Tinggal di Rumah Pendeta, Peserta IYD dari Keuskupan Maumere Ini Punya Papa Mama Baru

  • Whatsapp
Apriano berdia bersama keluarga sebelum makan bersama/Foto: manadonews/Onq
Apriano berdia bersama keluarga sebelum makan bersama/Foto: manadonews/Onq
Apriano berdia bersama keluarga sebelum makan bersama/Foto: manadonews/Onq

MANADO, MANADONEWS – Bangun pagi, bersihkan tempat tidur dan cuci piring. Aktivitas inilah yang dijalani Apriano Aquino, salah satu peserta live in dari Keuskupan Maumere, Flores di Paroki Ratu Rosari Tuminting. Kedatangannya bersama 59 delegasi lainnya disambut hangat umat Paroki Tuminting.

Lokasi live in Ano, sapaan akrab Apriano pada keluarga Situmorang-Milos. Menariknya, keluarga tersebut beragama Kristen Protestan. Bahkan, sang ibu rumah tangga Emmy Magdalena Milos berlatar belakang pendeta. Ini dibuktikan lewat gelar theologia yang disabet Kasubag Agama, Bagian Kesra, Pemkot Tomohon itu.

Bacaan Lainnya

Sebagai Orang Muda Katolik (OMK), tak ada kendala serius bagi Ano saat beradaptasi. Keluarga dengan penuh suka cita menyambut baik kedatangannya. Meski baru dua hari tinggal bersama, Ano sudah merasa keduanya seperti papa dan mamanya. Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Nusa Nipa Maumere ini merasakan suka cita menjadi anak dalam rumah tersebut. “Kita makan malam bersama, doa bersama secara bergantian dengan papa dan mama,” kata Ano, kepada wartawan.

Baca Juga:  Gubernur Sulut Jalin Kerjasama Dengan Pemerintah Denmark

“Pertama sempat kesulitan. Tapi seiring berjalannya waktu bisa diterima dengan baik,” ujarnya.

Dirinya mengaku, segala pekerjaan yang dilakukannya atas kesadaran sendiri dan tanpa perintah pihak keluarga. “Saya sangat senang dengan hal ini. Mulai kerja dapur dan mengurus rumah di keluarga ini merupakan hal yang baru dalam hidup saya yang bisa menjadi modal dan nilai penting bagi hidup saya,” ungkapnya.

Sementara itu, Palardus Bernardus Situmorang sebagai kepala keluarga, memiliki kesan khusus bagi pria yang saat ini baru berusia 20 tahun. “Sejak dua hari, kami sering makan malam bersama. Anaknya terbuka dan baik. Kami senang dia ada di sini,” tutur Palardus yang juga Kepala Lingkungan VIII, Kelurahan Buha, Kecamatan Mapanget.

Lanjutnya, ada sebuah kebiasaan dari Ano yang terus diingatnya. “Anak ini tidak melepas sejatinya dia sebagai orang katolik. Meskipun dia beda dengan kami, saat bersamaan dirinya tetap mengangkat doa Katolik, dan dia tidak canggung,” tukasnya. (Onq)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *