Scroll untuk baca artikel
Berita TerbaruBerita UtamaMinut

Tanpa Spanduk di Tengah Kepulan Asap SPAMU: Tim Damkar Oto Merah, Dengah dan Luntungan dalam Senyap Kebakaran di Minahasa Utara

109
×

Tanpa Spanduk di Tengah Kepulan Asap SPAMU: Tim Damkar Oto Merah, Dengah dan Luntungan dalam Senyap Kebakaran di Minahasa Utara

Sebarkan artikel ini

AIRMADIDI — Ketika aroma hangus menyengat hidung dan abu sisa pembakaran beterbangan di udara Minahasa Utara, gerak-gerik orang-orang di lokasi kebakaran sejatinya mudah dibaca. Ada yang datang membawa spanduk untuk sekadar melengkapi dokumentasi, namun ada pula yang memilih lebur bersama pekatnya asap tanpa atribut apa pun.

Di garda belakang selang pemadam yang berat dan panasnya kobaran api, dua wajah itu hampir tak pernah absen: Wiliam Luntungan—aktivis yang dikenal lugas—dan Joseph Dengah, sosok wakil rakyat di DPRD Minut.

MANTOS

Bukan sekadar berdiri memantau situasi, keduanya terekam kamera warga berjibaku langsung bersama petugas Damkar, personil TNI, dan Polri. Tangan mereka ikut memegang pipa semprot, bahu mereka ikut memikul selang, dan kaki mereka berdiri di atas tanah yang masih berasap untuk memastikan bara tak kembali berkobar menuju pemukiman warga.

Pemandangan ini terasa kontras dalam beberapa hari terakhir. Ketika area kebakaran mendadak ramai oleh kedatangan berbagai kelompok lengkap dengan atribut dan spanduk kampanye kepedulian, Wiliam dan Joseph justru memilih konsisten pada aksi fisik. Tanpa kamera khusus, tanpa gimik.

Aksi yang terus berulang dari hari ke hari ini mendulang rasa hormat dari warga lokal yang menyaksikan langsung perjuangan di lapangan.

“Salut untuk Pak Wiliam dan Pak Dewan Joseph. Dari awal api menyala sampai sekarang, dorang dua yang selalu ada di lokasi. Kerja nyata, bukan cuma datang foto,” ungkap Mario, warga setempat dengan nada apresiatif, Rabu (24/9/2026).

Menanggapi aksinya yang viral di media sosial, Wiliam Luntungan justru enggan jumawa. Ia memilih mengembalikan sorotan kepada para petugas teknis dan warga yang bahu-membahu sejak awal.

“Secara pribadi saya memuji SPAMU, TNI/Polri, masyarakat Kecamatan Airmadidi, dan semua yang sudah peduli. Baik yang turun langsung maupun yang membawakan konsumsi untuk tim di lapangan,” ujar Wiliam.

Bagi Wiliam, berada di tengah kobaran api bukan soal panggung kepedulian, melainkan panggilan nurani sebagai putra daerah. Rasa tanggung jawab moral sebagai warga Minut memaksa kakinya melangkah ke titik api setiap kali kepulan asap mulai meninggi.

Hingga berita ini diturunkan, kesiapsiagaan di lokasi belum diturunkan. Petugas gabungan bersama relawan sejati termasuk Wiliam dan Joseph masih terus melakukan penyisiran demi memastikan tidak ada lagi titik api yang tersembunyi di bawah tanah. (VM)

 

Yuk! baca berita menarik lainnya dari MANADO NEWS di GOOGLE NEWS dan Saluran WHATSAPP Tumeles.com - Topup Game, Pulsa & Belanja Kebutuhan Harian di Manado