SEMARANG, MANADONEWS.CO.ID – Penelitian merupakan salah satu tridharma Perguruan Tinggi yang wajib dijalankan oleh seorang dosen. Hasil penelitian wajib dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah sebagai sarana menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang kian masif menuntut kalangan akademisi untuk harus terus beradaptasi. Merespons tantangan tersebut, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, (THP) Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar Workshop bertajuk Pemanfaatan AI dalam Penulisan Artikel ilmiah pada Kamis (13/8/2026).
Menariknya, kegiatan di salah satu dari 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di Indonesia ini menghadirkan sosok akademisi dari wilayah perbatasan sebagai narasumber, yakni Dr. Wendy A. Tanod, Dosen Tetap Program Studi Pengolahan dan Penyimpanan Hasil Perikanan (P2HP), Politeknik Negeri Nusa Utara (POLNUSTAR).
Kehadiran Dr. Wendy sebagai pemateri merupakan bagian dari Program Postdoctoral Nasional (Program World Class University) yang tengah dijalaninya di UNDIP. Bertempat di Ruang Rapat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNDIP. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh jajaran dosen Program Studi THP UNIDP, serta pimpinan fakultas, yang diwakili oleh Wakil Dekan Sumberdaya, Dr. Putut Har Riyadi, S.Pi., M.Si.

Dalam paparannya, Dr. Wendy menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dosen dalam memanfaatkan kecerdasan buatan. Ia menyoroti bagaimana teknologi AI dapat digunakan untuk membantu dalam penulisan artikel ilmiah tanpa harus mengorbankan kaidah etika ilmiah dan tetap menjaga integritas.
“Perkembangan teknologi AI mengharuskan kita beradaptasi. Fokus utamanya adalah bagaimana menggunakan tools ini secara berintegritas untuk penulisan karya ilmiah, dengan tetap menjaga etika akademik dan terhindar dari praktik plagiarisme, fabrikasi dan falsifikasi data,” jelas Dr. Wendy.
Workshop tersebut membedah cara-cara praktis menjadikan AI sebagai “pendamping” atau asisten cerdas bagi peneliti, bukan sebagai pengganti penulis seutuhnya. Hal ini bertujuan agar produktivitas publikasi dosen meningkat, sementara kualitas dan orisinalitas pemikiran tetap terjaga.
Kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Hal ini terlihat dari tingginya antusiasme peserta saat sesi tanya jawab. Diskusi berkembang secara luas dan menarik, menyentuh berbagai batasan etis serta praktik terbaik penggunaan AI dalam dunia riset saat ini.
Kolaborasi akademik melalui program Postdoctoral Nasional ini tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga membuktikan bahwa dosen dari kawasan perbatasan mampu tampil memberikan kontribusi dan pemikiran strategis di kampus bertaraf internasional sekelas UNDIP. Kegiatan Postdoctoral Nasional mendapatkan pendanaan dari Universitas Diponegoro. (***/Riko)












