Diduga Bermasalah, Inspektorat Akan Selidiki Proyek Talud di Wori

oleh
Umbase Mayuntu/Foto: manadonews/Wulan
Umbase Mayuntu/Foto: manadonews/Wulan

AIRMADIDI, MANADONEWS – Keluhan warga Desa Wori akan pembangunan talud pemecah ombak yang diduga bermasalah, langsung ditanggapi oleh Inspektorat Minut.

Dalam waktu dekat Inspektorat Minut akan turun melakukan sidak ke desa Wori untuk melihat langsung pembangunan talud tersebut sekaligus meminta laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran proyek.

“Kami sudah mengagendakan pemeriksaan khusus di Desa Wori terkait adanya laporan warga,” ujar Kepala Inspektorat Minut, Umbase Mayuntu Ssos Msi.

Sesuai laporan warga, proyek talud berbandrol sebesar Rp250 juta dari anggaran Dana Desa tahap pertama 2016 lalu itu, sempat mendapat Tuntutan Ganti Rugi (TGR) dari Inspektorat. Namun hal itu dibantah langsung oleh Mayuntu. Sebab, laporan penggunaan anggaran saja untuk proyek itu belum diterima pihaknya.

“Tidak ada TGR karena kami sampai saat ini masih menunggu laporan penggunaan anggaran dark desa tersebut, apalagi ini menyangkut dana desa dari pemerintah pusat,” tandasnya

Selain meminta laporan pertanggungjawaban anggaran, tambah Mayuntu, Inpektorat juga akan memeriksa anggaran dana yag ada di desa tersebut seperti alokasi dana desa (ADD) serta dana bagi hasil pajak hingga pendapagan asli daerah.

“Semuanya akan kita periksa. Jika bermasalah, ada konsekuensi yang akan diterima oleh Hukum Tua desa bersangkutan,” tambahnya.

Diketahui sebelumnya, sebagian warga Desa Wori di Minut mulai mempertanyakan kualitas talud penahan ombak yang dibangun dari dana desa tahap pertama tahun 2016 sebesar Rp250 juta yang dibangun oleh Kumtua desa Wori. Pasalnya, talud sepanjang kurang lebih 150 meter tersebut diduga tidak sesuai bestek karena campurannya tidak sesuai serta ketinggian talud tak mampu menahan ombak air pasang.

“Kalau air pasang dan berombak, warga pinggir talud ini tetap kena dampak dari ombak. Bahkan proyek ini tidak menggunakan besi penahan serta kedalaman pondasi sangat rendah,” ungkap salah satu warga Wori, Merty Kondoy kepada wartawan belum lama ini.

Kondoy yang didampingi warga lain Yohanis Panggemona dan Yunus Mandiangan juga mempertanyakan proyek talud ini yang dinilai pembangunannya tidak ada musyawarah dengan masyarakat. Bahkan, dikatakan Kondoy jika proyek ini sudah menjadi temuan dari Inspektorat Minut sehingga Kumtua Wori mendapatkan TGR.

“Menariknya saat waktu acara lalu, Kumtua menyebutkan jika dirinya terpaksa mengeluarkan uang pribadi sebesar Rp20 juta untuk menambah membangun talud. Masa dapat TGR lantas mau menambah uang pribadi bangun talud? Lebih Menarik, material sisa dibagi-bagi kepada warga. Warga pun yang bekerja dibayar Rp100 ribu per hari tapi dipotong Rp40 ribu untuk disetor ke kas desa. Bahkan proyek ini tidak melibatkan Tim Pendamping Kegiatan (TPK),” katanya dibenarkan warga lainnya, Jamal Mandiangan.

.(wulan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *