Kerukunan Agama di Sulut Jadikan Corong Toleransi Umat Beragama

  • Whatsapp

MANADO, MANADONEWS – Guna menjaga kerukanan antara umat beragama dan merawat nilai-nilai toleransi yang ada di Sulawesi Utara (Sulut). Maka, Asosiasi Konsultan Keuangan Mitra Bank (AKKMB) menyelenggarakan diskusi lintas tokoh agama, Senin (26/2).

Kegiatan yang mengangkat tema “Toleransi Dalam Kebhinekaan Sebagai Nilai Kerukunan Umat Beragama” itu diikuti sekira ratusan peserta itu menghadirkan tokoh lintas agama, mulai dari Muslim, Konghucu, Protestan diwakili KGPM dan GMIM, Hindu dan Yahudi. Tokoh agama kawakan pun dihadirkan sebagai pembicara, diantaranya Dr Taufik Pasiak mewakilih Muslim, Pdt DR Hendry Runtuwene S. Th M. Si selaku Sekertaris Umum Sinode GMIM dan juga tokoh Yahudi, Hindu.

Pdt Hendry Runtuwene mengatakan, nilai kerukunan antar umat beragama di Sulut telah diakui se Indonesia bahkan dunia internasional. Kata dia, hal ini bukanlah hanya klaim semata, banyak lembaga-lembaga kredibel yang telah turun langsung melakukan penilitian di Kota Manado dan sekitarnya.
“Ini menjadi kebanggan bersama masyarakat Sulut secara keseluruhan. Dimana semua suku dan agama saling mengasihi dan menyayangi dalam kehidupan sehari-hari. Dan menurut saya jarang akan mendapati daerah yang se toleran seperti Sulut yang kita cintai ini, ” kata Runtuwene.

Baca Juga:  ROR dan Istri Ibadah Minggu di GMIM Moria Rike

Akedimisi Muslim dr Taufik Pasiak mengungkapkan, bisa dibilang hanya di Sulut untuk menjadikan tolak ukur yang masyarakatnya sungguh menjunjung tinggi nilai toleransi.”Mungkin tidak akan ditemukan di daerah lain yang corak masyarakatnya se majemuk disini (Sulut,red),”ungkap dia.
Sementara itu Ketua AKKBM Roy Runtuwene menuturkan, acara diskusi ini memang sudah menjadi rancangan program pihaknya sejak beberapa waktu lalu. Kata dia, kegiatan seperti sangat positif untuk dilakukan, pasalnya Sulut telah menjadi barometer kerukunan di Indonesia. Sehingga perlu didorong agar masyarakat luas lebih mengetahui bahwa daerah ini sangat damai untuk ditinggal semua golongan masyarakat.

“Ke depan juga akan kita selenggarakan kegiatan seperti ini. Kali ini sasaran kita yakni lintas tokoh agama, berikutnya kita akan menargetkan kalangan pelajar hingga ke mahasiswa di kampus-kampus,” terang akademisi itu. (aso)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *