Koordinatoriat Wartawan Parlemen Kecam Tindakan Kekerasan Protokoler Kementerian PUPR

  • Whatsapp

 

Jakarta, MN – Koordinatoriat wartawan parlemen mengecam aksi kekerasan yang dilakukan seorang protokoler kementerian PUPR terhadap jurnalis dari kantor berita politik RMOL, Bunaiya Fauzi Arubone. Serta mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas.

Ketua Koordinatoriat wartawan parlemen Romdony setiawan menegaskan kekerasan terhadap jurnalis yang tengah menjalankan tugas merupakan bentuk pelanggaran hukum. Karna sesuai dengan UU Pers No. 40 tahun 1999.

“Tugas dan tanggung jawab para jurnalis dilindungi dan dijamin oleh Undang-Undang Pers No 40 tahun 1999,” kata Romdony, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (31/5).

Oleh karennya, lanjutnya atas nama koordinatoriat wartawan Parlemen menyatakan sikap agar aparat kepolisian bersikap tegas untuk menindak siapapun yang telah mengancam dan melakukan tindak kekerasan kepada jurnalis yang sedang melaksanakan tugas.

Selain itu, dia mengingatkan rekan jurnalis untuk menjalankan tugasnya secara profesional, patuh pada kode etik, dan memilah sumber informasi yang dapat dipercaya, akurat serta berdampak positif bagi masyarakat banyak.

“Kekerasan terus menerus maka akan membahayakan hak informasi publik. Dimana informasi yang berimbang dan sehat akan terhambat sehingga merugikan publik,” katanya.

Baca Juga:  TP-PKK Sulut Gelar Pasar Murah Ramadhan, Warga Pun Berjubel

Sebelumnnya kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi. Kali ini, wartawan Kantor Berita Politik RMOL, Bunaiya Fauzi Arubone, diancam dan dicekik oleh seorang petugas protokoler Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kejadian berlangsung di Ruang Serbaguna lantai 17, Gedung Utama Kementerian PUPR, Rabu (31/5).
Saat itu, Menteri Basoeki Hadimoeljono hendak membagi-bagikan plakat di acara pengukuhan pengurus Badan Kejuruan Teknik Lingkungan Persatuan Insinyur Indonesia periode 2017-2020.
Berawal ketika Bunaiya mengaku hendak akan mengambil foto Menteri. Namun seorang petugas protokoler memintanya minggir karena hendak menaruh gelas. Ketika Bunaiya meminta izin untuk meminta foto, sayang malah makian yang didapat.

“Saya bilang sebentar bang belum dapat foto bagus. Tapi orang protokol PUPR itu bilang `monyet nih anak`,” aku Bunaiya.

Bunaiya yang tidak terima dihina kemudian menanyakan maksud orang tersebut. Tapi petugas protokoler itu malah mencekik sembari mendorongnya ke luar ruangan.

“Gue protokoler sini. Lu jangan macam-macam`, dia bilang gitu sambil cekik dan dorong saya keluar ruangan,” tandasnya.(djamzu)

Baca Juga:  Tak Kenal Lelah, Gubernur Olly Terus Salurkan Bantuan ke Warga Pesisir

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *