Systemic Lupus Erythematosus

  • Whatsapp

dr Jeffrey A.Ongkowijaya, SpPD, K-R

Divisi Reumatologi KSM Ilmu Penyakit Dalam

RSUP Prof dr RD Kandou Manado

MAY IS LUPUS AWARENESS MONTH

Systemic lupus eryhtematosus, sering hanya disebut Lupus, adalah suatu penyakit autoimun yang dapat mengenai berbagai organ dalam tubuh; seperti sendi, kulit, ginjal, jantung, sistem saraf dan lain lain. Umumnya setiap pasien adalah unik; yang artinya penyakit ini tidak akan mengenai organ yang sama untuk setiap individu sehingga lupus disebut juga penyakit seribu wajah. Hal ini berarti setiap individu akan datang dengan berbagai macam keluhan dan gejala yang berbeda-beda satu dengan yang lain.

APA PENYEBAB LUPUS?

Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti dari lupus, tapi dunia kedokteran sudah menyadari bahwa lupus melibatkan gangguan sistem imun (kekebalan tubuh). Badan kita akan memanfaatkan sistem imun untuk melindungi diri dari kuman yang berbahaya. Tapi pada lupus, sistem imun ini akan overaktif dan menyerang  badan sendiri. Kondisi ini yang disebut dengan penyakit autoimun, dan Lupus adalah salah satu contohnya. Reaksi antara sistem imun  dengan organ tubuh akan menimbulkan proses inflamasi/radang sehingga akan terjadi kerusakan organ.

Lupus adalah penyakit yang berlangsung seumur hidup. Perjalanannya sering sulit diprediksi; adakalanya tenang (dikenal dengan istilah remisi) dan sering mengalami perburukan (disebut dengan flare). Jadi penting untuk mendapatkan perawatan yang adekuat/memadai untuk mengendalikan perjalanan penyakit ini. Odapus adalah istilah yang sering dipakai untuk seseorang yang menderita penyakit Lupus.

Perempuan lebih banyak yang mendapat penyakit ini dibandingkan laki-laki, dengan rasio bisa mencapai 9:1. Belum diketahui mengapa perempuan yang lebih banyak mengidap penyakit ini. Pada beberapa kasus bisa didapatkan riwayat keluarga yang menderita penyakit autoimun tapi lupus tidak akan diwariskan langsung kepada keturunannya. Lupus juga tidak mengenal batas usia yang terkena, dari bayi yang baru lahir sampai usia tua bisa mengalaminya. Tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk mencegah seseorang terkena Lupus tapi kita tidak akan pernah tertular/terjangkit penyakit ini dari orang lain.

Baca Juga:  Pelaku Cabul Anak Dibawah Umur Dibekuk

APA KELUHAN DAN GEJALA LUPUS?

Lupus sering sulit didiagnosis karena bisa muncul berbagai macam manifestasi dan bisa juga menyerupai penyakit lain. Manifestasinya bisa berupa kelainan kulit, nyeri sendi, gangguan ginjal, gangguan saraf/jiwa, gangguan darah dan lain-lain. Seseorang tidak akan mengalami seluruh gejala tersebut; umumnya hanya diperlukan 4 atau lebih gejala spesifik untuk menegakkan diagnosis Lupus. Seiring perjalanan waktu, gejala ini hilang dan muncul, bisa berubah dan sering mengalami periode ‘sembuh’ (remisi) dan kambuh (flare). Tingkat keparahan Lupus ditentukan oleh berapa banyak organ yang terlibat; semakin banyak organ yang terlibat akan menyebabkan prognosisnya lebih jelek.

Kulit adalah salah satu organ yang sering mengalami gangguan. Muncul ruam merah di wajah yang melintang dari pipi kiri ke kanan sehingga menyerupai gambaran kupu-kupu (ruam malar). Umumnya ruam ini tidak gatal atau nyeri. Bisa juga berupa ruam kulit berbentuk koin (lesi diskoid), berkerak dan agak menonjol. Gangguan kulit ini umumnya sensitif terhadap paparan sinar matahari (fotosensitif).

Sering juga disertai dengan sariawan, yang pada awalnya tidak nyeri sehingga tidak disadari. Sariawan ini akan sering berulang tanpa sebab yang jelas.

Keluhan nyeri sendi juga bisa dialami oleh pasien. Bisa berupa nyeri tanpa pembengkakan (atralgia) atau disertai inflamasi (artritis). Umumnya gangguan sendi ini tidak akan mengalami kecacatan.

Gangguan darah juga bisa terjadi pada pasien Lupus. Manifestasinya bisa berupa anemia hemolitik, leukopeni atau trombositopeni. Umumnya pasien akan mengeluh badan lemah, lesu dan pucat; mudah infeksi dan adanya lebam kulit.

Odapus juga bisa mengalami gangguan ginjal; umumnya berupa peradangan ginjal (nefritis). Sering gangguan ginjal yang terjadi tidak disadari pasien karena tidak ada keluhan yang muncul. Keluhan yang bisa berupa air seni berbusa, kaki bengkak dan naiknya tekanan darah. Kelainan yang bisa ditemukan adanya protein, sel darah merah dan sedimen abnormal yang menetap.

Lupus juga bisa mengenai sistem saraf dan gangguan kejiwaan. Kelainan saraf pada lupus sangat bervariasi, dari yang ringan hingga berat yang bisa mengancam jiwa. Termasuk didalamnya depresi, sakit kepala, kejang, pusing, gangguan penglihatan, stroke atau psikosis.

Baca Juga:  Kerjasama Sizzy Matindas Batik dan IWO Sulut Berhasil Sumbangkan 6.650 Cc Darah

Kelainan paru yang bisa terjadi pada odapus adalah nyeri dada dan sesak. Yang paling sering adalah pleuritis atau peradangan dari selaput pembungkus paru; bisa terjadi penimbunan cairan di rongga dada dan radang jaringan paru.

Jantung dan pembuluh darah bisa terlibat pada Lupus. Bisa terjadi peradangan selaput pembungkus jantung (perikarditis), otot jantung dan juga lapisan dalam jantung serta katub jantung. Pasien akan mengeluh nyeri dada yang sangat mirip dengan serangan jantung dan sesak napas. Radang pembuluh darah (vaskulitis) sering timbul di tangan dan kaki, berupa bintik kemerahan yang sangat bervariasi ukurannya.

Selain kelainan tersebut diatas, odapus juga sering mengalami keluhan sistemik umum seperti demam, kelelahan (fatique) dan kerontokan rambut yang berlebihan.

BAGAIMANA MENDIAGNOSIS LUPUS?       

Lupus sering sulit didiagnosis. Keluhan dan gejala yang muncul sangat bervariasi pada setiap orang dan sering juga didapatkan pada penyakit lain sehingga lupus sering disebut juga the great imitator. Diagnosis umumnya berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang seksama dan dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium yang memadai. Sampai saat ini tidak satu pemeriksaan laboratorium tunggal yang bisa memastikan seseorang menderita lupus atau tidak. Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan berpegang pada kriteria diagnosis yang ada. American College of Rheumatology telah membuat kriteria klasifikasi untuk lupus yang terdiri atas 11 macam kriteria dimana cukup diperlukan 4 kriteria untuk menetapkan diagnosis lupus.

Pada tahun 2012 telah ada kriteria baru yang bisa mendiagnosis lupus lebih dini.  Kriteria ini dinamakan Systemic Lupus International Collaborating Clinics (SLICC). Kriteria ini terdiri atas 2 kelompok kriteria yaitu kriteria klinis dan laboratorium. Kriteria klinis adalah 1. Kelainan kulit akut, 2. Kelainan kulit kronis, 3. Sariawan, 4. Rambut rontok, 5. Nyeri sendi minimal 2 sendi, 6. Serositis (gangguan jantung dan paru), 7. Gangguan ginjal, 8. Gangguan saraf dan jiwa, 9. Anemia hemolitik, 10. Lekopeni (jumlah lekosit < 1000/ml), 11. Trombositopeni (jumlah trombosit < 100.000/ml).  Kriteria laboratorium adalah ANA, anti dsDNA, anti Sm, komplemen C3 dan C4 yang rendah, uji Coomb dan tes antiphospholipid. Diagnosis bisa ditegakkan jika terdapat minimal 4 kriteria diatas (minimal tiap kelompok kriteria harus ada 1 yang positif) atau jika ada bukti biopsi ginjal sesuai dengan nefritis lupus cukup disertai ANA/anti dsDNA yang positif.

Baca Juga:  Persiapan Pendaftaran Parpol.KPU Kotamobagu Gelar Bimtek Sipol

KAPAN MENCURIGAI SESEORANG MENDERITA LUPUS?

Perhimpunan reumatologi Indonesia (IRA) telah mengeluarkan rekomendasi penatalaksanaan SLE. Pada rekomendasi itu disebutkan, jika seseorang mempunyai minimal 2 keluhan klinis tersebut diatas yang tidak jelas penyebabnya, maka yang bersangkutan harus ditelusuri kemungkinan menderita penyakit Lupus. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter yang berada di pusat layanan terdekat. Jika memang sangat dicurigai adanya lupus, maka akan dikonsultasikan ke fasilitas yang lebih lengkap.

BAGAIMANA PENGOBATAN UNTUK LUPUS?

Penatalaksanaan untuk lupus harus mencakup penanganan medikamentosa (obat) dan non medikamentosa. Setiap orang mempunyai keluhan berbeda seingga penatalaksanaan harus berdasarkan masalah yang  ada.

Penanganan non medikamentosa yang dianjurkan adalah pola hidup yang sehat dengan makanan bergizi dan olah raga yang cukup, hindari bahan pengawet makanan, hindari paparan matahari, atasi stress, hati-hati terhadap infeksi  disertai istirahat cukup.

 Obat untuk lupus cukup banyak jenisnya. Tanyalah dokter anda tentang pilihan obat yang ada. Diskusikan tentang pemakaiannya, efek samping dan risiko jika tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Seperti sebuah pisau yang manfaatnya tergantung pada penggunanya, begitu juga dengan obat-obatan yang dipakai. Tiap jenis obat ini mempunyai risiko efek samping sehingga diperlukan pemantauan berkala. Penanganan yang baik akan membuat odapus bisa hidup ‘normal’. Untuk kasus ringan cukup dengan obat kortikosteroid, anti malaria dan obat anti inflamasi nonsteroid. Pada kasus berat diperlukan imunosupresan dan agen biologik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *