebut mencerminkan situasi dalam kisah sengsara Yesus, ketika orang banyak dengan mudah terbawa arus hingga berteriak “Salibkan Dia! Salibkan Dia!
Mengacu pada bacaan kedua, Pastor Jacob menegaskan bahwa Yesus menunjukkan kerendahan hati yang sejati.
Sebagai Anak Allah, Ia tidak mempertahankan keilahian-Nya, tetapi merendahkan diri sampai wafat di kayu salib.
Sebaliknya, manusia sering kali, mempertahankan gengsi, menolak direndahkan dan bahkan memilih konflik demi harga diri.
“Saat kita lebih memilih melawan demi gengsi, saat itu kita sedang berdiri di barisan yang sama yang berteriak salibkan Dia,” tegasnya.
Pastor Jacob juga mengajak umat memahami seruan Yesus di salib:
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Menurutnya, seruan ini bukan tanda keputusasaan, melainkan wujud kehadiran Yesus dalam penderitaan manusia.
“Yesus masuk dalam pengalaman sulit kita. Ia tidak meninggalkan kita, tetapi justru ada di dalam luka kita,” jelasnya.
Dalam menghadapi tekanan hidup dan derasnya arus informasi, Pastor Jacob menekankan pentingnya doa.
Meneladani Yesus di Taman Getsemani, doa menjadi kekuatan utama untuk tetap setia.
“Doa membuat telinga batin kita jernih untuk mendengarkan suara Tuhan, bukan suara dunia,” katanya.
Perarakan dari Pelabuhan Tua menuju gereja bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi pengingat bahwa iman adalah perjalanan.
Hari ini umat berseru “Hosana”, tetapi tantangannya adalah tetap setia ketika menghadapi salib kehidupan.
“Mari kita tetap mengangkat daun palma kita dan berseru: Hosana! Terpujilah Dia,” ajak Pastor Jacob.
Mengakhiri homilinya, Pastor Jacob menegaskan bahwa Paskah bukan hanya tentang kebangkitan Kristus, tetapi juga kebangkitan iman umat.
Momentum ini menjadi panggilan untuk tetap teguh, tidak mudah terpengaruh arus dunia, dan terus berjalan bersama Kristus hingga kemenangan sejati. (Riko)
Langsung ke konten












