MANADO – Langkah tak biasa nan menohok diambil oleh Pengamat Politik dan Pemerintahan Sulawesi Utara (Sulut), Taufik M. Tumbelaka. Pada detik-detik Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2026) pagi, Tumbelaka memilih ‘mengabaikan’ undangan resmi Upacara HUT ke-81 RI di Kantor Gubernur Sulut, padahal ia dijadwalkan hadir mewakili trah keluarga Gubernur Pertama Sulut, FJ Tumbelaka.
Sebagai gantinya, Taufik Tumbelaka bertolak menyeberangi lautan menuju Pulau Bunaken bersama seorang wartawan. Misinya satu: melakukan investigasi langsung atas jeritan warga yang “dihadiahi” pemadaman listrik secara ekstrem di Hari Kemerdekaan.
“Benar, pagi-pagi sekali saya langsung menuju Pulau Bunaken. Sejak Minggu (16/8) siang hingga malam, masuk deretan informasi memprihatinkan dari warga. Ini bukan lagi soal pemadaman biasa 2 sampai 6 jam, tapi sudah melampaui 10 jam mati total,” tegas Tumbelaka saat dikonfirmasi, Selasa (18/8/2026).
Ironi besar terjadi di ikon pariwisata dunia tersebut. Saat rombongan wisatawan mancanegara asal Korea, Jepang, Prancis, hingga Spanyol memadati Bunaken untuk menikmati keindahan alam Indonesia, mereka justru harus disambut dengan kegelapan.
Kondisi ini memicu kemarahan Tumbelaka. Menurutnya, kinerja jajaran pimpinan PT PLN (Persero) di Sulawesi Utara sudah berada di titik terendah dan sangat mempermalukan wajah pariwisata nasional di mata dunia.
“Pertaruhan citra dunia pariwisata Indonesia khususnya Sulawesi Utara sangat dipertaruhkan. Ini momentum 17 Agustus, dan bulan depan ada HUT Provinsi Sulut. Kalau saya jadi Direktur Utama PLN Pusat, sudah saya pecat itu bos-bos PLN di Sulut!” cetusnya dengan nada tinggi.
Tumbelaka menilai pemadaman ekstrem ini memprakarsai gelombang kekecewaan masif warga di media sosial maupun secara langsung. Padahal, sentilan keras terhadap kinerja PLN Sulut sebelumnya sudah kerap disuarakan oleh Anggota Komisi VI DPR RI, Christiany Eugenia Paruntu (CEP). Namun, peringatan dari Senayan seolah masuk angin dan tak memicu perubahan signifikan.
“Bagi saya, tidak ada alasan lagi. Lebih baik pimpinan PLN Sulut mundur atau diganti sekalian. Masyarakat yang saya temui di lapangan sudah sangat kesal dan habis kesabaran,” pungkas Tumbelaka menuntaskan hasil penelusurannya di Bunaken. (Jerry)












