Berita TerbaruBerita UtamaKesehatan

Bukan Cuma Mual, Konsumsi Berulang Daging Terpapar “Potas” Bisa Picu Kerusakan Saraf Permanen

×

Bukan Cuma Mual, Konsumsi Berulang Daging Terpapar “Potas” Bisa Picu Kerusakan Saraf Permanen

Sebarkan artikel ini

Manado, MN — Praktik penggunaan racun potasium sianida atau yang dikenal sebagai “potas” dalam pencurian hewan peliharaan anjing atau kucing masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Manado.

Selain berisiko menyebabkan kematian mendadak akibat keracunan akut, para ahli kesehatan memperingatkan dampak jangka panjang yang berbahaya bagi orang yang mengonsumsi daging hewan terpapar racun ini secara berulang.

MANTOS

Dokter Aris Prasetyo, pakar kesehatan masyarakat, menegaskan bahwa proses memasak tidak serta-merta menghilangkan bahaya residu racun.

Zat beracun yang masuk ke tubuh dalam dosis kecil namun berulang (sub-letal) dapat menumpuk dan memicu kerusakan organ vital secara permanen.

“Residu racun tidak hilang begitu saja setelah dimasak. Paparan berulang bisa menyebabkan gangguan kesehatan serius dalam jangka panjang,” ujarnya.

 

Dampak Konsumsi Daging Terpapar Sianida dalam Jangka Panjang

 

Meski sebagian orang hanya merasakan gejala ringan seperti mual atau pusing, bukan berarti tubuh aman. Paparan kronis sianida berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi kesehatan berikut:

1. Gangguan Kelenjar Tiroid dan Risiko Gondok

Dalam tubuh manusia, sianida dimetabolisme menjadi tiosianat. Senyawa ini dapat menghambat penyerapan yodium oleh kelenjar tiroid.

Akibatnya, konsumsi jangka panjang dapat memicu hipotiroidisme hingga pembesaran kelenjar tiroid atau gondok.

“Paparan kronis bisa mengganggu fungsi hormon tiroid dan memicu gangguan metabolisme tubuh,” jelas Dr. Aris.

2. Kerusakan Sistem Saraf Pusat

Paparan sianida berulang diketahui dapat merusak sel saraf dan jaringan otak. Gejala yang muncul dalam jangka panjang dapat menyerupai gangguan neurodegeneratif, antara lain:

  • Tremor atau tangan gemetar
  • Gangguan keseimbangan
  • Kesulitan berjalan
  • Penurunan fungsi kognitif dan daya ingat

Kondisi ini bisa berdampak permanen jika paparan terus terjadi tanpa disadari.

3. Risiko Kerusakan Ginjal dan Hati

Ginjal dan hati berperan menyaring racun dari tubuh. Paparan bahan kimia berulang memaksa kedua organ bekerja lebih keras, yang pada akhirnya dapat memicu:

  • Penurunan fungsi hati
  • Kerusakan jaringan liver
  • Gagal ginjal kronis
  • Asam urat

Kerusakan ini sering berkembang perlahan dan baru terdeteksi setelah kondisi cukup parah.

 

Mitos Memasak Daging Bisa Menghilangkan Racun

 

Masih banyak masyarakat percaya bahwa suhu tinggi saat memasak dapat menetralisir racun.

Namun, anggapan ini keliru. Garam potasium sianida relatif stabil, dan residunya dapat bertahan terutama pada organ dalam hewan seperti hati dan jantung bagian yang justru kerap dikonsumsi.

“Risikonya nyata. Kita tidak berbicara sekadar sakit perut, melainkan kerusakan organ yang mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian,” tegas Dr. Aris.

Imbauan Kesehatan: Hindari Daging Hewan Peliharaan

 

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih sumber pangan.

Menghindari konsumsi daging yang tidak jelas asal-usulnya terutama yang diduga berasal dari hewan mati karena racun merupakan langkah paling efektif mencegah risiko kesehatan serius.

Kesehatan jangka panjang tidak sebanding dengan kepuasan kuliner sesaat. Kesadaran konsumen menjadi kunci utama untuk melindungi diri dari bahaya yang tak terlihat.(Steven)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop
Berita Terbaru

MANADO,MANADONEWS.CO.ID- Dalam rangka HUT ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Koorcabrem 131 PD XIII/Merdeka bekerjasama dengan Unit Transfusi Darah Rumah Sakit Tingkat II R.W. Mongisidi menggelar aksi kemanusiaan donor darah bertempat…