banner 600x160
Berita TerbaruBerita UtamaManado

Film “Songko”, Horor Kosmologi Minahasa yang Menguat lewat Akting Eric MF Dayoh

×

Film “Songko”, Horor Kosmologi Minahasa yang Menguat lewat Akting Eric MF Dayoh

Sebarkan artikel ini

Manado, MN— Di tengah dominasi film horor bertema urban, kehadiran Songko menawarkan pendekatan berbeda dengan mengangkat kosmologi lokal Minahasa sebagai fondasi cerita.

Film garapan sutradara Gerald Mamahit ini mengambil latar Tomohon tahun 1986, menghadirkan atmosfer dingin pegunungan yang berpadu dengan teror mitos kuno yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

MANTOS

Lewat sinematografi yang menangkap kabut dan lanskap alam Minahasa, penonton seolah diajak masuk ke ruang antara realitas dan dunia tak kasatmata. Songko tidak hanya menghadirkan kengerian visual, tetapi juga menggali bagaimana sebuah komunitas kecil menghadapi ancaman supranatural yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara rasional.

Di balik kekuatan naratif tersebut, penampilan aktor lokal Eric MF Dayoh menjadi salah satu pilar utama film ini. Sebagai putra daerah Sulawesi Utara, Eric mampu menghadirkan emosi yang terasa autentik dan membumi.

Ia tidak sekadar memainkan karakter, tetapi merepresentasikan kegelisahan kolektif warga yang hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

Dialek lokal yang ia gunakan, gestur tubuh yang natural, serta intensitas ekspresi yang terjaga membuat karakternya menjadi penghubung antara dunia logika dan dunia mistis. Dalam banyak adegan, ketegangan justru dibangun melalui keheningan dan tatapan, bukan teriakan berlebihan, sebuah pendekatan yang jarang ditemukan dalam horor komersial.

Film ini berakar pada mitos Songko atau Pok-pok, yang dalam tradisi lisan Minahasa dikenal sebagai praktik ilmu hitam ekstrem. Sosok ini digambarkan sebagai individu yang melepaskan kepalanya demi memperoleh kekuatan atau keabadian, dengan target utama darah ibu hamil atau bayi yang baru lahir.

Namun, Songko tidak hanya berhenti pada horor fisik. Film ini juga menyentuh lapisan kosmologi Minahasa yang lebih dalam di mana entitas supranatural sering kali dikaitkan dengan pelanggaran norma, bayangan, dan ketidakseimbangan antara manusia dan alam.

Dalam sejumlah kajian etnografi kolonial, seperti yang dicatat oleh J. Alb. T. Schwarz pada awal abad ke-20, songko’ bahkan dipahami sebagai entitas nokturnal yang beroperasi melalui bayangan dan ketakutan kolektif masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, film ini menghadirkan horor yang bersifat antropologis. Teror tidak hanya datang dari makhluk gaib, tetapi juga dari kecurigaan sosial. Ketika perempuan muda di desa ditemukan tewas satu per satu, masyarakat mulai saling menuduh, menciptakan ketegangan yang merusak kohesi sosial.

Karakter yang diperankan Eric MF Dayoh berada di titik paling rentan dalam konflik ini terjepit antara akal sehat dan tekanan massa. Ia menggambarkan bagaimana manusia bisa menjadi lebih menakutkan daripada makhluk yang mereka takuti.

Secara teknis, Songko menampilkan detail budaya yang kuat. Penggunaan benda-benda seperti sapu lidi, garam, dan alat tajam sebagai penangkal menghadirkan nuansa otentik yang berakar pada praktik nyata di masyarakat pedalaman. Ritual-ritual kecil yang ditampilkan pun tidak terkesan dibuat-buat, melainkan terasa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, film ini tidak luput dari kritik. Pada babak kedua, tempo cerita dinilai melambat akibat fokus pada konflik keluarga yang cukup panjang, sehingga mengurangi intensitas horor yang telah dibangun sejak awal. Selain itu, penggunaan efek visual CGI dalam beberapa adegan terutama visualisasi kepala terbang terlihat kurang halus dan sedikit mengurangi daya kejut.

Kendati memiliki sejumlah kekurangan teknis, kekuatan utama Songko tetap terletak pada keberaniannya mengangkat horor berbasis kosmologi lokal. Film ini tidak sekadar mengeksploitasi ketakutan, tetapi juga mengajak penonton memahami fungsi mitos sebagai bagian dari sistem sosial sebuah bentuk “pendidikan kolektif” yang dahulu digunakan untuk menjaga keteraturan dalam komunitas.

Dukungan aktor lokal seperti Eric MF Dayoh semakin memperkuat identitas film ini. Kehadirannya memastikan bahwa budaya Minahasa tidak hanya menjadi latar, tetapi menjadi ruh utama cerita.

Songko dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 23 April 2026. Film ini diprediksi akan menarik perhatian penonton, terutama di wilayah Sulawesi Utara, di tengah tren kebangkitan horor etnik di Indonesia.

Lebih dari sekadar film tentang hantu, Songko menjadi refleksi tentang ketakutan, prasangka, dan kemanusiaan. Di balik gelapnya mitos, film ini menyuguhkan pesan tentang pentingnya empati dan kejujuran nilai yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. (alfa)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop