Jakarta, MN — Akademi kripto yang selama ini dikaitkan dengan figur publik Timothy Ronald tengah menjadi sorotan publik.
Sejumlah mantan anggota mengaku mulai meninggalkan komunitas tersebut dan sebagian mengklaim telah melaporkan dugaan pelanggaran ke pihak kepolisian.
Isu ini mencuat setelah pernyataan dan pengakuan sejumlah pihak beredar luas melalui tayangan podcast dan media sosial.
Kata kunci: Akademi Kripto Timothy Ronald, laporan polisi kripto, podcast Denny Sumargo, dugaan penipuan trading, komunitas kripto Indonesia
Pengakuan Mantan Anggota: Klaim Kerugian dan Kekecewaan
Beberapa mantan peserta menyatakan bahwa mereka kecewa dengan hasil pelatihan dan strategi trading yang diajarkan.
Menurut mereka, janji keuntungan dan narasi keberhasilan yang disampaikan di awal tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
“Yang dijanjikan berbeda dengan yang kami alami. Banyak dari kami justru mengalami kerugian,” ujar salah satu mantan anggota dalam potongan video yang beredar di media sosial.
Sejumlah peserta juga mengaku keluar dari komunitas setelah mempertanyakan metode trading yang diajarkan dan transparansi materi yang diberikan.
Podcast Denny Sumargo Angkat Isu “Profesor Kalimasada”
Kontroversi ini semakin meluas setelah dibahas dalam sebuah podcast yang dipandu oleh Denny Sumargo.
Dalam tayangan tersebut, muncul pengakuan tentang dugaan kepalsuan klaim gelar dan titel, termasuk sebutan “Profesor Kalimasada” yang dipertanyakan validitas dan otoritasnya oleh beberapa narasumber.
Menurut pengakuan mantan anggota, klaim tersebut digunakan untuk memperkuat citra keilmuan dan kredibilitas akademi di mata calon peserta.
Namun, mereka menyebut tidak pernah menemukan bukti akademik resmi atau institusi pendidikan yang mengesahkan gelar tersebut.
Dugaan Tekanan dan Pengancaman di Dalam Komunitas
Selain soal materi dan hasil trading, sebagian mantan anggota juga mengungkap adanya dugaan tekanan internal dan pengancaman verbal ketika peserta mempertanyakan strategi atau menyuarakan kritik.
“Saat kami bertanya atau ragu, justru ada tekanan agar tetap ikut arahan,” kata salah satu peserta dalam pernyataan yang beredar secara publik.
Klaim ini menambah panjang daftar persoalan yang kini menjadi perhatian warganet dan pemerhati dunia kripto.
Laporan ke Polisi dan Proses Hukum
Beberapa mantan anggota mengaku telah melaporkan dugaan pelanggaran ke pihak kepolisian. Laporan tersebut, menurut mereka, berkaitan dengan dugaan penipuan, kerugian finansial, serta tekanan psikologis yang dialami selama mengikuti program akademi.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait status laporan tersebut, termasuk apakah telah naik ke tahap penyelidikan atau masih dalam proses klarifikasi awal.
Belum Ada Pernyataan Resmi dari Pihak Akademi
Sampai berita ini ditulis, pihak akademi kripto maupun Timothy Ronald belum mengeluarkan pernyataan terbuka untuk menanggapi berbagai klaim yang beredar. Upaya konfirmasi kepada pihak terkait masih terus dilakukan.
Pengamat aset digital menilai bahwa kasus ini mencerminkan risiko rendahnya literasi kripto di Indonesia, di mana masyarakat mudah tergiur oleh narasi keuntungan cepat tanpa pemahaman mendalam tentang volatilitas pasar.
Sorotan Terhadap Edukasi dan Regulasi Kripto
Kontroversi ini kembali memicu diskusi tentang pentingnya regulasi dan standar transparansi dalam industri edukasi kripto.
Sejumlah pihak mendorong agar lembaga pelatihan trading dan investasi digital diawasi lebih ketat, demi melindungi investor ritel dari potensi kerugian dan praktik yang menyesatkan.(Steven)












