Pemprov Sulut Optimis Catatkan Inflasi di Bawah 3 Persen pada Akhir Tahun 2019

SULUT,Manadonews.co.id-.Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara optimistis dapat mencatatkan angka inflasi di bawah 3 persen hingga akhir tahun 2019, sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebesar 3,51 persen.

Menurut Kepala Bagian Perekonomian Biro Ekonomi Pemprov Sulut Sonny Runtuwene meski inflasi tercatat meroket dalam dua bulan terakhir, dia tetap optimistis tingkat inflasi pada akhir tahun dapat dijaga sesuai target.

“Kami masih optimistis akhir tahun ini bisa capai di bawah 3 persen malah kalau untuk 2019, walaupun demikian kami targetkan inflasi Sulut sesuai dengan RPJM itu 3,5±1 persen, kami targetkan masih di bawah inflasi nasional memang,” ujar Runtuwene.

Pengendalian harga bawang, rica (cabai), dan tomat menjadi fokus dalam pengendalian inflasi di Provinsi Sulawesi Utara.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan berkoordinasi dengan lembaga lain untuk menjaga stok bahan pokok tersebut.

Dia menyatakan, optimisme menjaga inflasi itu juga berkat harga tiket pesawat yang diprediksi tidak akan mengalami kenaikan tinggi hingga akhir tahun.

Hal ini berbeda dengan kondisi tahun lalu di mana kenaikan harga tiket berkontribusi besar terhadap inflasi. Di satu sisi, tomat menjadi momok bagi inflasi Sulut dalam dua bulan terakhir. Kenaikan harganya yang signifikan membuat tingkat inflasi Sulut melambung setelah pada bulan sebelumnya beberapa kali tercatat deflasi.

Baca Juga:  Bupati JWS Turun Langsung Pantau Pilhut

Persoalan pola tanam dan distribusi tomat ditengarai menjadi kendala utamanya. Berdasarkan pantauan yang dilakukan, hasil produksi tomat banyak yang dikirimkan ke daerah lain.

Hal ini menjadi disinsentif bagi Sulut yang sebenarnya tercatat memiliki surplus produksi tomat.

“Dari Bolmong misalnya, ternyata setelah dipantau ternyata tomat ini ada yang ke Ternate dan ada yang ke Papua. Hal juga yang membuat harga melonjak, karena kalau hanya kebutuhan di Manado sebetulnya cukup,” ujarnya.

Namun disisi lain, faktor rantai pasok menjadi penyebab sulitnya pengendalian harga tomat. Pasalnya, dari petani hingga ke tangan konsumen komoditas itu sudah mengalami empat kali perubahan harga.

Perubahan terbesar terjadi pada tingkat pedagang pengecer. Kenaikan itu, lanjut dia disebabkan oleh kondisi para pengecer yang terjerat piutang kepada rentenir. Tingkat bunga yang tinggi membuat mereka membebankan biaya bunga itu kepada konsumen. Tingkat bunga bisa mencapai 10 persen sehari.

 “Mereka umumnya terjebak rentenir dan bunganya harian, sangat tinggi yakni Rp1 juta harus balik Rp1,1 juta dalam sehari, dengan10 persen sehari,” jelasnya.

Baca Juga:  Mokoginta Dampingi Gubernur pada Rembuk Daerah Pengelolaan Pariwisata Unggul Nusantara

“Kami sudah coba mengumpulkan para pedagang ini,”. Selain itu,   margin penjualan di pengecer juga disebabkan oleh biaya retribusi yang tinggi,”pungkas Runtuwene.
(Ben)

Tags:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *