Bedah Akses Minimal pada Ginekologi

  • Whatsapp

maya-mewengkang-topdr. Maya E. Mewengkang, SpOG

Staf Pengajar Bagian/KSM Obstetri-Ginekologi

Bacaan Lainnya

Fakultas Kedokteran Univ. Sam Ratulangi//RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Tuntutan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang nyaman, efisien dan minimal risiko, memang sudah menjadi tren di masa kini dan akan datang.  Dengan diiringi kemajuan teknologi digital dan komputerisasi, maka dokter diharapkan dapat melakukan tindakan diagnostik, pencegahan, maupun penanganan dengan mudah dan nyaman.

Ilmu kedokteran yang terus berkembang melahirkan berbagai macam inovasi untuk menangani kasus/penyakit, termasuk dalam metode/teknik operasi, sehingga dokter yang baik akan selalu memperbarui pengetahuan dan berkomitmen terus belajar sepanjang hidup.  Selama ini, operasi untuk pengobatan sejumlah penyakit terbilang berisiko tinggi apalagi dengan teknik pembedahan konservatif.  Banyak kemajuan yang telah dicapai dalam bidang pembedahan, yang dibutuhkan masyarakat.

Bedah minimal invasif adalah salah satu cabang ilmu dan keterampilan yang sebenarnya sudah ada sejak lama tapi belum banyak masyarakat yang mendapatkan atau merasakan manfaatnya.  Sejak lebih dari 2 dekade, pembedahan minimal invasif sudah menjadi pilihan utama pada sebagian besar tindakan pembedahan di negara-negara maju.  Bedah Minimal Invasif lebih dikenal sekarang dengan istilah Bedah Akses Minimal, karena yang ditekankan adalah teknik akses minimalnya, bukan pada teknik bedah minimalnya.  Dan untuk beberapa prosedur pembedahan, bedah akses minimal telah menggantikan teknik bedah konvensional yang terbuka/laparotomi,  sebagai standar operasi.

bedah-aksesSalah satu jenis bedah dengan akses minimal adalah laparoskopi, yang digunakan untuk diagnostik maupun terapi.  Laparoskopi merupakan bedah akses minimal yang tidak membutuhkan sayatan lebar.  Hal ini memungkinkan alat bantu kamera kecil (endoskopi) dan gas sebagai media distensi bisa dimasukkan ke rongga abdomen, monitor, video fiber optic dan kadangkala menggunakan petunjuk gambar ultrasound atau teknologi Tomografi Komputer (CT) untuk mengakses bagian tertentu, serta peralatan yang lain.

Baca Juga:  Wakili 5.000 Karyawan Mantos, Meike Runtu Ucapkan Terima Kasih kepada Gubernur Olly Dondokambey

bedah-akses-1Keuntungan bagi pasien, yaitu diantaranya berkurangnya trauma pada jaringan organ tubuh, berkurangnya kehilangan darah, berkurangnya risiko perlengketan organ abdomen pasca operasi, mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi, berkurangnya kebutuhan terhadap penggunaan obat-obat anti nyeri, masa perawatan di rumah sakit lebih pendek, dan akhirnya pasien lebih cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari.

Seiring bertambahnya usia harapan hidup, kebutuhan bedah akses minimal untuk diagnostik maupun terapi bidang ginekologi meningkat. Dalam bidang ilmu kedokteran kandungan, tehnik laparoskopi dapat digunakan untuk pengangkatan tumor rahim dan kista indung telur, sterilisasi, serta penanganan kehamilan di luar kandungan.

Laparoskopi Ginekologi merupakan suatu tindakan pembedahan dengan minimal akses di bidang ginekologi/penyakit kandungan, yaitu dengan membuat irisan kecil di dinding perut (1/2-1cm).   Biasanya jumlah lubang yang dibuat bervariasi 2-4 lubang berdasarkan jenis kasus. Lubang utama biasanya dibuat di daerah umbilkus (pusar) dan melalui lubang ini akan dimasukkan alat seperti teropong (teleskop/lensa) yang dihubungkan dengan kamera lalu disambung ke monitor TV dengan sumber cahaya tertentu sehingga dokter/operator dapat melihat isi rongga perut pasien dan organ kandungan melalui monitor tersebut.  Kemudian lubang-lubang lainnya dapat dimasukkan peralatan bedah lain seperti penjepit jaringan, gunting, pemegang jarum (needle holder) dan sebagainya.

Dengan laparoskopi ini, perawatan di rumah sakit akan menjadi lebih singkat karena cepatnya masa penyembuhan dan bahkan pada kasus-kasus tertentu, pasien tidak memerlukan rawat inap, melainkan dapat pulang langsung setelah tindakan dikerjakan.   Selain itu, dengan operasi laparoskopi ini, dalam 1-2 minggu pasca tindakan, pasien sudah dapat melakukan aktivitas normal yang berbeda jika pasien menjalani pembedahan konvensional/laparotomi dimana masa penyembuhan lebih lama, minimal 4-6 minggu pasca tindakan pasien baru bisa beraktivitas seperti semula.  Dengan demikian, laparoskopi dapat menjadi pilihan bagi wanita karier yang harus cepat kembali melakukan aktivitasnya.  Keuntungan lainnya adalah kebutuhan obat anti nyeri yang kurang karena nyeri pasca operasi yang dirasakan lebih sedikit dibandingkan laparotomi.  Dan yang terpenting adalah lebih sedikitnya risiko terjadinya perlekatan (adhesion) dibandingkan dengan laparotomi.  Hal ini penting bagi wanita yang memiliki masalah kesuburan, sehingga kemungkinan pencapaian angka kehamilan pasca operasi laparoskopi bisa lebih baik.

Baca Juga:  Taruna Merah Putih Sulut: Masyarakat Sudah Cerdas Jangan Mau Dibohongi oleh Koruptor Pakai FPI

Kerugian laparoskopi ini adalah biaya yang dibutuhkan relatif lebih mahal, karena memerlukan peralatan-peralatan canggih seperti sistem kamera/lensa, sumber cahaya, dan lain-lain.  Selain itu, waktu yang diperlukan untuk melakukan operasi laparoskopi relatif lebih lama dibandingkan laparotomi, akan tetapi jika dilakukan oleh seorang operator laparoskopi yang terlatih, terampil dan berkompetensi, maka lamanya operasi tidak akan berbeda jauh dengan laparotomi.

Jadi, memang masih ada penghalang dalam penerapan metode bedah akses minimal di Tanah Air.  Perlengkapannya cukup mahal serta diperlukan dokter spesialis dengan keterampilan khusus disertai sertifikat kompetensi, berikut stafnya.  Dan pada beberapa daerah belum tersedia dokter dengan keterampilan tersebut secara merata.  Ini merupakan penghalang terbesar untuk pemerataan penerapan bedah akses minimal di Indonesia.  Biaya Laparoskopi Ginekologi di Indonesia berkisar Rp 25.000.000 sampai dengan Rp 125.000.000, tergantung wilayah rumah sakit, tipe rumah sakit, tipe kamar perawatan, besar tumor, lamanya operasi, jenis perlengkapan laparoskopi yang dipakai (konvensional/robotic), pemeriksaan penunjang lainnya serta jenis obat-obatan yang dipakai selama perawatan.

Baca Juga:  383 CPNS Pemprov Sulut Terima SK

Sehingga di era JKN-BPJS ini, muncul pertanyaan apakah laparoskopi ditanggung oleh BPJS Kesehatan?  Intinya, dimana tindakan itu dilakukan sesuai indikasi medis dan prosedur, bisa ditanggung BPJS, karena sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan JKN (Permenkes no. 28 tahun 2014), semua ditanggung kecuali yang disebutkan secara eksplisit tidak masuk pertanggungan seperti estetika, infertilitas, alternative, komplementer, dll.  Jika pihak RS menyatakan operasi laparoskopi tidak ditanggung, ada kemungkinan memang RS tersebut tidak memiliki alat laparoskopi, atau sementara dilakukan pengecekan dan pemulihan alat, jadi tidak mampu memberikan pelayanan laparoskopi.   Dengan demikian, tindakan selanjutnya adalah merujuk ke RSU yang memiliki fasilitas laparoskopi.

Dalam era JKN-BPJS Kesehatan, semua tarif tindakan yang dilakukan pada fasilitas kesehatan sudah tertera dalam Permenkes dan mengacu pada INA-CBGs, sehingga biaya yang muncul akhirnya harus benar-benar dipertimbangkan dengan pentarifan.  Untuk tindakan pembedahan konvensional, bisa ditutup oleh tarif INA-CBGs yang ditentukan, tetapi bedah laparoskopi pada beberapa kasus memang sulit diadakan untuk pasien BPJS, hal ini menyebabkan rendahnya utilitas laparoskopi.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka masih ada beberapa penelitian yang menganalisis jumlah unit cost yang paling efektif dan efisien dalam pelayanan pembedahan konvensional maupun laparoskopi dengan metode ABC (Activity Based Costing).

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *