Bitung, MANADONEWS.CO.ID – Perjalanan panjang yang ditempuh Kontingen Kaum Bapak Katolik (KBK) Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna untuk mengikuti Pertemuan Raya dan Konferensi VIII KBK Keuskupan Manado di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur menghadapi kendala. Kapal perintis milik pemerintah, KM Sabuk Nusantara 109, yang mengangkut rombongan dari Kabupaten Kepulauan Sangihe, harus menunggu giliran sandar di kawasan Pelabuhan Bitung pada Selasa (30/06/2026).
Akibat antrean kapal di pelabuhan, proses sandar berlangsung lebih lama dari jadwal yang diperkirakan.
Kondisi tersebut berpotensi menghambat keberangkatan kontingen menuju Guaan, lokasi pelaksanaan Pertemuan Raya dan Konferensi VIII KBK Keuskupan Manado.
Sebelumnya, rombongan KBK Paroki Santo Yohanes Rasul Tahuna bertolak dari Pelabuhan Nusantara Tahuna pada Senin (29/06/2026) sekitar pukul 22.00 WITA menggunakan KM Sabuk Nusantara 109.
Setibanya di Bitung, perjalanan masih harus dilanjutkan melalui jalur darat menuju Guaan dengan waktu tempuh sekitar enam hingga tujuh jam.
Meski dihadapkan pada kendala di luar kendali peserta, semangat kontingen untuk hadir dan ambil bagian dalam agenda akbar Keuskupan Manado tetap tidak surut.
Rombongan berharap dapat tiba secepat mungkin agar tetap dapat mengikuti rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan.
Salah satu kontingen kepada media ini menyampaikan bahwa keterlambatan ini murni disebabkan oleh kondisi operasional di pelabuhan dan bukan karena faktor kesiapan rombongan.
“Kami memahami bahwa antrean sandar kapal merupakan bagian dari dinamika pelayanan transportasi laut. Namun kami berharap prosesnya dapat berjalan secepat mungkin agar seluruh kontingen dari wilayah kepulauan memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti seluruh rangkaian Pertemuan Raya dan Konferensi VIII KBK Keuskupan Manado sejak awal kegiatan,” ujarnya.
Perjalanan kontingen dari wilayah perbatasan seperti Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi gambaran nyata perjuangan umat di daerah kepulauan untuk tetap hadir dalam setiap momentum kebersamaan Gereja.
Jarak yang jauh, ketergantungan pada transportasi laut, serta kondisi operasional pelabuhan menjadi tantangan yang harus dihadapi demi mengambil bagian dalam peristiwa iman yang mempererat persaudaraan antarumat di Keuskupan Manado. (Riko)












