Berita TerbaruBerita UtamaInternasional

Eskalasi Serangan Iran ke UEA: Perang Meluas, Stabilitas Teluk Terancam

×

Eskalasi Serangan Iran ke UEA: Perang Meluas, Stabilitas Teluk Terancam

Sebarkan artikel ini

Dubai, MN – Rentetan serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke sejumlah wilayah Uni Emirat Arab (UEA), termasuk Dubai, Sharjah, dan Abu Dhabi, pada akhir Februari hingga awal Maret 2026 menandai eskalasi paling serius di Teluk Persia dalam satu dekade terakhir.

Serangan tersebut dinilai bukan insiden sporadis, melainkan bagian dari strategi militer terukur dalam konflik terbuka antara Teheran dan blok Amerika Serikat–Israel.

MANTOS

Eskalasi terjadi setelah operasi udara gabungan AS dan Israel menargetkan lingkaran kepemimpinan Iran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Dalam doktrin keamanan Iran, serangan terhadap pusat komando negara dipandang sebagai ancaman eksistensial yang harus dibalas secara langsung maupun tidak langsung dengan memperluas radius konflik, termasuk ke negara-negara Teluk yang menjadi mitra strategis Washington.

Secara operasional, UEA merupakan lokasi infrastruktur militer penting Amerika Serikat di kawasan, terutama Pangkalan Udara Al Dhafra di Abu Dhabi yang menjadi pusat operasi udara, intelijen, dan logistik regional.

Dalam kerangka perang asimetris, Iran tidak menargetkan kekuatan utama AS secara frontal, melainkan pangkalan aju (forward operating bases) dan jaringan logistik yang berada di wilayah sekutu Washington.

Pendekatan ini konsisten dengan pola operasi Iran sebelumnya di Irak dan Suriah, yakni memukul kepentingan AS melalui wilayah negara mitra. Serangan drone dan rudal ke UEA dipandang sebagai upaya meningkatkan biaya strategis kehadiran militer AS di Teluk tanpa harus berkonfrontasi langsung di medan konvensional.

Dubai memiliki posisi vital sebagai pusat perdagangan bebas, logistik maritim, dan hub penerbangan global.

Gangguan operasional di Bandara Internasional Dubai serta jatuhnya proyektil di area komersial dan residensial elit, termasuk kawasan Palm Jumeirah, menunjukkan bahwa sasaran Iran tidak semata militer, tetapi juga pusat gravitasi ekonomi kawasan.

Dengan memukul infrastruktur sipil bernilai tinggi, Teheran berupaya menciptakan efek kejut terhadap pasar global serta tekanan finansial terhadap sekutu Barat.

Kalkulasi strategisnya adalah bahwa kerugian ekonomi besar di negara-negara Teluk dapat mendorong mereka menekan Washington agar menghentikan operasi militer terhadap Iran.

Serangan ke wilayah UEA juga mengandung pesan geopolitik kepada negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Iran berupaya menunjukkan bahwa jika rezim di Teheran terancam runtuh, stabilitas seluruh Teluk akan ikut terguncang. Strategi ini dikenal sebagai regionalisasi konflik, memperluas risiko perang agar negara-negara tetangga merasakan langsung konsekuensinya.

Tekanan psikologis dan politik tersebut dimaksudkan untuk melemahkan kepercayaan negara Teluk terhadap payung keamanan AS.

Serangan yang mampu menembus sebagian pertahanan udara UEA menjadi bukti bahwa sistem pertahanan sekutu Washington tidak sepenuhnya kedap terhadap serangan skala besar berbiaya relatif rendah.

Dari sisi taktis, gelombang serangan yang melibatkan ratusan drone kamikaze dan rudal balistik maupun jelajah secara simultan mencerminkan uji taktik saturation attack atau serangan jenuh.

Taktik ini dirancang untuk membebani kapasitas radar, komando kendali, dan peluncur sistem pertahanan udara hingga melampaui ambang respons optimal.

Meski sebagian besar proyektil berhasil dicegat, sejumlah yang lolos menunjukkan kerentanan struktural negara Teluk terhadap serangan udara massal berbiaya rendah sebuah pelajaran penting bagi arsitektur pertahanan kawasan.

Serangan ke area sipil yang menimbulkan korban jiwa justru memicu konsolidasi keamanan di kawasan.

Sejumlah negara menutup sementara perwakilan diplomatik dan meningkatkan kesiagaan militer.

Alih-alih menekan sekutu AS agar mundur, langkah Iran berpotensi memberikan legitimasi politik bagi UEA dan Arab Saudi untuk terlibat lebih jauh dalam operasi balasan bersama AS dan Israel.

Jika tren ini berlanjut, konflik Iran–AS–Israel berisiko berubah dari konfrontasi terbatas menjadi perang kawasan terbuka, dengan Teluk sebagai episentrum baru ketidakstabilan global.(Aldo)

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Gacor Shop
Berita Terbaru

Sejarah kita adalah meja perjamuan yang getir, di mana segelas visi otonomi harus diminum bersama sisa darah saudara yang tumpah, memaksa kita untuk mengenang bukan demi memuja luka, melainkan untuk…